Wasit sepakbola. Siapa yang tak kenal profesi “non-player” dalam dunia persepakbolaan Indonesia ini. Meskipun erat kaitannya dengan pemberitaan buruk selama ini, seperti soal kualitas keputusan yang diambil saat memimpin pertandingan dan tak jarang berakhir dengan kasus pemukulan, tugas mereka di lapangan hijau adalah salah satu penentu kualitas olah raga dengan sirkulasi uang terbesar itu.
Kejadian yang paling terbaru dan paling mengejutkan, tentu saja, kasus pemukulan wasit Muhaimin saat memimpin laga Indonesia Super League antara Pelita Bandung Raya melawan Persiwa Wamena. Bagaimana tidak, tindakan pemukulan yang dilakukan Pieter Rumaropen terhadap wasit tidak hanya berdampak pada pecah bibir atau empat jahitan dan kartu merah saja.
Komisi Disiplin bahkan menghukum Pieter dengan hukuman larangan bermain di Indonesia seumur hidup. Tidak berhenti di situ, tidak berselang lama media asing kemudian beramai-ramai memberitakan kasus pemukulan dan hukuman berat itu. Media besar seperti The Huffington Post UK, Mail Online - Daily Mail, hingga The Guardian ternyata tidak ingin melewatkan serunya sisi lain sepakbola Indonesia.
Meskipun pengurus PSSI sempat “menyombongkan” kualitas liga mereka sebagai yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Saat ini Indonesia menduduki peringkat 170 FIFA. Apakah itu dampak dari buruknya kualitas sumber daya dalam liga yang berujung pada jebloknya timnas? Kenapa ragu untuk menjawab “iya” selagi masih ada saja kejadian di luar “koridor” olahraga mewarnai sepakbola Indonesia.
Tetapi apakah mutlak semuanya salah pemain? Wasit? Atau sistem yang digunakan PSSI saat ini?
Siapa yang tidak gemas dengan beberapa kali kepemimpinan wasit sepakbola kita. Selain karena wasit utama tak jarang juga pertandingan sepakbola jadi makin tidak menarik ditonton karena hakim garis yang terlalu “ringan tangan” mengangkat bendera. Kadang juga penonton dibuat gemas dengan perilaku pemain yang “sok tahu” melakukan protes berlebihan dan tak jarang kalap padahal keputusan wasit sudah benar.
Namun, daripada meributkan masalah-masalah yang sudah jadi “ciri khas” sepakbola itu kenapa tidak saja berusaha menyelamatkan persepakbolaan Indonesia dengan cara terlibat langsung didalamnya. Termasuk menyelamatkan persepakbolaan Indonesia melalui bunyi tiupan peluit. Dengan menjadi wasit sepakbola tentunya.
Beberapa orang tak dipungkiri pasti ingin menjadi wasit sepakbola, saat gemas melihat kejadian-kejadian seperti di atas. Saat muncul prasangka, kenapa tidak bisa toh memimpin pertandingan seperti itu saja? Kok bisa pelanggaran seperti itu dihadiahi pinalti? Pelanggaran kayak gitu kok ga dikartu merah sih? Atau, masih segitu kok offside?
Berikut adalah tulisan dari Fajar Ikhsan Nugroho, S.Pd, seorang teman yang kini menjadi wasit Pengprov DI Yogyakarta. Tulisan dari Fajar mencoba menguraikan tugas wasit sepakbola dan tahapan menjadi wasit di Indonesia hingga syarat menjadi wasit sepakbola:
Masih ingat dengan kejadian pemukulan oleh pemain sepakbola dari tim Persiwa Wamena kepada wasit Muhaimin? Dalam pertandingan Indonesia Super League (ISL) antara tuan rumah Pelita Bandung Raya melawan Persiwa Wamena pada tanggal 21 April 2013.
Protes keras dilakukan para pemain Persiwa setelah wasit menunjuk titik putih, tanda hukuman pinalti dari wasit yang menganggap pemain Persiwa melakukan pelanggaran di daerah pinaltinya. Saat protes tersebut, salah seorang pemain Persiwa, Peter Romaroupen, memukul wasit dari belakang. Wasit Muhaimin mengalami pendarahan dan harus menerima empat jahitan dibibir. Akhirnya PSSI menghukum pemain tersebut dengan larangan bermain di Indonesia selama seumur hidup!
Begitu menyeramkankah bagi seorang wasit untuk bertugas di Indonesia? Sebenarnya apa sajakah tugas wasit, siapa saja yang bertugas dalam sebuah pertandingan, dan bagaimanakah pendidikan wasit Indonesia itu?
Perangkat pertandingan dan tugasnya
Dalam sebuah pertandingan resmi sepakbola, terdapat lima petugas perangkat pertandingan, yaitu Pengawas Pertandingan, Wasit, 2 Asisten Wasit dan Official Ke-empat (Wasit Cadangan). Pengawas Pertandingan bertugas secara administratif. Yaitu mengawasi, mencatat dan melaporkan segala kejadian selama pertandingan.
Wasit bertugas memimpin jalannya pertandingan dengan dibantu Asisten 1 dan Asisten 2 (hakim garis). Wasit berhak memulai dan mengakhiri sebuah permainan, dan keputusannya bersifat mutlak. Sedangkan tugas kedua asisten adalah membantu wasit untuk mengambil keputusan di daerah kedua Asisten.
Tahapan menjadi wasit sepakbola
Wasit dan Asisten Wasit dididik dan dilatih dalam sebuah kursus berjenjang. Jenjang pertama seorang wasit yaitu mengikuti kursus C3, yaitu lisensi yang harus diambil wasit pada tingkat dasar. Lisensi ini berlaku untuk memimpin pertandingan level kota atau kabupaten.
