Gunung Kemukus: Dari Gunung Cinta Hingga Cerita Salah Memaknai Pesan Sang Penyebar Agama

Objek Wisata Gunung Kemukus Sumberlawang Kabupaten Sragen

Gunung Kemukus adalah kawasan berupa bukit yang menjulang di tepi Kali Serang tepatnya di bagian selatan Waduk Kedung Ombo, Kabupaten Sragen. Di atas bukit itu bersemayam Pangeran Samudro, salah satu putra raja terakhir Majapahit yang masuk dan belajar Islam dan menyebarkan agama. Sepeninggalnya ribuan peziarah berdatangan ke makamnya hingga kini terutama di bulan Suro (Muharram – Kalender Islam).

Namun sejak era 1970-an kawasan yang juga masuk dalam lokasi tujuan wisata di Sragen ini bersinar di mata ribuan pengunjungnya dengan cara yang lain. Tidak hanya karena hormat pada sang Pangeran beberapa peziarah saat itu juga mulai melakoni ritual ziarah dengan cara sesat. Mereka yang datang tidak hanya dari kawasan sekitar Sragen saja tetapi juga datang dari berbagai lokasi di Indonesia terutama Jawa.

Pada musim air tinggi lokasi Gunung Kemukus tampak seperti pulau yang terpisah dari daratan utama (dari arah timur atau jalan raya Solo – Purwodadi). Saat musim itu pengunjung harus menggunakan jasa perahu penyeberangan untuk menuju kawasan ini. Sementara saat air waduk mengering jalan dan jembatan penghubung akan muncul di antara kebun-kebun jagung yang juga bermunculan setiap kali air menyusut.

Pada saat saya mengunjungi objek wisata ini kondisi Kali Serang sedang mengering. Perahu-perahu penyeberangan tampak “tergeletak” di antara kebun jagung warga. Panas matahari saya rasakan lebih menyengat saat berada di kawasan ini. Hanya saat berada di puncak bukit Gunung Kemukus saja suasana teduh dapat saya rasakan.

Objek Wisata Spiritual Gunung Kemukus Kabupaten Sragen

Lokasi makam Pangeran Samudro berada di puncak bukit di ujung anak tangga menuju puncak di dalam Bangsal Sonyoruri, di dalam bangunan joglo. Di dalam bangunan itu makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan dapat ditemui. Saat masuk ke dalam bangsal itu saya menjumpai beberapa peziarah yang tengah berdoa di samping makam.

Untuk mencapai lokasi ini terdapat beberapa jalan yang dapat dipilih. Bagi wisatawan diharuskan terlebih dahulu membayar tiket masuk di gerbang utama seharga Rp 5 ribu*. Akses menuju puncak bukit adalah ratusan anak tangga yang yang menanjak kurang lebih 300 meter. Di kanan kiri anak tangga terdapat banyak bangunan warung dan penginapan permanen dan semi permanen.

Berada di bagian yang lebih tinggi pepohonan besar seperti pohon beringin dan asem dapat dijumpai di kanan dan kiri jalan. Hanya saja di antara pepohonan itu banyak berdiri warung yang membuat suasana tidak asri. Ditambah lagi banyak sampah plastik berserakan di tanah yang membuat pemandangan area itu tampak kumuh. Padahal dari atas bukit ini pengunjung dapat menikmati pemandangan indah di sekitar waduk terutama saat datang musim penghujan.

Makam Pangeran Samudro - Ontrowulan Puncak Gunung Kemukus

Selain tujuan utama ke makam saya juga mengunjungi Sendang Ontrowulan yang berada di sisi utara bukit. Tersembunyi di balik bangunan mirip kios dan rimbunan pohon beringin Sendang Ontrowulan menjadi satu bagian penting dari prosesi ritual yang harus dijalani peziarah saat menjalankan prosesi ngalap berkah. Karena di sumber air inilah seorang peziarah disarankan mensucikan diri sebelum menjalani ziarah di makam Pangeran Samudro.

Saat mengunjungi lokasi yang juga dikenal dengan sebutan GK ini pengelola makam sedang menggelar ritual tradisi Larap Slambu (setiap 1 Suro). Di hari pertama dalam kalender Jawa itu pengelola akan mencuci kain penutup makam Pangeran Samudro. Dan dalam tradisi itu ratusan warga dari berbagai daerah datang memadati kawasan ini untuk berebut air sisa cucian tirai.

