Batik Itu Sederhana, Sesederhana Kita Hidup

batik sidamulya batik tulis sidaluhur sidamukti
Batik cap dan tulis gaya jogjakarta

CHIC:ID. Batik itu…sederhana. Batik itu sebenarnya sederhana, yakni sebuah karya me-rekalatar kain jadi. Teknik yang digunakan adalah teknik celup rintang, yaitu teknik merintangi sebagian permukaan kain dengan bahan tertentu agar tidak terkena pewarna ataupun rembesan pewarna saat proses pewarnaan.Bahan perintang pun bisa bermacam-macam, seperti tali yang diikat ataupun benang yang dijahitkan ke kain, seperti kain jumputan atau sasirangan. Atau menggunakan zat tertentu. Saat bicara tentang batik, zat itu ialah parafin atau lilin atau malam. Oleh karena itu disebut sebagai wax-resist dyeing.[1]

Bila sesederhana itu, kenapa UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity?[2] Karena BATIK INDONESIA telah mencapai puncak tertinggi sebuah produk kebudayaan, yaitu sebagai simbol kultural bangsa Indonesia. Selain dari teknik, batik atau lebih tepatnya kain batik bukan sekedar produk sandang. Nilainya lebih dari itu. Sebuah batik mengandung nilai filosofi tinggi lewat warna dan motifnya. [3] Seperti warna soga, biru indigo, putih, dll. Seperti motif parang, sidaluhur, sidaasih, wahyu temurun, udan riris, dll. Sebuah batik ialah representasi dari pemakainya.

Batik itu sederhana, karena menjadi bagian hidup manusia, sejak dalam kandungan hingga mati. Batik berperan dalam segala upacara-upacara adat, sejak dari mitoni, pengantin, sampai meninggalnya seseorang (tentunya dengan pilihan motif dan warna yang berbeda). Sebagai contoh, sejak bayi, kita sudah mengenal batik lewat jarik gendongan. Dahulu jarik batik untuk membedong bayi ataupun menggendong bayipun harus khusus, biasanya motif-motif yang membawa keberuntungan bagi anak, seperti agar terhindar dari sakit. Contoh lainnya kain-kain batik yang digunakan saat upacara pernikahan berupa sidaluhur, sidaasih, sidamulya, sidamukti, parangkusuma, truntum, wahyutumurun di catatan kaki no [4]. Jadi, kain batik itu sederhana, sesederhana kita hidup di dunia ini.

Bila kita ingin ikut melestarikan batik, seumpamanya membeli dan memakainya, seharusnya ada dua faktor etika yang harusnya menjadi prinsip. Pertama, buat batik dan kenakan batik yang benar-benar dibuat dengan teknik batik, yaitu teknik celup rintang memakai malam/wax, seperti batik tulis dan cap. Kedua, aplikasikan batik diproduk lain, seperti sandal dan sprei sesuai arti/makna simbol dan kenakanlah sesuai arti/makna simbol, paling tidak dalam motif batik, karena terciptanya motif-motif batik itu adalah hasil saripati dari kebudayaan kita, jadi bukan hanya sekedar gambar cantik.

Catatan kaki:

[1] http://www.textilemuseum.org/PDFs/TextileTerms.pdf

[2] http://www.unesco.org/culture/ich/RL/00170

[3] http://www.ullensentalu.com/detailNews.php?id=112&PageNo=1

[4] http://tseljatengdiy.com/genmerapi/arti-filosofis-di-balik-setiap-motif-batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *