Dalam pergelaran tari bertajuk Pray for My Study yang digelar di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), dua koreografer muda tampil mengisi pertunjukan yang berlangsung kurang lebih satu jam. Salah satu penyaji malam itu adalah Otniel Tasman bersama lima orang penari membawakan karya berjudul Looping Back (Indhang).
Karya tari Otniel yang dipertunjukan di Teater Arena, belum lama ini pernah juga ditampilkan dalam program rutin dua bulan sekali, Tidak Sekedar Tari (TST) edisi April 2013, di Pendopo Wisma Seni TBJT. Saat itu, mahasiswa tahap akhir ISI Surakarta angkatan 2008 ini membawakan karya tari berjudul Mantra, embrio karya Looping Back.
Saat itu, dirinya menggunakan komposisi penari, gerakan, dan juga musik yang kurang lebih sama dengan apa yang dibawakannya di Teater Arena. Lebih dari embrio, karya tari Looping Back (Indhang) yang juga mengisahkan mantra dan trance (kesurupan) dari para penari Lengger adalah penyempurnaan dari karya tari Mantra.
Masih dengan lima penari yang sama dan properti yang sama, Otniel masih menitik beratkan komposisi gerak naratif tentang proses kesurupan para penari Lengger. Dari pemantraan, kesurupan, dan juga lenggak lenggok mereka setelah indhang, roh halus, memasuki tubuh mereka.
Yang paling membedakan adalah durasi yang jauh lebih ringkas dan banyak gerakan pengulangan pada karya Mantra yang berkurang dalam karya Looping Back (Indhang). “Karena melalui tahap bimbingan dosen dan hasil obrolan TST kemarin saya coba aplikasikan dalam Mantra versi kedua ini,” jelas Otniel.
Pada Mantra, Otniel mendapatkan kritikan tentang karyanya yang terlalu “cerewet” atau padat. Selain itu, komposisinya juga dianggap terlalu banyak mengulang gerakan yang muncul dalam pementasan. Dan dalam penampilan Mantra versi dua Senin malam, Looping Back memang tampak tidak lagi “secerewet” dan sepadat Mantra versi pertama.
Adapun gerakan yang selalu muncul dari pertengahan hingga akhir komposisi adalah gerakan meloncat. Gerakan yang diakuinya terinspirasi dari tradisi Cowongan dari daerah Banyumas, daerah asal koreografer yang akan merampungkan jenjang pendidikan S1 itu. Gerakan ini pula yang menjadi batas dari adegan dalam karyanya. Batas antara sadar dan ketidak-sadaran penari Lengger.






