Solo Raya adalah lanskap dari kebudayaan Jawa. Tidak hanya dapat dilihat dari kekayaan peninggalan bersejarahnya, budaya dan tradisi masyarakatnya juga masih memperlihatkan kekayaan itu. Salah satu hal yang paling kentara adalah banyaknya tradisi ritual digelar pada 1 Suro atau Tahun Baru Jawa. Hampir di sebagian besar wilayah Solo Raya ritual penyambutan digelar termasuk juga di Gunung Kemukus, Sragen.
Selasa pagi kemarin (05/11/2013) suasana jalanan kampung di Desa Pendem menuju makam Pangeran Samudro di puncak Gunung Kemukus tampak ramai. Dari jalanan kampung menuju objek wisata Gunung Kemukus rentetan umbul-umbul dipasang menghiasi jalanan. Tanda khas akan ada hajatan besar di wilayah ini.
Masuk lebih dalam lagi makin banyak janur kuning di pasang sebagai hiasan di sepanjang jalan hingga puncak bukit. Dari pintu masuk objek wisata Gunung Kemukus hingga pendopo makam banyak dijumpai penjor (hiasan bambu melengkung dengan janur kuning). Tanda lain bahwa ada hajatan di daerah itu.
Pagi hari itu warga Gunung Kemukus tengah mempersiapkan hajatan tahunan yang rutin digelar setiap 1 Suro yaitu Larap Slambu. Tradisi ritual mencuci kain penutup makam Pangeran Samudro yang dipercaya sebagai keturunan raja terakhir Majapahit yang masuk Islam dan menyebarkan agama Islam.
Larap slambu dalam bahasa Jawa biasa diartikan sebagai menurunkan atau mengganti kelambu atau tirai penutup atau penyekat. Karena itu ritual tradisi larap slambu makam Pangeran Samudro ditandai dengan mengganti kain penutup makam dengan kain baru setelah mencuci kain penutup lamanya.
Prosesi ritual tradisi di kawasan yang berdekatan dengan Waduk Kedung Ombo ini dimulai dengan iring-iringan pembawa slambu menuruni ratusan anak tangga. Dari makam Pangeran Samudro di atas bukit rombongan pembawa slambu turun menuju Kali Serang untuk mencelupkan slambu ke dalam air sungai. Setelah itu prosesi berlanjut dengan membilas slambu menggunakan air kembang di bangsal terbuka yang terletak di bawah pendopo makam.
Selama prosesi pencucian berlangsung dua kali, di kali dan di bangsal, antusiasme warga yang hadir sangatlah tinggi. Berbekal ember hingga botol bekas air mineral ratusan warga yang hadir berebut tetesan air sungai dari slambu juga bekas air bilasan dalam wadah tong. Berada di tengah riuh kerumunan saya turut merasakan kegigihan mereka untuk mendapatkan sebotol air. Ritual yang selalu menarik bagi sebagian warga karena menganggap air bekas jamasan dapat mendatangkan berkah.
Air sungai yang menetes dari slambu atau juga air bekas bilasan tidak hanya diperebutkan untuk mencuci muka atau mengguyur badan saja demi mendapatkan tuah. Air bekas cucian itu bahkan telah menjadi komoditi tersendiri sehingga banyak warga yang ikut berebut sebenarnya hanya “penjaja” air.
Puluhan anak usia sekolah dasar yang turut berebut, bahkan, menghargai air tadi senilai Rp 20 ribu untuk satu botol ukuran 1.5 liter. Tidak hanya anak-anak tadi, ada juga “penjaja” yang mendapatkan berbotol-botol air dan mengaku bahwa air itu adalah pesanan dari konsumen mereka.
Kondisi seperti ini memang sudah lazim berjalan selama puluhan tahun terakhir. Hal itu tidak terlepas dari ritual yang sering dijalankan peziarah saat mengunjungi makam Pangeran Samudro (sebagian peziarah adalah pemesan air). Terlebih lagi sebagian besar peziarah yang datang justru berasal dari lokasi yang jauh dari kawasan yang terletak tidak jauh dari Jalan Raya Solo – Purwodadi ini.





wah menarik dan apik mas..mbok kapan2 aku juga di ajak blusukan di Solo dan sekitarnya..tks