Pergelaran Wayang Orang Limang Gatra akhirnya sampai juga pada pementasan dua kelompok terakhir malam tadi (24/10/2012). Masih berlangsung di Pendopo Agung Taman Budaya Jawa Tengah, dalam giliran terakhir semalam tampil satu kelompok dari Semarang yaitu Wayang Orang (WO) Ngesti Pendowo Semarang dan satu kelompok tuan rumah yaitu WO Sanggar Mayangkara Surakarta atau yang sering di kenal sebagai wayang orang RRI.
Jauh-jauh dari Semarang, WO Ngesti Pendowo yang merupakan ikon pertunjukan wayang orang Semarang membawakan lakon Subadra Larung di hadapan pengunjung setia pergelaran wayang yang diadakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah selama tiga hari berturut-turut ini. Wayang orang yang sudah berdiri sejak 1935 itu membawakan kisah matinya Dewi Subadra akibat ulah Raden Burisrawa. Raden Burisrawa sendiri yang tergila-gila dengan Dewi Subadra tidak peduli meskipun sang dewi sudah bersuamikan Raden Arjuna.
Para Pandawa tidak terima dengan kematian Dewi Subadra dan berusaha mencari si pembunuh istri Raden Arjuna. Cerita ini pun berkembang dan terjalin dengan kisah pencarian Raden Antasena atas siapa ayahandanya. Dalam pencariannya dia dibantu sosok dewi yang tak lain adalah Dewi Subadra yang bangkit dari kematian atas bantuan ajian Tirta Nirmala miliknya. Pencarian pun berujung pada Raden Wrekudara sebagai ayahandanya. Namun, tidak mudah baginya untuk diakui sebagai anak sebelum dia berhasil menangkap pembunuh dewi yang sebelumnya sudah dia hidupkan kembali.
Giliran terakhir yang juga menjadi penampil yang menutup pergelaran wayang orang adalah WO Sanggar Mayangkara Surakarta dengan membawakan lakon Tri Gangga Maling. Tri Gangga Maling secara garis besar mengisahkan perjuangan bocah yang tidak pernah merasakan rasa kasih sayang ayah semenjak kecil. Segala kegembiraan seakan musnah karena bayang-bayang itu. Namun seiring dengan kedewasaan dan tekad kuat yang dimilikinya segala hal buruk itu semakin hari semakin terkikis. Sosok bocah ini sendiri digambarkan dalam diri Trigangga putra Anoman.
Dengan berakhirnya penampilan WO Sanggar Mayangkara Surakarta menandakan berakhirnya Pergelaran Wayang Orang Limang Gatra. Pergelaran Limang Gatra dari lima kelompok wayang orang yang diadakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah ini adalah tak lain untuk melestarikan tradisi yang terpinggirkan. Kesenian yang pernah menjadi “primadona” ini dianggap tergeser oleh pengaruh globalisasi yang salah satunya adalah menurunkan rasa cinta terhadap budaya atau pun seni. Dalam sambutannya, Kepala Taman Budaya Jawa Tengah, Drs. Sujarwo MM, mengajak berbagai pihak agar dapat ikut bersama-sama melestarikan pertunjukan tradisi wayang orang yang tak hanya dapat dinikmati secara estetis saja tetapi juga menjadi tuntunan hidup karenaa di dalam wayang orang terdapat falsafah-falsafah kehidupan.



Leave a Reply