Lokasi parkir di depan joglo kompleks makam Sunan Pandanaran di Desa Paseban, Bayat, Klaten, selalu tampak ramai saat akan memasuki bulan puasa. Di bulan Ruwah seperti ini, orang Jawa sering mengartikannya sebagai bulan arwah. Dan pada bulan seperti ini, masyarakat Jawa sering melaksanakan tradisi sadranan atau ziarah ke makam leluhur untuk mendoakan arwah para pendahulu.
Puncak keramaian ziarah di kompleks pemakaman yang terletak di atas Bukit Jabalkat akan semakin ramai mendekati tanggal 27 bulan Ruwah. Dimana pada tanggal tersebut, konon, Sunan Pandanaran, yang juga dikenal sebagai Sunan Bayat, yang menyebarkan agama Islam di masa yang sama dengan Wali Sanga mendapatkan pencerahan untuk menggantikan Syeh Siti Jenar dalam keanggotaan Wali Sanga.
Selain dipercaya sebagai tanggal pencerahan, tanggal 27 bulan Ruwah juga dipercaya sebagai tanggal wafatnya sosok yang juga menjadi bupati pertama Semarang itu.
Jodangan memperingati wafatnya Sunan Pandanaran
Selain keramaian peziarah yang datang dari berbagai wilayah menggunakan bus-bus besar, tampak juga keramaian lain di joglo kompleks pemakaman pada tanggal 27 Ruwah atau Sabtu, 6 Juli 2013, kemarin. Terlihat ibu-ibu berdandan rapi mengenakan kebaya berkumpul sambil membawa nasi tumpeng di area joglo. Mereka adalah perwakilan warga dari Desa Paseban dan juga para pedagang yang berjualan di kawasan makam.
Tumpeng-tumpeng yang mereka buat itu akan diikut sertakan dalam kirab karena di lokasi makam sedang digelar tradisi jodangan Sunan Pandanaran atau Haul Agung Sunan Pandanaran. Dalam tradisi yang digelar rutin setiap tanggal 27 bulan Ruwah itu, masyarakat setempat akan menggelar kendurian dan juga doa bersama di puncak Bukit Jabalkat tepatnya di Pendapa Broboyekso serta tabur bunga di makam Sunan Pandanaran.
Prosesi tradisi sadranan Sunan Pandanaran ini akan dimulai dengan kirab jodang dan kirab tumpeng. Jodang yang berisi nasi gurih, ingkung ayam, pisang, dan beberapa uba rampe lainnya akan ditandu menuju puncak Bukit Jabalkat dari joglo, mendaki 250 anak tangga makam. Seluruh kenduri ini akan diletakan di dalam Pendapa Broboyekso.
Sebelum nasi kenduri ini dibagikan kepada warga yang hadir mengikuti prosesi, panitia jodangan terlebih dahulu menggelar tahlilan atau doa bersama. Setelah prosesi tahlil selesai maka peserta tahlil akan menuju puncak bukit untuk berziarah ke makam Sunan Pandanaran yang berada di dalam Gedong Intan.
Dalam prosesi ziarah yang berlangsung di dalam bangsal tertutup itu masing-masing peziarah akan berusaha mencari kembang kanthil sesaat setelah mereka menaburkan bunga di atas makam Sunan Pandanaran. Mereka meyakini dengan mendapatkan bunga kanthil maka mereka akan mendapatkan rejeki.
“Kembang kanthil maksudnya agar rejeki bisa kemanthil (mengikuti),” terang Jimin, salah satu panitia jodangan. Dengan mendapatkan bunga kanthil maka warga percaya rejeki akan mengikuti mereka nantinya.
Berbarengan dengan prosesi ziarah atau tabur bunga, kenduri telah dibagikan kepada warga yang hadir. Dan setelah itu warga pun bisa menikmati hiburan jathilan yang selalu dihadirkan untuk mengiringi prosesi jodangan makam Bayat.
Pasang langse atau tradisi mengganti kain penutup makam
Prosesi yang juga menjadikan tradisi dalam sadranan makam Bayat khas adalah prosesi pasang langse atau penggantian kain penutup makam. Prosesi yang sudah digelar terlebih dahulu pada Minggu, 30 Juni 2013, itu juga dianggap sebagai salah satu prosesi paling sakral.
Kain penutup baru akan dipasangkan sementara kain penutup lama akan dibagi ke dalam ukuran yang lebih kecil. Potongan-potongan kain itu kemudian akan dibagikan kepada peziarah atau warga yang menginginkannya. Potongan kain lama penutup makam itu dipercaya oleh sebagaian warga memiliki tuah.
Selain kirab jodangan dan pasang langse, masyarakat sekitar dan juga peziarah dapat mengikuti berbagai sajian kegiatan dalam Haul Agung Sunan Pandanaran Bayat 2013. Pengajian akbar, midodareni, hingga pentas seni berupa pertunjukan reog dan wayang kulit akan digelar dalam kegiatan yang berakhir pada hari Minggu, 7 Juli 2013.
Jimin juga menerangkan bahwa sebagian besar biaya prosesi yang mencapai 50 juta rupiah merupakan sumbangan dari para peziarah yang datang ke makam selama satu tahun.
Ingin menyaksikan Haul Agung Sunan Pandanaran. Kapan waktu penyelenggaraan selanjutnya?



Leave a Reply