Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak, Ritual Tradisi

Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak Sukoharjo

Aroma wangi dupa dari dalam bangsal di mana makam Ki Ageng Balak dan dua orang kepercayaannya, Tumenggung Simbar Rejo dan Simbar Joyo, berada tercium hingga pintu masuk bangunan utama kompleks pemakaman Ki Ageng Balak di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Aroma khasnya menuntun langkah peziarah melintasi ruang pendapa menuju bangsal hingga menjumpai makam dengan bentuk persegi panjang yang bersusun tiga dan terbuat dari kayu.

Di pendapa di luar bangsal beberapa perlengkapan ritual tampak telah dipersiapkan. Berbagai sajian khas ritual Jawa seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, dan bunga mawar bercampur dengan sejumlah peziarah yang duduk memenuhi sebagian pendapa. Sementara tepat di depan bangsal gunungan hasil bumi dan nasi serta dua potong kain penutup makam diletakan bersebelahan. Bagi peziarah, gunungan dan kain tadi adalah simbol keselamatan, kesejahteraan, dan kemakmuran yang harus diperjuangkan dan didapatkan.

Pemandangan ini sangatlah langka, karena kain penutup makam hanya dibuka satu kali dalam satu tahun yaitu pada hari Minggu terakhir di bulan Sura (Muharram – Islam) seperti pada hari Minggu kemarin (01/12/2013). Ritual tradisi suran (dilangsungkan setiap bulan Sura - Jawa) ini dinamai “pulung langse” yang berarti “ganti kelambu”.

Ritual Tradisi Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak

Ritual tradisi Pulung Langse digelar untuk membersihkan makam sekaligus mencuci dan mengganti kain penutup makam Ki Ageng Balak atau juga yang dikenal Raden Sujono yang dipercaya sebagai keturunan Raja Brawijaya, Majapahit. Dalam puncak prosesi ritual ratusan peziarah yang hadir akan memperebutkan (rayahan – Jawa) gunungan berupa hasil bumi dan nasi dan juga membeli sehelai kain bekas penutup makam.

Dalam prosesi tersebut tradisi rayahan menjadi puncak dari keseluruhan acara. Peziarah akan saling berebut mendapatkan hasil bumi yang terdiri dari singkong, kacang panjang, nasi, beras, buah-buahan, wortel, terong dan bahkan kayu rangka dari gunungan. Prosesi inilah yang kerab disebut sebagai ritual “ngalab berkah” atau prosesi mencari berkah. Adapula tradisi berebut sering disimbolkan sebagai persaingan dalam mencapai tujuan hidup.

Tradisi Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak Sukoharjo

Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak Bendosari

Sementara untuk mendapatkan sehelai kain bekas penutup makam peziarah harus membelinya di loket pemakaman selepas acara. Sehelai kain dihargai Rp 10 ribu atau lebih tergantung dari kebaikan hati peziarah. Beberapa peziarah mengaku memanfaatkan kain tersebut sebagai pegangan agar terhindar dari hal buruk dan dekat dengan rejeki.

Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak Mertan

Sebelum diperebutkan gunungan itu terlebih dahulu dikirab mengelilingi bangunan utama lokasi makam Ki Ageng Balak. Seorang cucuk lampah atau pengantar wanita memimpin di depan rombongan kirab sementara di belakangnya mengikuti seorang lelaki gagah yang digambarkan sebagai sosok Raden Sujono serta kain penutup, pusaka dan gunungan. Masih dalam satu rangkaian kegiatan ritual tradisi Pulung Langse, pengelola makam juga menggelar berbagai hiburan berupa pertunjukan seni seperti tari-tarian, jaran kepang, hingga wayang kulit yang seluruh dananya didapatkan dari sumbangan peziarah.