Mulai Tahun 1970-an

Juru kunci Kemukus menceritakan bahwa sejak tahun 1970-an kawasan Kemukus ramai dikunjungi peziarah yang datang dengan maksud tertentu dan mulai menjalankan ritual sesat. Mereka membawa masalah dan beban yang mereka miliki ke lokasi yang dianggap keramat ini. Dengan berziarah ke lokasi ini mereka berharap akan mendapatkan solusi untuk masalah mereka dan juga bantuan untuk meringankan beban mereka. Beginilah cara GK terkenal di sebagian kalangan peziarah.

Pada tahun-tahun itulah ritual kontroversi itu mulai bermunculan dan masih menjadi pembicaraan ramai hingga saat ini. Ritual itu dikatakan harus dijalani dengan cara berhubungan intim dengan lawan jenis yang tidak dikenal yang ditemui saat berziarah ke makam pada malam tertentu dalam penaggalan Jawa (Jum’at Pon). Beberapa orang percaya bahwa dengan menjalaninya selama tujuh kali berturut dalam rentang waktu tertentu maka hal yang paling diinginkan akan terwujud.

Ritual Tradisi Suro Larap Slambu Gunung Kemukus

Tetapi kemudian ritual sesat itu juga yang mengubah wajah GK hingga saat ini. Berawal dari ritual kemudian pada tahun 1980-an “penjaja jasa” atau tuna susila bermunculan menawarkan jasa mereka pada peziarah yang ingin menjalankan ritual. Keberadaan tuna susila itulah yang kemudian memunculkan bisnis terselubung di dalam ritual ziarah Kemukus. Dan kini sudah menjadi rahasia umum kawasan ini juga dikenal sebagai kawasan prostitusi.

Menurut juru kunci GK munculnya ritual terlarang itu karena peziarah salah mengartikan pesan terakhir Pangeran Samudro. Pesan tersebut berbunyi, “Sapa sing duwe panjongko marang samubarang kang dikarepake, bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep ati, kang suci, ojo slewang-sleweng. Kudu mindang-marang kang katuju cedhakno dhemene, kaya dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane.”

“Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikehendaki maka untuk mencapainya harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati yang suci. Harus konsentrasi pada yang dikehendaki untuk mendekatkan diri dengan keinginan, seakan-akan seperti menuju ke tempat yang disayanginya atau kesenangannya.”

Kata terakhir dhemenan dalam pesan itulah yang oleh juru kunci dikatakan banyak disalah-artikan oleh peziarah. Karena dhemenan dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai “kekasih” (dalam arti negatif).

Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan

Peter Levenda dalam buku berjudul “Tantric Temples: Eros and Magic in Java” menyebutkan bahwa dari semua kisah yang beredar Pangeran Samudro menurutnya adalah simbol dari “unconditional love” atau “cinta tanpa syarat”.

Memang banyak versi cerita yang berkembang, beberapa versi menyebutkan wafatnya Pangeran Samudro konon dikarenakan sakit yang dideritanya setelah dirinya memilih untuk belajar dan mendalami Islam kepada Sunan Kalijaga di Demak. Dirinya juga dikisahkan menjalin hubungan dengan Nyai Ontrowulan yang tak lain adalah ibunya sendiri.

Nyai Ontrowulan pun dikisahkan memilih menyusul Pangeran setelah mengetahui kabar kematiannya. Saat itulah dirinya mendengar bisikan gaib dari Pangeran untuk mensucikan diri di sumber air jika ingin menemuinya. Dan di sumber air itulah kemudian Nyai Ontrowulan muksa atau lenyap. Setelah itu sumber air itupun dinamai sesuai namanya, Sendang Ontrowulan, dan karena itu pula mensucikan diri di sendang menjadi satu bagian penting dalam berziarah ke makam Kemukus.

Sementara nama Kemukus sendiri datang dari kisah asap hitam (kukus - Jawa) yang selalu menyelimuti bukit setiap datang pergantian musim. Kejadian itu selalu berulang sepeninggal Pangeran. Dan karena kejadian itu pun warga menamai kawasan itu dengan sebutan Gunung Kemukus.

* Tiket masuk kurun waktu Oktober 2013

Sponsored Links

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>