Menikmati Cerita Pendek Jawa Yang Dibacakan

Mbak Inong Maca Cerkak Jawa Balai Soedjatmoko

Perkembangan penulisan cerita pendek Jawa kembali mendapatkan apresiasi yang kali ini datang dalam bentuk panggung pembacaan cerita pendek. Balai Soedjatmoko Solo mengawali program baru maca cerkak (pembacaan cerita pendek Jawa) dengan pembacaan cerita Pasien Pungkasan dan Mantu pada Jum’at, 11 Oktober 2013, yang lalu dan direncakan akan secara rutin digelar setiap sekali dalam dua bulan.

Cerita pendek bahasa Jawa biasa ditemui dalam koran atau majalah cetak dan diterbitkan secara rutin. Hal-hal yang dikisahkan dalam cerkak biasanya tidak jauh dari kisah kehidupan sehari-hari yang termasuk di dalamnya seperti kisah percintaan, komedi, hingga misteri.

Bagi sebagian penikmatnya cerkak yang ditulis dengan bahasa Jawa terdengar jauh lebih akrab dan pas daripada cerita pendek. Menyangkut penggunaannya, bahasa Jawa akan lebih pas untuk menyampaikan istilah atau kondisi tertentu yang sangat khas menjadi ciri Jawa, misalnya dalam hal lelucon.

Keakraban dan kecocokan seperti yang dimaksudkan biasanya ditangkap melalui proses membaca cerkak. Namun, dalam pembacaan cerkak Balai Soedjatmoko penonton tidak hanya akan menemukan keakraban dan kecocokan itu. Lebih dari itu penonton disuguhi terjemahan bacaan cerkak tadi melalui gerak gerik, ekpresi si pembaca, hingga tata ruang. Di situ pula penonton menemukan cara lain menikmati cerita pendek Jawa.

Pada pembacaan pembukaan Jum’at malam kemarin ruang dalam Balai Soedjatmoko diatur sedemikian rupa hingga menyerupai panggung sebuah pertunjukan drama. Di sisi kanan tampak seperti ruang tamu dengan tatanan satu set meja dan kursi sementara di sisi sebaliknya tampak tatanan meja kerja. Dan kedua tata ruang itu digunakan sebagai setting lokasi dua judul cerkak yang dibawakan oleh Wahyu Widayati atau Mbak Inong Sahita (Pasien Pungkasan) dan berkolaborasi dengan Mas Ibnu Kodok (Mantu).

Pasien Pungkasan (Pasien Terakhir) karya Suparta Brata menjadi cerkak pertama yang dibacakan oleh Mbak Inong. Dalam cerkak ini dirinya adalah Marleni, perawat, orang pertama dalam cerita. Dalam cerita itu dirinya mengisahkan seorang wanita cantik bernama Uun yang mendatangi tempat kerjanya. Uun ternyata adalah wanita yang pernah menjalin hubungan dengan atasan Marleni yang kini telah beristri, dokter Hasnan.

Marleni sendiri adalah wanita yang dipenuhi rasa ingin tahu. Terlebih lagi dia menemukan gelagat mencurigakan saat menyaksikan pertemuan dokter Hasnan dengan Uun. Uun ternyata muncul untuk mengharapkan kembalinya dokter Hasnan kepadanya dan mau hidup dengannya di kota Priangan.

Mbak Inong yang membacakan cerkak sambil sesekali menggambarkan ekspresinya dengan gerak dan mimik membuat pembacaan itu terasa semakin lebih natural. Hal yang kadang harus dibayangkan pembaca dalam pikiran kini telah diperagakan oleh Mbak Inong.

Di sisi lain, proses pembacaan seperti ini, dengan tata ruang dan tata lampu, rentan dengan kesalahan baca atau kebosanan penonton saat pembaca lebih banyak terpaku kepada teks yang dibawanya. Tetapi sebagai seorang seniman yang sudah banyak pengalaman dalam hal panggung, Mbak Inong sadar benar akan hal-hal itu. Di situlah dirinya sering memunculkan polah-polah nakal yang melekat pada sosok wanita yang juga ada dalam sosok Marleni seperti suka menguping, bergosip, dan tak mau kalah. Dan bahkan, sesekali dia juga mengajak penonton untuk berinteraksi dengan cerita yang dibacakan.

Pembacaan judul cerkak kedua menyuguhkan tontonan berbeda saat Mbak Inong tidak tampil sendiri tetapi berkolaborasi dengan Mas Ibnu Kodok membacakan karya Mantu tulisan Impian Nophitasari. Selain cerita menarik Mantu tentang human trafficking berkedok pernikahan, hal menarik yang dapat ditemukan dalam pembacaan ini adalah bagaimana program ini mengangkat cerita yang ditulis oleh penulis lokal yang juga telah diterbitkan oleh media lokal beberapa bulan lalu.

Karena itu pantas juga jika program pembacaan cerkak ini disebut sebagai program apresiasi terhadap berkembangnya penulisan cerkak. Penulisan cerkak sendiri dikatakan sedang berkembang pada akhir-akhir tahun ini termasuk di kawasan Kota Solo. Pembacaan cerkak sendiri tentunya semakin menambah kantong kegiatan seni yang ada di Kota Solo. Di luar dari hal-hal itu, kembali lagi, maca cerkak menghadirkan cara lain menikmati cerita pendek Jawa.

Sponsored Links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>