Empat penari perempuan dengan serentak muncul di depan dinding bercahaya merah yang menampilkan simbol-simbol kewanitaan. Dari simbol yang menggambarkan urusan rumah tangga seperti sayuran hingga jepit jemuran, simbol gaya hidup seperti sepatu berhak, gaun, hingga permata, simbol kelembutan seperti bunga dan cokelat, dan di antara simbol-simbol tadi adalah simbol kehidupan berkeluarga tepat ditengahnya. Keempat tubuh indah penari tersebut muncul sebagai siluet di depan cahaya merah terang dari dinding bersimbol ini. Terkadang mereka bergerak menoleh ke kanan, kadang ke kiri.
Pemandangan kemudian berubah saat cahaya dinding meredup dan cahaya lampu dijatuhkan ke depan muka ke empat penari. Rupa ke empat perempuan itu pun seketika tampak dan kemudian gerakan pun mereka ubah. Kali ini mereka kadang membungkuk dan ketika bangkit memunculkan ekspresi muka yang berbeda-beda dan semakin cepat. Kadang tersenyum lebar, kadang membuka mulut lebar seperti terkejut, dan terkadang mengerutkan muka entah menghindari memandang sesuatu atau menahan sakit.
Mereka kemudian masuk ke belakang panggung meninggalkan dinding yang sekarang berubah warna. Musik terus mengiringi. Sekarang cahaya di dinding belakang berubah hijau dan simbol lain muncul di depan simbol-simbol tadi. Simbol sangkar burung sekarang memenuhi dinding dari sudut kanan hingga sudut kiri. Begitu cahaya kembali dijatuhkan ke muka para penari, pemandangan berbeda kembali muncul ketika kostum yang mereka kenakan telah berganti dari kostum kasual sekarang mereka mengenakan gaun terang berwarna oranye.
Satu persatu mereka masuk dalam empat kotak berwarna seragam dengan kostum mereka. Masing-masing mereka bergerak berbeda-beda. Ada yang menimang bayi, ada yang bergerak bebas dengan tetap berada dalam kotak itu di bawah sorot lampu. Mereka lalu menyatu membentuk gerakan seirama berpindah dari kotak satu ke kotak lainnya. Begitu seirama dari gerakan hingga wujud mereka.
Gerakan ke empat perempuan ini pun ditutup dengan kemunculan sosok wanita yang membawa kursi dan buku catatan di bagian belakang. Sosok perempuan itu pun kemudian duduk di belakang sambil mencatat dengan diterangi cahaya, sementara ke empat penari bergerak di bagian depan panggung. Ke empat perempuan tadi bergerak dan muncul seperti pikiran dalam kepala dari sosok perempuan yang duduk di belakang yang tak lain adalah sang koreografer Dwi Windarti. Tak lama kemudian ia pun ikut bergerak di belakang, sementara itu para penari didepan telah berdiri kaku dan kembali muncul sebagai siluet saat cahaya depan panggung dihilangkan. Bagian ini pun muncul sebagai akhir dari pertunjukan sebelum ke lima perempuan di atas panggung sesaat kemudian memberikan salam kepada para penonton.
Pentas tari Women On hasil koreografi Dwi Windarti malam tadi (16/11/2012) dipentaskan di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Koreografi ini merupakan inspirasi dari pengalaman pribadi yang dialami sendiri oleh Dwi Windarti tamatan ISI Surakarta tahun 2008. Koreografi berjudul Women On ini adalah karya kontemporer yang mengangkat problematika perempuan, terutama yang dirasakannya sebagai pekerja seni. Sebagai seorang pekerja seni, seorang wanita harus bertanggung jawab pada sisi lain kehidupannya termasuk keluarga. Tari kontemporer ini dia gambarkan sebagai usaha perempuan untuk membagi cinta, baik pada keluarga dan juga profesinya sebagai pekerja seni.
Dalam mencipta karyanya, Dwi Windarti dikenal aktif mencari bentuk baru dari pertunjukan termasuk menggabungkan gerakan tubuh dengan grafis dan warna yang begitu bermainkan dan digabungkan dengan efek pencahayaan serta iringan musik. Seluruh elemen tadi secara rapi dikemas dalam kesatuan pertunjukan yang disajikan ke hadapan pengunjung yang tidak terlalu banyak memenuhi arena pertunjukan. Hujan sedari sore hari dan belum berhenti hingga pertunjukan berakhir tampaknya sangat berpengaruh terhadap animo pengunjung malam tadi.
Pementasan karya Dwi Windarti malam tadi merupakan buah prestasi yang diraihnya dari program yang diadakan oleh Yayasan Kelola yaitu program Empowering Women Artists (EWA). Dwi Windarti adalah salah satu dari delapan seniman seni pertunjukan peraih EWA. Karena itu, dia berkesempatan menampilkan karyanya dengan dukungan dari Yayasan Kelola. Program EWA sendiri adalah program yayasan yang memberikan peluang lebih bagi seniman perempuan untuk berkarya. EWA terwujud setelah yayasan melihat besaran seniman perempuan yang meraih hibah penciptaan karya hanya seperempat dari hibah yang diterima baik seniman perempuan atau pria.
Women On adalah Women’s Life atau Kehidupan Perempuan. Bagi anda yang berhalangan datang karena hujan pada malam pertama pertunjukan. Pentas kedua masih akan digelar malam nanti 17 November 2012 bertempat di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, berlangsung dari jam 19.30 dan berdurasi kurang dari satu jam. Untuk tiket masuk dapat dibeli di lokasi pertunjukan dengan harga Rp 15.000. Selamat menikmati.





trimakasih banyak …:)