Hari kedua Keraton Art Festival 2013 yang berlangsung pada Kamis malam, 13 Juni 2013, kembali menampilkan tiga tari dan satu fragmen di bangsal Siti Hinggil. Pada malam kedua yang juga menjadi malam terakhir, pengunjung berkesempatan menyaksikan salah satu karya tari ciptaan Gusti Kanjeng Ratu Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng, putri Raja Paku Buwono XII, berjudul Kirono Ratih.
Dari tiga tari dan satu fragmen yang dibawakan, tari karya Gusti Moeng menjadi tari pertama yang ditampilkan. Tari Kirono Ratih yang menjadi sajian pembuka pertunjukan seni Keraton Kasunanan Surakarta yang rutin digelar setiap tahun itu dibawakan oleh sembilan anggota sanggar seni Keraton. Bahkan salah satu dari sembilan penari itu adalah putri Gusti Moeng sendiri.
Tari Kirono Ratih yang diciptakan pada tahun 1990-an adalah bentuk dari perjuangan Gusti Moeng yang juga dikenal sebagai “Putri Mbalelo”. Dalam keterangan yang diberikan oleh Kanjeng Pangeran Winarno Kusumo mengenai penciptaan karya ini, Kirono Ratih mengisahkan perjuangan wanita dalam mempertahankan keraton yang saat itu akan dijadikan hotel.
Dari perjuangan itulah kemudian Gusti Moeng yang juga menjadi anggota DPR RI mendapatkan julukan “Putri Mbalelo” pada saat itu. Akan tetapi itu semua dilakukannya hanya untuk kelangsungan Keraton Kasunanan Surakarta.
Kesembilan penari yang membawakan tarian Kirono Ratih dalam Keraton Art Festival 2013 mengenakan pakaian serba merah serta membawa panah dan busur. Tetapi dibalik kesan “perjuangan” itu mereka juga menampilkan sisi kecantikan dengan membawa kipas berwarna merah muda.
Setelah persembahan karya tari Kirono Ratih, secara urut kemudian disajikan tari Wireng Tohjoyo Bugis, tari klasik Bondan Kendhi. Dan sebagai penutup Keraton Art Festival 2013 adalah fragmen Kusumo Yudo.





