Teater Dong Syuting Naskah Kanjeng Ratu Di Teater Kecil

Siang kemarin (09/01/13), Teater Dong SMA Negeri 7 Surakarta melakukan pengambilan gambar naskah Kanjeng Ratu yang mereka menangkan dalam Festival Drama Remaja Universitas Negeri Semarang. Namun pengambilan gambar atau syuting yang mereka lakukan bukan dalam rangka membuat dokumentasi atau siaran langsung, melainkan membantu kelompok mahasiswa Program Studi Televisi dan Film ISI Surakarta menyelesaikan tugas akhir ujian mata kuliah.

Mendapat informasi lewat pesan singkat dari ketua Teater Dong, Harris Kurniawan, saya pun bergegas menuju Teater Kecil ISI Surakarta. Rasa penasaran yang memancing untuk menyaksikan pentas kali ini tentu saja sajian pentas yang akan mereka bawakan setelah mendengar kabar capaian yang mereka raih di Semarang bulan lalu. Dalam lomba yang mereka menangkan bulan lalu itu, mereka menyabet penghargaan sebagai penyaji terbaik, aktris terbaik, pemeran pembantu terbaik, sutradara terbaik, serta iringan musik terbaik.

Kanjeng Ratu adalah lakon teater berbahasa Jawa karya Hanindawan yang menceritakan kisah kemelaratan keluarga yang dulunya kaya raya karena bisnis batik di kawasan Laweyan. Dalam cerita ini ada lima karakter yang ditampilkan yaitu Kanjeng Ratu (Ibu), Suami, Lestari (Istri), Kamil, dan seorang penagih hutang.

Naskah ini memang menarik jika dilihat dari sisi cerita serta bagaimana cara kelompok teater ini menyajikannya sejara realis. Kondisi melarat dimunculkan dengan setting lokasi yang kusam. Tampak rumah mereka berantakan, meski masih ada sisa cerita kejayaan masa lalu dari foto seorang lelaki yang tampak seperti seorang priyayi. Hidup seadanya dengan himpitan banyak hutang, salah satu anggota keluarga mencoba memenuhi kebutuhan dengan bekerja sebagai penjahit.

Dari sisi cerita, naskah ini menggambarkan bagaimana orang yang pernah sukses tidak mampu melepaskan kebanggaannya meskipun kini mereka jatuh dalam kesusahan dan hidup serba kekurangan. Hal lain yang ditawarkan naskah ini adalah bagaimana penonton diajak melihat kehidupan masa lalu keluarga Kanjeng Ratu dengan cara yang unik sehingga penonton mendapatkan alasan kenapa keluarga ini memiliki sifat gengsi yang begitu tinggi meskipun sekarang mereka melarat.

Melalui karakter Kamil, seorang pesuruh yang terbelakangan mentalnya, kenangan-kenangaan masa lalu keluarga ini kembali dimunculkan sehingga Kanjeng dan putranya terbuai dalam kenangan masa keemasan dan ikut-ikutan gila seperti Kamil.

Satu-satunya karakter yang waras adalah Lestari sang menantu. Namun menjadi waras justru memojokan Lestari dalam kehidupan yang penuh tekanan dari Kanjeng yang gengsian dan suaminya yang pemalas. Lestari yang membanting tulang menghidupi keluarganya ini dengan bekerja sebagai penjahit dan pendapatan yang kecil justru selalu dicela dan disalahkan oleh mertuanya.

Namun, di saat paling terpojok saat seorang penagih hutang datang menagih utang dan hendak mengusir keluarga ini justru Lestari lah satu-satunya yang berani menghadapinya. Tak hanya itu, dia juga bersedia menanggung segala hutang yang dimiliki Kanjeng. Melihat ketidak berdayaannya menghadapi kenyataan, Kanjeng pun akhirnya sadar dan rela menurunkan gengsi terhadap menantunya dengan memeluk dan memanggil nama Lestari. Nama yang dianggapnya jelek dan begitu dia benci.

Selain setting panggung dan cerita, iringan musik dalam pementasan ini juga terdengar serasi dengan dibawakan secara live. Pengiring yang terdiri dari penabuh gong, kendang, kenong dan kethuk serta pemain biola dan penyanyi duduk di panggung kecil di samping depan panggung utama.

Selain realis yang terlihat dari setting, sisi kostum dan rias para karakter dalam pentas kemarin juga menarik untuk dicermati. Lestari tampak sedang hamil tua dengan daster sementara Kanjeng tampak sakit-sakitan dan galak dengan koyok dikeningnya. Kemudian yang paling menyita perhatian adalah Kamil yang muncul dengan rias total menyerupai orang yang tidak waras, rambut botak dan kusam, kulit kotor, pakaian lusuh, juga ikat pinggang tali rafia.

Meskipun pentas yang dilakukan dua kali kemarin siang bukan pentas tunggal Teater Dong, namun pementasan itu cukup mengobati rasa penasaran saya. Para penampil juga pendukung tidak tampak menurunkan performa mereka dalam dua kali pementasan kemarin. Terlebih lagi, penampilan mereka juga tetap maksimal meskipun proyek ini adalah proyek pengampilan gambar dengan cameraman yang hilir mudik di dalam panggung.

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Speak Your Mind

*

Tweet