Sunan Bayat atau juga Sunan Pandanaran adalah sosok besar dalam sejarah penyebaran agama Islam terutama di kawasan Jawa Tengah. Sosok yang hidup di masa yang sama dengan Wali Sanga ini berjuang selama 25 tahun untuk menyebarkan agama bersama sahabat dan pengikutnya dari kawasan Bayat, Klaten.
Di Bayat pula Sunan dimakamkan dan di sana pula kemudian sebuah kompleks pemakaman megah dibangun untuk mengenang jasa-jasanya. Sosok besar nyaris tidak pernah luput dengan cerita-cerita besar yang muncul selama hidup mereka, termasuk di diri Sunan Pandanaran, baik selama dia hidup bahkan setelah wafatnya.
Dari masa dia masih menjabat status sosial keduniawian hingga saat pencerahan, dari saat dia memilih jalan Islam hingga dia meninggal dunia, tidak pernah sosok besarnya lepas dari cerita-cerita kebesaran. Baik cerita “kedewaan” hingga cerita kebijaksanaannya sebagai seorang manusia telah berkembang dan diceritakan turun temurun hingga saat ini.
Dalam edisi pertama Ragam cerita Sunan Pandanaran kali ini akan diceritakan tentang Sunan Bayat yang masih menjabat sebagai Adipati Pandanaran, bupati Semarang, di saat sedang terjadi transisi dari kerajaan Hindu Buddha Majapahit ke kerajaan Islam Mataram.
Beberapa bagian dari cerita ini juga tertuang dalam jurnal berbahasa Inggris yang diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan jurnal tentang dunia Islam berjudul “The Muslim World: Special Issue” dalam edisi 91, September 2001, yang berjudul “The Pilgrimage to Tembayat: Tradition and Revival in Indonesia Islam,” tulisan dari Nelly van Doorn-Harder (Valparaiso University) dan Kees de Jong (Universitas Duta Wacana Yogyakarta).
Masa Menjadi Bupati Semarang
Sunan Pandanaran dahulu kala menjabat sebagai seorang bupati Semarang, dia dikenal sebagai sosok pemimpin yang kikir. Hidupnya bergelimang harta. Dia suka membeli barang dengan harga rendah dan menjualnya dengan harga yang tinggi untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Datangah suatu waktu Sunan Kalijaga yang ingin mengajak bupati untuk masuk Islam. Namun Sunan tidak datang begitu saja. Sunan datang dengan menyamar sebagai seorang penjual rumput.
Sunan Kalijaga datang membawa satu karung rumput (alang-alang – bahasa Jawa) pada Sunan Pandanaran yang kala itu masih bergelar Adipati. Rumputnya pun dibeli dengan harga murah seperti biasanya. Yang tidak biasa dari hari itu adalah ketika Adipati Pandanaran membuka karung rumput dan dia menemukan pusaka (kandelan) yang terbuat dari emas tersembunyi di dalam rumput.
Emas dalam karung ini sebenarnya hanyalah sebuah ujian kejujuran yang diberikan Sunan Kalijaga pada Adipati. Sunan Kalijaga bukan tanpa maksud melakukan itu semua. Sebuah pesan sebenarnya dia kirimkan melalui alang-alang dan kandelan tadi, tetapi sayang Adipati tidak menangkap maksudnya dan justru senang mendapati emas.
Kata “alang” dalam alang-alang sejatinya mengandung arti “menolak”. Dengan memberikan sekarung rumput tadi, Sunan sebenarnya mempertanyakan kenapa Adipati selalu menolak ajakan Sunan untuk masuk Islam.
Sedangkan dalam kata “kandelan” terkandung kata “andel” yang dapat diartikan sebagai “mempercayai”. Dan jika saja Adipati mengerti nasihat yang ada dalam maksud Sunan Kalijaga, maka dia akan membaca nasihat tadi sebagai “Percayalah dan kembalikan kepadaku.”
Adipati tidak mengembalikan emas tadi tetapi justru kemudian membangun rumah mewah yang berdekorasikan emas. Setelah rumah itu jadi, dia mengadakan pesta besar dikediaman barunya itu.
Sunan Kalijaga tentu saja tidak diundang, namun dia tetap datang ke pesta itu, tanpa disadari oleh siapa pun. Namun karena dia hanya mengenakan pakaian sederhana, tidak ada orang di dalam pesta itu yang memperhatikan keberadaannya. Dan setelah dia mengganti baju dengan pakaian mewah, barulah dia dipersilahkan duduk bersama tamu-tamu penting Adipati.
Setelah berakhirnya pesta, Sunan kembali mengganti pakaian yang dikenakannya dengan pakaian biasa. Hal itu dipandang aneh oleh Adipati dan dianggap sebagai lelucon saja. Padahal dari tindakan itu, terkandung sebuah pesan spiritual yang dalam. Namun, lagi-lagi Adipati tidak membaca pesan Sunan Kalijaga.
Setelah cara-cara yang dipakainya menemui kegagalan. Sunan menyadari bahwa dia harus menggunakan cara keras untuk membuat bupati mengerti maksudnya.
Sunan Kalijaga kembali mendatangi Adipati dan kali ini menyamar sebagai seorang peminta-minta. Beberapa kali bupati melemparkan koin padanya namun pengemis itu tidak juga pergi. Melihat hal itu, Adipati pun murka.
Di saat itu pula pengemis tadi menjelaskan niat kedatangannya ke hadapan Adipati. Pengemis itu datang bukan untuk uang melainkan untuk mendengar suara bedug pertanda waktu sholat tiba. Setelah itu, pengemis tadi melemparkan tanah yang digenggamnya ke arah Adipati.
Adipati terkaget-kaget dengan apa yang dilihatnya saat itu. Tanah yang tadi dilempar oleh pengemis berubah menjadi sebongkah emas sesaat setelah dia tangkap. Dan di saat itu pula Adipati mendapatkan pencerahan tentang kehidupan dunia yang hanya bersifat sementara.
Barulah kemudian Adipati Pandanaran mengeri apa yang dimaksudkan Sunan Kalijaga dan bersedia dibimbing Sunan. Namun sebelum lebih jauh lagi, Sunan mengajukan empat syarat pada Adipati jika dia ingin menjadi muridnya. Keempat syarat tadi adalah:
1. Bupati harus berdoa dengan rutin dan mengajarkan Islam, mengajak semua penduduk yang berada di wilayah kekuasaanya masuk ke agama Islam.
2. Adipati harus memberi makan santri dan ulama, membuat bedug di langgar-langgar.
3. Memberi dan menyumbang dengan ikhlas dan menyerahkan kekayaannya pada yang membutuhkan dalam bentuk zakat.
4. Ikut pulang ke rumah Sunan Kalijaga dan menjadi orang yang bersedia menyalakan lampu rumah Sunan.
Dan barulah setelah itu kisah Adipati Pandanaran, seorang yang baru saja berjanji untuk lepas dari keduniawian, berlanjut untuk menuntut ilmu pada Sunan Kalijaga di Jabalkat, Bayat. Dan kisah selanjutnya dari Adipati Pandanaran adalah kisah perjalannnya menuju Jabalkat bersama istrinya.



[...] Sunan Kalijaga mengajukan empat syarat yang harus dipenuhi oleh Adipati Pandanaran, Adipati akhirnya melakukan perjalanan ke Jabalkat, [...]