Yang berhak menyelenggarakan kursus ini yaitu PSSI Pengurus Cabang (Pengcab) suatu kota atau kabupaten. Kursus C3 berlangsung selama sekitar satu minggu, dengan materi teori dasar peraturan permainan sepakbola dan praktek dasar seorang wasit. Kursus diakhiri dengan tes kebugaran standar FIFA, dengan lari 6 x 40 meter dan 20 x 150 meter dalam waktu 30 detik per 150 meternya.
Syarat-syarat untuk mengikuti kursus itu, yaitu surat keterangan sehat, surat keterangan bebas buta warna, ijazah terakhir, pas foto dan surat rekomendasi dari sebuah klub sepakbola. Biayanya berkisar antara 1 – 1,5 juta rupiah, tergantung kebijakan pengcab kota/kabupaten yang menyelenggarakan. Akomodasi selama kursus sudah termasuk didalamnya.
Lisensi selanjutnya yang harus diambil Wasit setelah memiliki lisensi C3, yaitu kursus C2 (tingkat Provinsi). Kursus ini hanya boleh diselenggarakan oleh PSSI Tingkat Provinsi. Hampir sama dengan penyelenggaraan C3, Kursus C2 berlangsung selama sekitar satu minggu, dengan materi lebih kepada teori 17 peraturan permainan sepakbola dan penguasaan di lapangan. Kursus C2 juga diakhiri dengan tes kebugaran standar FIFA, dengan lari 6 x 40 meter dan 20 x 150 meter dalam waktu 30 detik per 150 meternya.
Adapun syarat-syarat untuk mengikuti Kursus C2 yaitu surat keterangan sehat, surat keterangan bebas buta warna, ijazah terakhir, pas foto dan surat rekomendasi dari Pengcab kota/kabupaten di mana wasit itu aktif, tidak lupa fotokopi lisensi C3. Biaya untuk mengikuti tahap ini berkisar antara 2,5 – 3 juta rupiah, tergantung pada kebijakan PSSI Provinsi yang menyelenggarakan. Akomodasi selama kursus sudah termasuk didalamnya.
Wasit yang dinyatakan lulus dan memegang lisensi C2 berhak untuk memimpin pertandingan sepakbola tingkat provinsi, seperti Porprov, Popda, Porda atau turnamen-turnamen resmi di tingkat provinsi di mana wasit tersebut aktif.
Setelah memegang lisensi C2, wasit yang ingin melanjutkan jenjang karir di tingkat nasional wajib mengambil lisensi C1, yang hanya diselenggarakan oleh PSSI Pusat. Kursus wasit tingkat nasional ini juga berlangsung sekitar satu minggu dengan materi peraturan permainan dalam Bahasa Inggris.
Yang membedakan penyelenggaraan kursus C1 ini dengan kursus sebelumnya adalah pada hari pertama dilaksanakan tes kebugaran standar FIFA terlebih dahulu, dengan lari 6 x 40 meter dan 20 x 150 meter dalam waktu 30 detik per 150 meternya. Baru kemudian dilanjutkan dengan teori. Biaya mengikuti kursus ini terhitung mahal, sekitar 8 juta rupiah. Akomodasi selama kursus sudah termasuk didalamnya.
Syarat-syarat untuk mengikuti kursus C1 yaitu surat rekomendasi dari PSSI Provinsi (Pengprov) di mana wasit tersebut aktif, surat keterangan sehat, surat keterangan bebas buta warna, ijazah terakhir, pas foto dan fotokopi lisensi C2. Wasit yang lulus kursus C1 berhak untuk memimpin pertandingan level nasional, seperti Liga Indonesia dan Liga Amatir, dan juga harus lulus dalam penyegaran wasit yang dilaksanakan sebelum kompetisi Liga Indonesia diputar.
Wasit yang memimpin Liga Indonesia level teratas seperti ISL, memperoleh bayaran 5 juta rupiah per pertandingan, belum termasuk akomodasi dan transportasi. Nilai yang cukup besar untuk sebuah tugas selama sekitar 90 menit di lapangan.
Bagi wasit yang masih berusia di bawah 30 tahun dan sudah memegang lisensi C1, berpeluang untuk mengikuti Kursus Wasit FIFA yang diselenggarakan oleh AFC di wilayah benua masing-masing. Sayang sekali hanya sedikit di antara wasit Indonesia yang sudah berlisensi FIFA.
Tugas sebagai seorang wasit tidaklah mudah. Menuntut konsentrasi penuh dan kecermatan dalam mengambil sebuah keputusan. Karena sebuah pertandingan yang enak ditonton juga dipengaruhi oleh kinerja seorang wasit.
Satu pesan untuk Komisi Wasit dan Komisi Disiplin PSSI, hukumlah pemain, pelatih, official atau penonton yang berbuat salah. Hukumlah perangkat pertandingan (Pengawas Pertandingan, Wasit, Asisten Wasit dan Official Ke-empat) sesuai dengan kesalahan yang sudah dilakukan.
Disiplin dan saling respek, akan menentukan lancarnya sebuah pertandingan.
Tertarikah anda menjadi seorang wasit setelah membaca tahapan dan jenjang karir wasit sepakbola Indonesia? Kenapa tidak jika sudah merasa “gatal” dengan kualitas yang ada. Satu langkah perbaikan harus ditempuh seseorang sebelum puluhan mungkin ratusan lainya mengikuti langkah itu akan menyelamatkan persepakbolaan Indoensia pastinya. Baik itu oleh perangkat pertandingan, pemain, penonton, dan tentu saja pengurus PSSI.
Hidup sepakbola Indonesia!


