Prahara Cinta Dan Keluarga Di Bumi Jatisrono

Sebuah pementasan ketoprak naskah karya Bondan Nusantara semalam (07/02/2013) digelar di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, oleh Komunitas Seniman Remaja Surakarta. Naskah yang dipilih kelompok ini berjudul Pedhut Jatisrono atau Kabut Jatisrono.

Sebelum pementasan ketoprak dimulai, anggota pesinden dari kelompok ini terlebih dahulu membuka acara dengan menampilkan kebolehan bernyanyi acapella dan bermain parikan (pantun). Barulah setelah penonton diajak tertawa mendengarkan parikan, mereka kemudian disuguhi tontonan dengan cerita yang tegas namun dalam tentang prahara di suatu tempat bernama Jatisrono.

Banendro adalah seorang pemuda yang pulang ke kampung halaman, Jatisrono, setelah ikut berperang bersama Pangeran Sambernyowo. Bermaksud menyambung kangen dengan Ibunda, dirinya juga ingin meminang kekasihnya. Tetapi di saat kepulangannya itu juga dia menemukan bahwa sang kekasih telah bersuami. Suami kekasihnya tak lain adalah kakak kandungnya sendiri, inilah prahara pertama yang ada dalam lakon Pedhut Jatisrono.

Prahara lainnya muncul ketika Banendro yang pulang menemukan kondisi kampung halaman yang tidak lagi sama. Jatisrono telah berubah menjadi wilayah menakutkan karena ada gerombolan rampok yang mengganggu ketenangan desa.

Prahara terakhir yang muncul adalah prahara keluarga yang muncul di tengah dua kekisruhan tadi. Amarah Banendro semakin menjadi karena orang yang datang mengaku sebagai ayahnya muncul dihadapannya mengemis belas ampunan. Terang saja, dia tidak bisa menerima kedatangan ayahnya yang telah menelantarkan dirinya, kakak, dan ibunya. Bahkan, ibunya harus menderita kebutaan akibat perlakuan ayahnya yang buta kekuasaan.

Adegan pertarungan menjadi suguhan panas penonton yang hadir di gedung pertunjukan. Beberapa adegan keras ditampilkan dengan apik seperti menampar, meludah, bahkan beberapa adegan memukul dan menandang hingga membuat penonton tidak bisa menahan rasa kaget mereka.

Meskipun keras dan penuh prahara, kisah prahara di bumi Jatisrono ditutup dengan bahagia setelah Banendro mampu mengalahkan para rampok, menerima kedatangan bapak dan saudara tirinya, serta mengikhlaskan kekasihnya yang kini menjadi kakak iparnya.

Sambutan positif diberikan oleh para penonton yang hadir semalam. Ada yang sangat menyukai jalan cerita pementasan yang disutradarai oleh Panggah Rmh ini dan ada juga yang mengapresiasi keberanian karakternya dalam beradegan bertarung. Tetapi, ada juga yang terkejut setelah mendapati cerita yang serius dan dalam karena mereka mengira ketoprak ini akan menyuguhkan cerita lucu.

Wajar juga jika mengira kethoprak Pedhut Jatisrono akan berjalan lucu. Hal ini tak lain karena kemunculan Doel Sumbing dan rekan-rekannya dalam dalam sesi goro-goro. Kemunculan mereka semalam dengan guyonan khasnya membuat seisi gedung tertawa terbahak-bahak. Mereka memberikan prahara lain yang tidak diperhitungkan sutradara.

Sponsored Links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>