Di kawasan Kota Solo ternyata tidak hanya berdiri museum yang didanai oleh pemerintah saja. Beberapa museum di Kota Solo ini justru berdiri dengan dana pribadi bahkan hingga “dana gotong royong” masyarakat. Selain “dana gotong royong”, bahkan keberadaan salah satu museum yang dimaksud adalah sebuah perjuangan kebudayaan dari sekelompok masyarakat di kawasan yang terkenal sebagai pusat industri batik.
Museum Samanhoedi atau Samanhudi, ejaan baru, adalah sebuah museum mini dengan koleksi “minim” salah satu tokoh besar perintis organisasi yang menjadi cikal bakal organisasi politik pertama di bumi nusantara, Kyai Haji Samanhudi (KH). Meskipun minim, museum yang pernah diremikan dua kali itu bisa dikatakan sebagai satu-satunya lokasi yang menyimpan beberapa artefak dan juga dokumen tentang KH Samanhudi.
Museum Samanhudi yang baru menempati sebuah ruangan kecil di kantor Kelurahan Sondakan, Laweyan. Lokasi ini menjadi lokasi ketiga dan baru diresmikan pada 18 Mei 2012 yang dikemas dalam sebuah festival budaya bertajuk “Napak Budaya Samanhoedi.”
Sebelum dipindah ke lokasi baru di Kelurahan Sondakan, benda-benda yang dipamerkan dalam museum sempat berada di rumah-rumah warga yang tinggal di Kelurahan Laweyan. Setelah masa kontrak gedung yang menjadi lokasi pertama Museum Samanhudi di kawasan kampung batik Laweyan telah habis, pengelola terpaksa menitipkan benda-benda koleksi museum yang kali pertama diresmikan pada tahun 2008 itu di rumah beberapa penduduk.
Koleksi berharga Museum Samanhudi
Seperti namanya, museum di Kelurahan Sondakan ini menyimpan beberapa artefak dan juga dokumen berupa teks tentang kehidupan KH Samanhudi yang memiliki nama kecil Sudarno Nadi. Peninggalan seperti kursi, perlengkapan membatik, lukisan, foto-foto, hingga beberapa teks ketika dirinya berjuang merintis dan mengembangkan Sarekat Dagang Islam (SDI) dapat ditemukan di dalam museum yang kurang lebih berukuran 4 x 7 meter itu.
Foto-foto bertema produksi batik mendominasi koleksi benda yang dipamerkan dalam ruangan itu. Hal itu tentunya tidak terlepas dari pengaruh kehidupan KH Samanhudi yang juga berdagang batik setelah melanjutkan usaha orang tuanya, H Ahmad Zein, yang merupakan seorang saudagar batik.
KH Samanhudi dikenal sebagai seorang pengusaha batik yang sukses dengan menggunakan prinsip dagang Islam. SDI yang menjadi organisasi rintisannya adalah organisasi massa bagi pedagang pribumi Muslim, khususnya batik, agar dapat bersaing dengan pedagang Tionghoa yang saat itu mendapatkan keuntungan dari kebijakan dagang yang dibuat oleh Belanda.
Dari SDI rintisannya itu perjuangan kemudian berkembang, begitu juga dengan organisasi rintisannya. Teks tentang sejarah perkembangan organisasi ini dapat ditemukan di Museum Samanhudi seperti dalam foto dan teks dari Raden Mas (RM) Tirto Adhi Suryo yang terpajang dalam ruangan museum.
RM Tirto Adhi Suryo adalah salah seorang pendiri cabang Sarekat Dagang Islam di luar Kota Surakarta. Dirinya juga lebih dikenal sebagai Bapak Pers Nasional yang juga mendirikan surat kabar Medan Prijaji, surat kabar yang dijalankan dan dimodali pribumi, sebagai alat perjuangan politik di masa itu.
Minimnya koleksi salah satu museum di Kota Solo ini memang diakui bahkan oleh pendiri museum sendiri, Krisnina Maharani A Tandjung. Dalam teks pernyataan yang juga dipajang dalam museum dirinya menyebutkan bahwa dirinya tidak merasa malu meskipun dengan berani menyebut koleksi minim itu sebagai sebuah museum. Harapan ke depan dari museum ini adalah sumbangan dokumen yang akan semakin memperlengkap koleksi museum ini kedepannya.
Museum yang jarang ditemui dalam beberapa daftar museum di Surakarta ini beralamat di Jln. KH Agus Salim 31 atau kantor Kelurahan Sondakan dengan nomer telepon 0271 - 718 773.
Temukan lokasi museum lainnya di Kota Surakarta dan eks-Karesidenan Surakarta pada tautan berikut ini!


