Nama pematung Untung Murdiyanto (65) mungkin tidak lah akrab ditelinga khalayak ramai. Padahal salah satu karya seniman yang baru saja memasuki masa pensiun sebagai staf pengajar khususnya di Jurusan Seni Rupa Murni UNS Surakarta itu telah menghiasi Kota Solo selama berpuluh-puluh tahun. Patung “Pemuda” membawa obor, berbahan semen dan pasir, di Bundaran Manahan adalah salah satu buah pemikirannya pada tahun 1986.
Menekuni dunia seni sejak duduk di bangku kuliah, STSRI Yogjakarta (sekarang ISI Yogyakarta), Untung sudah dikenal sebagai pematung yang senang bermain dengan material yang jarang dilirik oleh pematung lainnya. Selain senang bermain dengan material tersebut, batu hijau dan Glugu atau kayu kelapa, Untung juga dikenal dengan banyak karyanya yang berbentuk “ring” atau lingkaran.
Oleh rekan sesama seniman, karya-karya Untung dikenal dengan ciri kesempurnaan teknik dalam karyanya yang menuntut konsentrasi dan ketekunan. Hal itu dapat ditemukan dalam beberapa karyanya yang dipahat dari material batu hijau yang terkenal sangat keras. Kesan halus hasil kerja kerasnya muncul dari material padat batu hijau yang terkenal sangat keras seperti terlihat dalam karya “Gadis”, “Kepadatan Melingkar”, “Dialog”, atau “Ring”.
Teknik pengerjaan lainnya yang juga sangat menarik dapat dilihat dari karyanya yang berjudul “Spiral” dan “Ring Lima” yang terbuat dari material Glugu. “Ring Lima” berupa lima buah lingkaran yang saling terhubung dan “Spiral” yang berupa spiral berdiri tanpa sambungan sama-sama terbuat dari batang kayu Glugu mengesankan fokus dan konsentrasi dalam pengerjaan.
Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Soewardi, staf pengajar Jurusan Seni Murni ISI Yogyakarta dan rekan Untung sejak kuliah, dalam katalog pameran, “Secara teknispun dapat dibayangkan (karya-karya Untung) sebagai pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan fokus.”
Tidak semua karya Untung Murdiyanto yang berbentuk patung dipamerkan dalam pameran “Trimatra Dimensi Artistik”. Beberapa diantaranya adalah wujud dokumentasi foto dari karya yang pernah dibuatnya dan kini menjadi koleksi beberapa insitusi atau perorangan atau kini tidak diketahui keberadaanya.
Selain karya yang terbuat dari batu hijau dan Glugu beberapa karya lain yang berbahan kayu Jati, marmer, granit, besi, perunggu, serta beberapa lukisan dapat dijumpai dalam ruang galeri. Pameran tunggal patung “Trimatra Dimensi Artistik” pematung Untung Murdiyanto sendiri digelar di Galeri Seni Rupa Murni UNS Surakarta mulai 2 Oktober hingga 5 Oktober 2013. Pameran patung ini dapat dikunjungi dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore.



Leave a Reply