Selama dua malam kemarin, 7 dan 8 Desember 2013, di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, berlangsung kegentingan. Kegentingan terjadi lantaran koalisi pahlawan super yang dipimpin Gundala Putra Petir tidak mampu menumpas koalisi kejahatan yang merampok bank-bank di kawasan Jogja dan Solo Raya. Kegentingan makin memuncak lantaran para pahlawan super justru saling berkelai dan membiarkan koalisi kejahatan pergi ke Bulan tanpa menerima hukuman atas perampokan yang mereka lakukan.
Ringkasan adegan “kegawatan” itu adalah bagian dari pentas Gundala Putra Petir dalam lakon Gundala Gawat naskah karya Goenawan Mohamad alias GM yang dibawakan kelompok teater berbahasa Jawa, Teater Lungid, dengan sutradara Djarot B. Darsono. Dalam pentas berdurasi 2,5 jam itu Teater Lungid tidak hanya mengusung tema gawat yang sedang dihadapi Gundala tetapi juga mengusung konsep regenerasi Teater Gapit (nama sebelum beregenerasi menjadi Teater Lungid) dan isu penggunaan Bahasa Jawa.
Pentas yang mengikutkan puluhan penampil itu juga dikemas bersama garapan musik karawitan yang membangun suasana pentas layaknya ketoprak. Di awal pementasan cara itulah yang digunakan kelompok teater modern itu untuk membangkitkan antusias penonton bersama tembang dagelan yang mereka ciptakan. Kemudian kemasan mirip ketoprak itu makin jadi saat dipadu dengan dialog Bahasa Jawa dengan berbagai dialek dari berbagai daerah dan dagelan yang dibangun para pemainnya.
Benar-Benar Gawat
Pentas Gundala Gawat dibuka dengan adegan dalam rumah tangga Gundala dengan istrinya, Siomah, yang memperlihatkan aktifitas keseharian rumah tangga tokoh super hero putra Pak Petir itu. Adegan kemudian berlanjut ketika serombongan wanita warga Klaten menyerbu rumah Gundala dan menuntut ganti rugi pada Gundala karena halilintar ayahnya, Pak Petir, telah merusak kampung mereka.
Di tengah perundingan mereka Gundala mendapat telepon dari Pusat Pengerahan Tenaga Superhero yang memintanya berkumpul ke markas karena terjadi perampokan bank di berbagai kawasan di sekitar Solo Raya dan Jogja. Dalam adegan di markas superhero itulah Gundala bersama pahlawan super lainnya seperti Jin Kartubi, Aquanus, Pangeran Melar dan Sun Bo Kong mendapat perintah dari Pak Hasmi, komikus pencipta superhero, untuk mengintai kegiatan koalisi penjahat yang berencana merampok bank.
Pengintaian yang dilakukan para superhero di bawah saran Agen X9, intelejen superhero, ternyata tidak berjalan lancar. Di tengah perencanaan perampokan yang dilakukan koalisi rampok Tata Tentrem, penyamaran mereka terbongkar karena Agen X9 ternyata adalah otak kejahatan yang sebenarnya. Anggota superhero berhasil melarikan diri dari markas koalisi perampok tetapi tidak dengan Gundala meskipun pada akhirnya berhasil dibebaskan oleh sosok bercahaya yang tak lain adalah Siomah.
Rencana perampokan akhirnya berjalan dan sukses seperti yang dikehendaki koalisi Tata Tentrem yang juga dibantu oleh serikat kejahatan lainnya, Witing Tresna. Rencana mereka selanjutnya adalah uang rampokan mereka pakai untuk membeli roket untuk pergi ke bulan dan membangun negara di sana. Di sinilah sindiran-sindiran tentang politik paling terasa menjadi bahan guyonan para pemain.
Para perampok itu rupanya adalah warga negara yang kecewa dengan kondisi negara dan ingin memperbaiki kondisi itu dengan jalan kejahatan mereka. Selepas kepergian mereka ke Bulan, yang juga diikuti oleh korban perampokan dan pegawai bank, Agen X9 seorang diri keluar sebagai penjahat yang menguasai sistem pemerintahan yang ditinggalkan.
Namun hal itu tak berlangsung lama setelah kemudian dirinya disergap oleh koalisi superhero. Di tengah rencana akan menghakimi Agen X9, Gundala pun datang bersama Siomah ingin membebaskan Agen X9 untuk mengorek informasi lokasi pelarian para perampok. Ide Gundala itu ternyata berseberangan dengan superhero lainnya yang kemudian memicu perkelaian di antara superhero yang juga menjadi adegan penutup pentas dua malam kemarin.
Ide cerita bergabungnya korban perampokan dan pegawai bank bersama koalisi rampok Tata Tentrem dan Witing Tresna untuk pergi ke Bulan dan membangun negara baru tentu saja menjadi adegan gawat pertama yang dihadapi Gundala dalam pentas hasil terjemahan naskah ke Bahasa Jawa oleh Pelog Trisno Santosa itu. Hal ini seolah-olah meng-iya-kan bahwa mereka, rakyat sipil, pun juga kecewa dengan kondisi negaranya sehingga memilih jalan alternatif, apa saja, yang tersedia.
Gawat kedua yang dihadapi Gundala bisa jadi adegan perkelaiannya dengan superhero lainnya di akhir adegan yang tidak berujung pada penyelesaian masalah. Superhero adalah sosok setengah dewa dan biasa digambarkan sebagai harapan terakhir umat manusia, setelah manusia terkuat pun tidak mampu memerangi kejahatan. Adegan perkelaian itu seakan memberikan pandangan bahwa kekuatan setengah dewa pun tidak mampu memperbaiki dan menyelamatkan keadaan warga.
Lalu, jika keadaan benar-benar gawat seperti itu pada siapa warga harus bergantung?


Leave a Reply