Menginjak pertengahan bulan Ruwah, bulan sebelum bulan puasa umat Islam, atau tepatnya pada tanggal 16 bulan Ruwah, warga Desa Sukobumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali kembali menjalankan tradisi ratusan tahun warisan leluhur mereka. Tradisi Sadranan yang sudah berjalan turun temurun kembali digelar pagi tadi (25/06/2013) di beberapa pemakaman desa setempat.
Waktu belum menunjukan pukul enam pagi, beberapa warga Sukobumi, terutama warga laki-laki, tampak sibuk membersihkan pemakaman. Persiapan tampak di area pemakaman Purolayo dan Gunung yang terletak di desa yang berada di depan Pasar Cepogo itu. Bahkan, di makam Puroloyo warga memasang umbul-umbul di sepanjang jalan menyusuri makam.
Dengan menggunakan cangkul, sabit, dan sapu mereka bergotong royong membersihkan makam pendahulu mereka. Sekitar satu jam mereka membersihkan makam, satu persatu dari warga tadi kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan acara puncak tradisi Sadranan yang berlangsung dari jam 08.30 di lokasi yang sama.
Mendekati jam pelaksanaan, warga mulai berbondong-bondong kembali ke area pemakaman. Kali ini bukan hanya warga laki-laki saja tetapi juga anak-anak dan juga para wanita. Kedatangan untuk yang kedua kali ini mereka tidak membawa cangkul atau sabit yang tadi mereka gunakan. Kali ini mereka menyunggi tenong, wadah makanan berbentuk bulat besar, yang menjadi khas dalam tiap pelaksanaan tradisi Sadranan di Desa Cepogo.
Tak selang berapa lama, warga yang mengikuti tradisi Sadranan Cepogo sudah memenuhi halaman pemakaman yang sudah dipasangi peneduh. Tenong-tenong berisi berbagai jenis makanan masih tertutup rapat dan berjajar rapi dari ujung timur halaman hingga ujung barat.
Sebelum dimulainya kegiatan, warga yang hadir menyempatkan diri untuk mengunjungi makam leluhur dan berdoa. Kemudian mereka akan mengikuti kegiatan inti yang berupa pembacaan silsilah ulama yang dimakamkan di pemakaman Puroloyo dan kegiatan doa atau dzikir dan tahlil. Kegiatan yang terakhir sekaligus puncak acara adalah sedekah sadranan.
Begitu selesai dengan doa, warga yang sudah berbekal tas plastik membuka tenong dan mulai menyerbu isinya. Buah-buahan, jajan pasar, hingga berbagai jajanan warung menjadi rebutan warga yang hadir. Tak berselang lama, seluruh tenong kosong dan warga pun langsung meninggalkan lokasi pelaksanaan.
Ditemui selepas berakhirnya kegiatan tradisi Sadranan, H Maskuri, salah satu sesepuh desa, mengatakan bahwa tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Dirinya juga menambahkan bahwa setelah dari pemakaman masih akan ada satu kegiatan lagi yaitu silaturahmi. “Setelah dari sini, kita akan bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga,” jelasnya.




Leave a Reply