Dia yang sudah ternodai dan berjanji tidak akan mencuci rambutnya kecuali hanya dengan darah mereka yang sudah menistakanya membuka kisah buram di hari saat dirinya dipermalukan, ditelanjangi, dan dinodai. Dia lah Dewi Drupadi yang bercerita di hadapan Pandawa Lima yang sudah menjadikannya dadu dalam pertaruhan dadu dengan para Kurawa. Dia yang ternodai membuka kisah kelam saat dirinya dipaksa melayani Kurawa. Dia menangis, malu, dan marah dengan kelakuan suaminya dan juga adik-adiknya para Pandawa yang membiarkan semua itu terjadi. Kemudian, dirinya pun menuntut kesetaraan kepada mereka semua.
Kisah Dewi Drupadi yang menuntut kesetaraan akan gender adalah naskah drama yang dibawakan oleh Teater RSPD Tegal yang semalam (14/10/2012) hadir di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Pementasan naskah Testimoni Drupadi karya dan sutradara Yono Daryono oleh Teater RSPD semalam sekaligus menutup Gelar Teater Jawa Tengah yang sudah dilaksanakan sejak Rabu, 10 Oktober 2012. Selain pementasan naskah tersebut, semalam juga dilangsungkan pengumuman penampil terbaik dalam Gelar Teater Jawa Tengah yang akan direkomendasikan oleh panitia untuk mengikuti gelar teater tingkat nasional di Jakarta bulan depan.
Teater RSPD Tegal dalam pementasan semalam lebih banyak memadukan unsur teater dengan tari komplit dengan para pemain musik serta penyanyi pengiring sejumlah 11 orang. Sementara untuk unsur tari dalam pementasan mereka terlihat dari kemunculan empat dayang yang memang lebih banyak menari di atas panggung. Selain itu, kemunculan Kurawa dan Pandawa sendiri juga tak jauh beda. Mereka juga terlihat lebih banyak menari dari awal hingga akhir cerita.
Naskah Testimoni Drupadi yang dibawakan oleh Teater RSPD Tegal semalam dapat dikatakan menjadi tontonkan teater kedua yang menafsirkan kisah pewayangan secara anyar. Sebelumnya, dalam pembukaan Gelar Teater Jawa Tengah, Teater Surakarta (TERA) membawakan kisah Kumbokarno di hapadan para penonton yang memadati Teater Arena. Naskah cerita pengakuan Drupadi yang pada bulan Juli kemarin juga telah dipentaskan di Taman Budaya Kota Tegal ini mengupas kisah sedih Drupadi yang mendalam akibat kelakuan laki-laki.
Kisah ini dibuka dengan babak saat Duryudana menantang Yudistira untuk bermain dadu. Duryudana yang dibantu Patih Sengkuni memenangi perjudian itu dengan dadu yang sudah dia mantrai. Yusditira dan keempat adiknya kalah telak, segala yang mereka miliki telah hatuh ke tangan Duryudana. Hingga akhirnya masuklah Dewi Drupadi sebagai taruhan terakhir dan berakhir juga dengan kekalahan. Hal inilah yang kemudian menyeret Drupadi dalam kepedihan yang dalam. Karena kekalahan itulah dia dipermalukan di hadapan semua orang termasuk Pandawa. Dirinya yang telah dinodai kemudian menuntut keadilan.
Sebagai seorang wanita, dirinya merasa bahwa hak kemerdekaan atas dirinya sudah diinjak-injak dengan dipertaruhkan dan dipermalukan. Hal itu terjadi baik dari kedua belah pihak, Pandawa dan Kurawa. Dia merasa bahwa saat Pandawa melepas kehormatan mereka sebagai ksatria dalam perjudian dadu itulah yang membuat segalanya terjadi dengan salah. Padahal sebagai seorang wanita, istri, dan kakak, dirinya sudah melakukan segala hal untuk Pandawa. Testimoni Drupadi di hadapan para Pandawa ini pun dihadapi dengan malu oleh para ksatria Pandawa. Mereka tampak terlalu malu mendengarkan apa yang sudah dilalui oleh Drupadi. Mereka berguling, menutupi telinga mereka, dan bahkan menyangkal bahwa kejadian ini juga akibat dari Drupadi sendiri. Pandawa merasa mereka tidak pernah meminta Drupadi turut dalam pengembaraan mereka, justru Drupadi sendiri yang menginginkannya meski mereka sudah memintanya untuk tetap tinggal di istana.
Tuntutan Drupadi pun berakhir saat dia meminta syarat darah Dursasana untuk mencuci ramputnya yang terurai akibat dengan kasar ditarik oleh Dursasana dari istana hingga tempat mereka berjudi. Syarat itu pun dipenuhi oleh Pandawa meski harus menunggu hingga babak perang besar berlangsung dan Dursasana mati di tangan Bima.
TERA Menangi Gelar Teater Jawa Tengah
Sesudah berakhirnya pementasan semalam panitia acara menggelar pengumuman tentang penampil yang akan direkomendasikan untuk mewakili Jawa Tengah dalam ajang yang sama di tingkat nasional di Jakarta pada November mendatang. Dari keempat kelompok teater yang tampil dalam Gelar Teater Jawa Tengah ini, TERA menggungguli ketiga peserta lain yang berasal dari Kudus yaitu Keluarga Segitiga Teater, dari Karanganyar yaitu Teater Bandul Nusantara, serta dari Tegal yaitu Teater RSPD Tegal.
Kemenangan yang didasarkan karena aspek kreatifitas serta penyutradaraan lah yang membawa TERA maju sebagai yang terpilih. Sebagai kelompok tuan rumah, TERA sendiri tampil pertama dengan membawakan kisah Don’t Cry Kumbokarno karya Muchus B. R..






