Pralambang Dan Jeng Menul Di Hari Kedua Bikin Bikin XVII

Seperti yang dijadwalkan, pentas repertoar empat naskah Bikin Bikin XVII oleh Teater Sopo hari kedua kembali digelar di Aula Gedung FISIP UNS malam tadi (26/09/2012). Seperti malam sebelumnya, pementasan hari kedua ini dimulai tepat pukul 20.00 dengan mementaskan dua naskah berjudul “Pralambang” karya Winanrno Budi Saputro dan “Jeng Menul” naskah karya Puthut Buchori. Penonton kembali memenuhi aula seperti pada pementasan pertama dimana naskah “Ndaut” karya Kang Awan dan naskah “Dialog Malam” karya Bagus MP menjadi pembuka gelaran Bikin Bikin XVII.

Teater Sopo yang merupakan kelompok teater FISIP UNS dalam kesempatan kedua ini membuka malam pertunjukan dengan menyuguhkan naskah monolog “Pralambang” yang disutradarai oleh sang penulis naskah sendiri yaitu Winarno Budi Saputro. Naskah monolog berbahasa Jawa ini adalah naskah karya Winarno yang diadaptasi dari cerpen karya Ardini Pangastuti. “Pralambang” adalah kata dari Bahasa Jawa yang berarti “perlambang” atau “pertanda”.

Konsep realis coba disuguhkan pada para penonton yang hadir dalam Aula FISIP UNS malam tadi. Lokasi yang dibawa ke atas panggung adalah ruangan dalam rumah dengan dua bagian yaitu di sisi kanan adalah ruang tamu dengan kursi meja dan jendela terbuka di depannya sementara di sebelah kiri adalah kamar tidur lengkap dengan gantungan baju. Seorang kakek renta bernama Sumardi adalah tokoh yang hidup di dalam rumah itu seorang diri. Sumardi hidup dalam rumah yang dimunculkan dengan suasana sepi, suasana yang terbangun dari warna terang dan biru redup.

Suasana sepi makin terbangun saat ruangan yang dimunculkan kosong kemudian disusul oleh narasi yang dibawakan dengan iringan suara gemericik gerimis dan efek kilatan petir. Beberapa saat kemudian sang tokoh utama pun muncul dan mulai memainkan perannya. Celana hitam dan baju lurik dikenakannya sembari menuntun sepeda tua masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Wajah tua keriput dengan rambut putih uban seakan lengkap dengan bungkuknya.

Naskah “Pralambang” sendiri mengisahkan bagaimana Sumardi hidup menyendiri karena sang istri telah lama meninggal. Sementara anak-anak Sumardi telah tumbuh dewasa dan berkeluarga dan tinggal terpisah darinya. Dalam kesepian yang dijalaninya Sumardi mencoba memahami makna kehidupan yang telah lama dia jalani. Dirinya yang telah hidup dari masa ke masa, dari generasi muda yang menua hingga generasi muda yang menua, merasa jaman sungguh berubah dan berbeda.

Cerita ini sendiri sebenarnya menyampaikan kisah yang jauh lebih luas dari hidup tokoh utama sendiri. Meski dalam monolog ini Sumardi membangun cerita tentang kehidupan pribadi dan bagaimana dia menjalani kehidupannya pada penonton, monolog yang dibawakannya lebih dari itu juga membawakan kisah bagaimana lingkungan yang ditinggalinya sudah berubah dan termasuk manusia-manusia yang hidup didalamnya berikut nilai-nilai moral yang berkembang.

Rasa kangen yang mendalam pada istri mendorongnya jauh lebih dalam kesepian hingga dia merasa tidak kuat menjalani hidup. Perasaan itu makin besar ketika Sumardi merasa bahwa nilai hidup juga sudah berubah di mana manusia tidak lagi memakai ajaran-ajaran lama, di mana manusia hanya mengejar rasa puas tanpa memikirkan hal lainnya. Kenyataan seperti lahan pertanian luas yang kini berubah menjadi lahan industri dan perumahan tanpa memikirkan tata kelola dimaknainya sebagai sebuah kemunduran karena hal itu justru menghilangkan sumber air. Nilai-nilai lain yang ditangkapnya adalah nilai moral yang sudah luntur.

“Emang olak-alike jaman ora jelas, endi becik endi olo, endi menungso endi kewan.”

Naskah monolog ini memang lebih bisa dinikmati pengunjung karena ditulis dan disajikan dengan menggunakan Bahasa Jawa. Terbukti sambutan meriah pengunjung langsung menyeruak begitu lampu panggung dimatikan. Sesaat setelah rehat dari pementasan naskah pertama kemudian naskah “Jeng Menul” dari Puthut Buchori yang disutradarai oleh Noviana Rahmawati dipentaskan. “Jeng Menul” sendiri adalah naskah drama komedi yang menceritakan seorang wanita penjual bubur yang mencoba menghidupi ibu dan adik-adiknya.

Sponsored Links

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Trackbacks

Speak Your Mind

*

Tweet