Mari Berwisata! Candi Kethek: Piramida Lain Di Hutan Lereng Gunung Lawu

Candi Kethek Situs Bersejarah Desa Gumeng Karanganyar

Kekayaan nilai sejarah di lereng barat Gunung Lawu ternyata tidak hanya berakhir di Candi Sukuh dan Candi Cetho saja. Di dalam kawasan hutan lindung Perhutani di lereng Gunung Lawu ternyata tersembunyi situs-situs bersejarah lain yang tak kalah bernilainya dengan Candi Sukuh dan Cetho yang sudah terlebih dahulu digali.

Sebuah candi bernama Candi Kethek ternyata juga berdiri tidak jauh dari lokasi Candi Cetho. Namun karena lokasi yang cukup dalam di hutan sebelah timur laut Candi Cetho, candi ini tidak banyak diketahui masyarakat dan seolah tertutup oleh ketenaran Candi Cetho.

Untuk dapat mencapai candi yang berdiri di atas bukit di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ini memang memerlukan sedikit ekstra tenaga. Jalan menuju candi ini dapat ditemukan di sebelah kiri dari kompleks Candi Cetho. Tepatnya, jalan setapak menuju candi ini sama dengan jalan setapak menuju Puri Saraswati yang berada tepat di atas kompleks Candi Cetho.

Candi Kethek Jalan Setapak Menuju Candi Kethek

Wisatawan dapat dengan mudah mengenali jalan setapak menuju candi karena jalan masih berupa tanah dan belum di bangun rapi seperti jalan setapak menuju Puri Saraswati. Meskipun masih berupa jalan setapak, namun kondisi jalan itu cukup datar untuk dilalui. Tetapi wisatawan tetap harus berhati-hati ketika menyusuri jalan setapak itu karena di sisi luar adalah tebing curam dengan dasar sungai kering.

Jalan datar sedikit berubah ketika mendekati situs candi, jalan menjadi sedikit menanjak sebelum akhirnya rasa lelah berjalan terbayar ketika menemukan bangunan yang tersusun dari batu-batuan sedang dan kecil menjulang hingga ke atas bukit yang teduh oleh pinus dan diselimuti kabut tebal. Bangunan ini lah yang wisatawan cari, bangunan Candi Kethek.

Candi Kethek Situs Bersejarah Menyerupai Bangunan Piramida

Seperti bangunan Candi Sukuh dan Cetho, bangunan situs candi ini berbentuk menyerupai piramida yang khas dan berbeda dengan candi-candi Hindu lainnya. Saat melihat untuk pertama kalinya, wisatawan mungkin tidak akan menyadari bahwa bangunan berupa susunan batu yang berteras-teras itu adalah candi yang dimaksud.

Hal itu tidak mengagetkan karena candi ini tampak menyatu dengan lingkungan sekitar. Struktur batu yang tampak natural tidak seperti pada candi lain yang berbentuk persegi, bentuk batu yang alami, pinus yang tumbuh di antara bebatuan, membuat bangunan candi ini memang tidak tampak seperti candi pada umumnya. Yang paling membuatnya tampak berbeda adalah relief dan juga arca yang tampak tidak ada seperti pada candi-candi lain.

Candi Kethek yang berada pada ketinggian 1400 meter dpl mendapat sebutan atau namanya dari masyarakat sekitar yang sering menjumpai binatang kera atau kethek (Bahasa Jawa) di area bersejarah itu. Selain itu ada juga yang percaya bahwa bagian puncak dari candi ini menyerupai rupa Hanoman Kera Putih.

Candi Kethek Cetho Gumeng Jenawi Kabupaten Karanganyar

Keberadaan candi yang tersembunyi di dalam hutan ini sudah diketahui sejak tahun 1842 meskipun ekskavasi baru dilakukan pada tahun 2005 oleh Balai Pelestarian Purbakala Jawa Tengah bersama dengan UGM. Penelitian terkait masih dilakukan hingga saat ini untuk menggali informasi tentang data arkeologis seperti sejarah, keagamaan, dan bentuk arsitekturnya.

Meskipun masih berjalan, peneliti percaya bahwa situs candi ini dibangun pada masa yang sama dengan Candi Cetho atau Sukuh yaitu pada abad 15. Hal itu dibuktikan dengan diketemukannya arca kura-kura yang terkait dengan cerita Samudramanthana seperti di Candi Cetho dan Sukuh yang terbukti dibangun pada sekitaran abad 15. Bukti itu kian lengkap dengan analisa bentuk situs yang mirip piramida seperti pada bangunan Candi Cetho dan Sukuh yang memang dibangun di masa melemahnya pengaruh Hindu.

Candi Kethek Dusun Cetho Jenawi Kabupaten Karanganyar

Candi Kehtek yang berbentuk menyerupai piramida ini memiliki empat teras berundak yang terhubung dengan tangga yang terletak tepat di tengah-tengah bangunan. Arah situs candi menghadap ke barat dan di masing-masing teras dipercaya dulunya terdapat bangunan seperti pada Candi Cetho dengan bangunan utama berada di teras paling atas. Sedangkan arca kura-kura yang ditemukan di situs ini dulunya terletak di tangga paling bawah.

Dari penemuan arca kura-kura peneliti berasumsi bahwa situs candi ini memiliki latar belakang bangunan keagamaan Hindu. Asumsi tersebut muncul karena arca kura-kura sering dikaitkan dengan cerita Samudramanthana seperti mitologi dalam agama Hindu. Asumsi itu kemudian meruncing pada fungsi candi yang dipercaya sebagai tempat peruwatan untuk membebaskan seseorang dari kesalahan dan dosa.

candi-kethek-didalam-hutan-lereng-gunung-lawu

Dan untuk sebuah situs bangunan religius yang tersembunyi di dalam hutan lereng Gunung Lawu, candi ini dikelilingi oleh hutan dan bukit dengan pemandangan yang alami dan indah. Suasana hening dan sunyi di lokasi situs berada menjanjikan kesan religius dan sakral serta cocok untuk menyegarkan pikiran. Sedikit extra tenaga dan kehati-hatian maka wisatawan akan dijanjikan oleh keheningan yang nyaman dari piramida peruwatan dosa.

Untuk mencapai lokasi wisata sejarah dan religi ini wisatawan harus cukup berhati-hati karena jalanan menanjak akan banyak ditemui di sepanjang jalan. Mengendarai kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan akan menjadi pilihan bijak karena lokasi yang jauh dari jangkauan transportasi umum. Sedangkan untuk biaya perjalanan, tiket masuk yang harus dibayar total perwisatawan hingga mencapai objek wisata tidak lebih dari Rp 6.000.

Murah bukan? Jadi kenapa tidak anda coba? Berkunjung ke Candi Kethek berarti akan juga mengunjungi Candi Cetho dan Puri Saraswati sekaligus Kebun Teh kemuning. Mari berwisata!

Sponsored Links

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>