Bolot, Upil, Curak, Blobok, dan Gudal melayang-layang setelah terbangun dari tidur mereka sesaat setelah mereka menghirup bau “minyak samin” yang diambil dari pispot bapak si Bolot. Mereka percaya bahwa mereka telah melakoni ilmu “Ngrogoh Sukma”, seperti yang dijanjikan si Bolot, dan mampu memainkan imajinasi seliar dan seluas yang mereka inginkan.
Setelah itu mereka mampu terbang seperti Superman, merasakan dinginnya salju yang turun dikawasan permukiman mereka yang kumuh, dan juga mengira sedang berada di daratan Jepang. Imajinasi mereka pun semakin menjadi ketika mereka mampu melihat sosok Miyabi, tokoh kartun Doraemon, hingga super hero Power Ranger.
Kelima anak tadi adalah anak-anak yang tinggal di kawasan pinggiran kota. Hidup di lingkungan kumuh dalam rumah-rumah kardus yang berdiri di pinggiran tanggul. Lima sekawan itu adalah cermin dari masyarakat yang dikecilkan oleh zaman. Karena alasan mereka bermain dengan “Ngrogoh Sukma” yang mereka percaya sebagai ilmu imajinasi adalah karena sudah kesulitan menemukan tempat untuk bermain.
Lakon yang mengisahkan kehidupan lima anak kecil ini adalah karya Joko Bibit Santoso berjudul Barisan Terik Tempe. Lakon yang mengisahkan hilangnya lahan bermain anak-anak ini dipentaskan oleh Teater Dong SMA Negeri 7 Surakarta dengan sutradara Didik Pandji pada Sabtu malam yang lalu, 15 Juni 2013, di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah.
Barisan sindiran dalam naskah
Seperti judulnya yang menggunakan unsur “tempe”, apa yang diangkat dalam pentas drama Barisan Terik Tempe juga berbau sesuatu yang murah dan bermutu rendah. Sindiran-sindiran atas keadaan masyarakat kecil pinggiran menjadi muatan yang kental dalam naskah ini dibalut dalam banyolan para pemainnya.
Masyarakat kelas inilah yang sering dipandang sebagai masyarakat kelas tempe oleh orang-orang yang bermental tempe. Seperti apa yang dialami kelima anak tadi dimana mereka dikecilkan oleh zaman dan dikebiri oleh kapitalisme hingga kehilangan hak paling hakiki untuk anak-anak itu yaitu tempat untuk bermain.
Sungai-sungai diceritakan telah berubah warna karena industri tekstil. Hingga saat mereka bermain di sungai baju mereka pun berubah warna. Saat lima sekawan itu ingin memanjat pohon, lahan yang penuh dengan pohon pun telah habis dan berganti dengan pusat perbelanjaan, pabrik, atau pemukiman mewah.
Pilihan kelima sekawan tadi dan anak-anak usia mereka makin dipersempit dengan hadirnya berbagai games atau permainan dari luar negeri. Atau oleh tokoh-tokoh kartun dan super hero dari Jepang dan Amerika yang menggeser keberadaan super hero lokal dari kisah pewayangan. Padahal pilihan-pilihan ini adalah pilihan yang berbayar dan mahal bagi ukuran si Bolot dan keempat temannya.
Karena itulah sosok Bolot yang terlihat lebih pintar dari teman-temannya mengajak Upil, Curak, Blobok, dan Gudal untuk bermain dengan “Ngrogoh Sukma”. Dan agar lebih bisa dipercaya dia pun menggunakan “minyak samin” dari pispot ayahnya yang sakit.
Hingga saat memasuki adegan mereka berimajinasi pun deretan barisan sindiran masih sangat mudah ditemui penonton. Seperti saat merasa berada di Jepang mereka membandingkan negara yang kecil itu dengan Indonesia yang jauh lebih luas dan besar. “Wong Indonesia do wegah sinau og,” ucap salah satu tokoh yang menjelaskan kenapa Jepang jauh lebih maju dari Indonesia.
Setting lokasi Barisan Terik Tempe yang provokatif
Selain naskah dengan dialog yang sangat provokatif bagi telinga penonton, kelompok yang menjadi juara bertahan di festival drama realis berbahasa Jawa Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes) ini juga menggunakan setting panggung yang sangat menunjang cerita Barisan Terik Tempe.
Panggung di gedung pertunjukan Teater Arena disulap menjadi pemukiman kumuh dengan rumah-rumah kardus yang berdiri di pinggiran panggung. Pada bagian depan berbagai jenis rosok terlihat terkumpul di rumah-rumah yang hanya berdiri setinggi pria dewasa. Pada dinding rumah-rumah itu juga tertera tulisan anti penggusuran. Sementara di bagian belakang, panggung dibangun panggung kedua yang disamarkan menjadi tanggul.
Tata panggung yang realis selama ini memang mejadi ciri khas Teater Dong yang selalu mengangkat naskah-naskah realis ke atas panggung. Dan untuk lakon Barisan Terik Tempe kali ini, lagi-lagi mereka menyajikan latar yang realis untuk kisah yang dekat dengan kehidupan saat ini.
Komposisi yang mereka tampilkan meluaskan pandangan penonton mengenai keberadaan tentang kehidupan mereka yang dikecilkan. Membawa isi cerita menjadi jauh lebih nyata ke hadapan penonton yang memadati Teater Arena malam Minggu kemarin.




Thank You Bung..