Mengusung Aksara Jawa Dalam Pertunjukan Tari, Aksara Tubuh - Javanese Alphabet in Dance Performance

Aksara Jawa atau alphabet Jawa bukanlah barang asing bagi kita. Aksara yang saat ini kita kenal adalah aksara yang sudah ada sejak abad 17. Aksara ini juga memiliki keunikan dari segi bentuk dan cara penulisannya. Jika kita perhatikan, menulis aksara-aksara ini tidaklah berbeda dengan melihat kaligrafi Arab. Dalam kaligrafi, tebal tipisnya garis, lengkung huruf, serta makna menjadi sebuah seni.

Lalu bagaimana jadinya jika seni yang biasa dinikmati lewat teks kemudian diusung ke atas panggung pertunjukan? Dalam wujud gerakan, koreografi yang terus disempurnakan dan dikembangkan oleh koreografer Boby Ari Setiawan ini coba disuguhkan ke hadapan penonton di Teater Arena pada Senin, 3 Desember 2012, malam. Aksara Tubuh adalah nama karya tari yang sebelumnya pernah dipentaskan oleh kelompok Independent Expression hingga ke Malaysia.

“Yang saya kerjakan adalah memvisualisasikan teks aksara Jawa ke dalam gerak tubuh,” inilah kurang lebih sebuah narasi yang dibawakan langsung oleh koreografer dalam pementasannya semalam. Lebih dari teks, karya tari Aksara Tubuh juga merupakan buah eksplorasi dari makna dan filosofi yang terkandung dalam tiap-tiap hurufnya. Setidaknya begitulah Boby menjelaskan konsep gerak karya tarinya dalam sebuah presentasi yang digelar pada bulan Oktober yang lalu.

Bersama lima orang penari lain Boby membawakan karyanya. Gerakan-gerakan yang ditampilkan begitu sarat dengan gerak lengkung yang divisualisasikan dengan tubuh, tangan, kaki, hingga kepala. Tubuh tidak hanya muncul sebagai media presentasi. Visualisasi juga disempurnakan dengan bantuan sorot projector, papan bergambar, musik, dan suara dari para penari sendiri.

Seluruh elemen di atas tampak begitu seimbang dan berhasil membius para pengunjung yang hadir. Selain mengejutkan mata penonton dengan gerakan eksplorasi aksara, kelompok tari ini juga menghadirkan suasana berbeda dalam gedung pertunjukan. Pengunjung yang biasa menghadap utara (letak panggung), diajak berbeda malam tadi dengan mengarah ke sisi barat kali ini.

Panggung sisi utara hilang. Panggung kemudian berganti dengan panggung datar yang berpadu dengan panggung berlevel yang tidak lain adalah tribun penonton sisi barat. Lampu disorotkan dari kedua sayap, kanan dan kiri bawah. Tak lupa, cahaya di tembok belakang atas selalu berganti, kadang gelap, kadang merah, kadang juga biru. Dari sayap kanan dan kiri lah para penari keluar masuk membawakan tarian. Ada yang di atas, tengah, juga bawah. Di sini, para penari terlihat seperti aksara-aksara Jawa yang dengan indah menari di atas kertas tulis bergaris. Mereka juga tampak seperti aksara Jawa yang dengan cantiknya dituliskan di atas kertas kosong.

Seluruh gerakan yang ditampilkan oleh para penari tentunya sudah dipelajari dan dihayati. Fasih dengan aksara-aksara ini tentunya sudah dilakukan. Dan dari seluruh gerakan yang disajikan oleh penari yang mengenakan kostum lurik semalam, semuanya berujung kepada upaya pengenalan teks warisan nenek moyang ini kepada masyarakat. Aksara ini dipandang sebagai sebuah kekayaan budaya tradisi. Dan mereka memaknai dan mengenalkannya dalam wujud gerak tubuh, dalam wujud teks yang menyatu dengan tubuh bersama makna dan filosofinya.

another content tab

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Speak Your Mind

*

Tweet