Ritual tradisi yang telah berjalan turun menurun lintas generasi ini selalu ramai dipadati ratusan peziarah. Mereka bahkan tidak hanya datang dari kawasan Solo Raya saja. Beberapa dari mereka mengaku datang dari Semarang bahkan ada juga yang mengaku berasal dari Indramayu dan Bengkulu. Penyelenggaraan ritual ini sendiri erat dikaitkan dengan ajaran yang diturunkan oleh Ki Ageng Balak yang mengajarkan agar warga hidup berbagi terhadap sesama terutama yang membutuhkan.

Makam Ki Ageng Balak Mertan Bendosari Sukoharjo

Antusiasme peziarah seperti yang terlihat dalam tradisi rayahan gunungan semoga juga dapat dilakoni sebagai antusiasme peziarah terhadap ajaran kebaikan Ki Ageng Balak. Antusiasme itu tidak hanya dapat ditangkap dari pemandangan saat mereka saling sikut dalam berebut gunungan. Raut-raut wajah bahagia dapat saya amati muncul dari tiap peziarah yang berjalan keluar pemakaman sembari membawa hasil ngalab berkah siang itu.

Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak Sukoharjo

Pulung Langse, Cleanses the Balak Saint’s Tomb

The strong scent of burning incenses came across the ward of the main building in the cemetery of Ki Ageng (saint) Balak in Mertan, Sukoharjo, Central Java. These scent led pilgrims to come across the room to visit a unique uncovered three-leveled wooden tomb which people believed to be the saint burial place.

In pendapa, a square large pavilion-like structure, just outside the ward sets of ritual needs were already prepared by the kuncen, tomb keepers. Those needs covered many offerings like gunungan (giant cone-shaped offerings), nasi tumpeng (cone-shaped rice dish), ingkung (whole chicken simmered in traditional ingredients), and flowers arrangements, they were all mixed up with pilgrims which sat and crowded half space of the pendapa. For pilgrims those offerings symbolized safety, fortune, and prosperity which must be obtained.

This was a rare sight to be witnessed in the cemetery. The saint uncovered tomb could only be seen once in a year, precisely, every last Sunday of Sura (first month of Javanese lunar calendar), the right moment where the langse, covering clothes of the tomb, was taken off to be washed and pulung or changed. Fortunately, last Sunday (01/12/2013) was the big day where hundred pilgrims came to see that ritual.

Ritual Tradisi Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak

The ritual tradition of Pulung Langse was observed in order to wash and change the covering clothes of the saint’s tomb. The saint Balak, also known as Raden Sujana, was believed to be one of the descendants of Brawijaya, the last king of Hindu – Buddha kingdom Majapahit. The feast of the ritual was marked with hundreds of pilgrims crowded and fought to get the share of gunungan parts that consist of harvest and rice. And at the end of the observance they also bought a piece of cloth taken from the old tomb covering clothes.

The fought and scrambled procession called as rayahan. This procession also known as the ngalab berkah tradition or obtain fortune. This tradition symbolized the competition of life; the one who make effort will be the surviving one. While for the piece of the old tomb clothes, pilgrims could buy it for Rp 10.000 (a dollar US). Some pilgrims thought that the piece of old cloth has a mystical power to call protection or fortune.

Tradisi Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak Sukoharjo

Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak Bendosari

Before the gunungan was being contested, it was taken on a parade ritual first by circling the tomb of the saint. The gunungan, old pieces of tomb clothes, and a spear were paraded first. A woman led the parade, while a traditional-costumed gentleman walked behind her pretend to be the saint Balak. Once after circled the tomb, all of the offerings allowed to be contested.

Pulung Langse Makam Ki Ageng Balak Mertan

The Pulung Langse ritual has been observed for generations and always crowded with pilgrims. They came not only from the nearest area but also from distant like West Java or Southwest Sumatra. The observance itself related to the saint teaching which says that one should care others especially cripples.

Makam Ki Ageng Balak Mertan Bendosari Sukoharjo

At the end, hopefully, the sight of enthusiasm in the rayahan procession could be also understood as the enthusiasm toward the saint teaching. Their enthusiasm not only could be seen from their venture to get share of the offerings. At the end of the day, I could see their happy faces which arose after they get shares of fortune from the saint Balak cemetery.

Sponsored Links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>