Berbeda dengan hari-hari biasanya gedung kesenian di kampus ISI Surakarta kemarin malam (25/10/2013) ramai dipadati penonton. Bukan pertunjukan tari, musik, atau teater yang ditunggu antrian pengunjung di gedung yang mampu menampung 400-an penonton itu. Mereka yang hadir malam kemarin mengantri untuk menikmati penampilan kelompok pertunjukan seni asal Inggris Raya Gandini Juggling.
Pertunjukan yang menjadi bagian dari Art Summit Indonesia 2013 itu menghadirkan kelompok sirkus kontemporer yang beranggotakan sembilan orang. Kelompok bentukan tahun 1992 ini adalah kelompok yang terus berinofasi dan kembali meramaikan seni pertunjukan sirkus kontemporer dengan telah menggelar lebih dari 4.000 pertunjukan di berbagai negara di luar Inggris Raya. Karena itu, Gandini Juggling dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam hal itu.
Iming-iming tentang kebesaran nama kelompok ini pun tuntas terbayar ketika menyaksikan kurang lebih satu jam atraksi mereka. Dalam penampilanya di Kota Solo mereka membawakan karya berjudul “Smashed” yang mempertunjukan keahlian mereka bermain “sulap bola” atau ketangkasan dengan 40 buah apel serta empat set barang pecah belah.
Pertunjukan mereka awali dengan keluarnya sembilan penyaji yang berdandan sangat rapi, tujuh pria dan dua wanita. Peralatan yang mereka gunakan dalam pertunjukan adalah sembilan kursi kayu, buah apel, serta barang pecah belah.
Mereka mengawali semuanya dengan apel. Dimulai dari menunjukan keahlian bermain sulap bola dengan apel mereka memamerkan trik yang paling “mudah” hingga yang terlihat sangat kompleks. Atraksi memainkan sulap bola secara bersama di atas kursi adalah atraksi yang paling kompleks dan memikat perhatian penonton. Di situ mereka bersembilan tidak hanya unjuk kemapuan individu tetapi juga menunjukan keunggulan koordinasi dan akurasi yang memukau.
Meskipun tampak mudah di mata namun apa yang mereka tampilkan bersama mendapatkan perhatian besar dari penonton. “Yaaa… Yaaaa… Yaaaaa…,” teriak penonton mengiringi gerak tangan dan tubuh anggota Gandini Juggling tiap kali mereka melempar apel ke atas kepala mereka.
Iringan teriakan berganti tawa ketika kesembilan penampil juga membubuhi pertunjukan mereka dengan musik, tarian, dan sentuhan drama. Adegan-adegan percintaan hingga menikmati teh menjadi berbeda ketika mereka menyelipkan musik dan atraksi sulap bola di dalamnya. Pemandangan yang biasanya hanya penonton dapat saat mereka menyaksikan atraksi sulap di televisi.
Dari tawa respon penonton kemudian berubah menjadi teriakan ketika kesembilan penyaji mempertunjukan atraksi smash yang sebenarnya. Sambil beratraksi satu persatu apel mulai dikunyah atau dilempar dan diinjak hingga hancur. Teriakan penonton makin menjadi ketika piring, gelas, dan vas bunga ikut menjadi bagian dari alat sulap bola setelah apel. Satu persatu barang pecah belah itu pun mulai melayang di atas panggung hingga akhirnya dihancurkan dan mengakhiri keseluruhan pertunjukan.
Pertunjukan dari kelompok yang didirikan oleh Sean Gandini dan Kati Ylä-Hokkala ini dikonsep untuk menghadirkan hiburan dan juga kejutan. Tujuan akhir mereka adalah membuat penikmatnya tidak berhenti tertawa dan memikirkan penampilan mereka ketika keluar dari gedung pertunjukan. Dan dalam pertunjukan malam kemarin mereka kembali berhasil mewujudkannya.



Leave a Reply