Georg Trakl atau yang lebih sering dipanggil Trakl oleh sebagian besar pembaca puisi-puisinya adalah seorang sastrawan Austria yang dianggap sebagai salah satu sastrawan dunia. Karya-karya tulisannya yang dikenal suram, yang diciptanya pada era 1900-an, kini dapat dinikmati pembaca Indonesia melalui sebuah buku kumpulan puisi dwibahasa dengan judul “Georg Trakl: Mimpi dan Kelam Jiwa.”
Kumpulan puisi karya Georg Trakl ini menjadi buku jilid ke-tujuh dari “Seri Puisi Jerman” yang sebelumnya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Menandai peluncuran buku kumpulan puisi dwibahasa ini adalah acara diskusi dan pembacaan puisi Georg Trakl di empat kota yaitu Semarang, Yogyakarta, Magelang dan Solo.
Di Kota Solo, kegiatan diskusi dan pembacaan puisi Georg Trakl yang dipersembahkan oleh Goethe Institut Indonesia bekerjasama dengan Rumah Buku Dunia Tera digelar malam tadi (20/02/13) di gedung pertunjukan Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta (TBJT). Dan hadir sebagai pembaca puisi semalam adalah Sosiawan Leak, Dorothea Rosa Herliany (pembaca sekaligus moderator), dan Berthold Damshauser (editor dan penterjemah).
Beberapa karya puisi Trakl dipilih untuk dibacakan secara bergantian oleh ketiga narasumber tadi. Beberapa karya seperti Mimpi dan Kelam Jiwa, Lembut Malam Biru Terbit Di Dahi-Dahi Kita, atau Kepada Mereka Yang Membisu adalah beberapa karya dari 40 puisi yang dicetak dan dialih bahasakan kedalam buku setebal 136 halaman oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshauser.
Georg Trakl adalah seorang sastrawan Austria yang mati muda di usia 27 tahun karena over dosis. Tidak hanya kecanduan terhadap narkoba, sastrawan yang lahir pada 3 February 1887 dan meninggal pada 3 November 1914 dan juga pernah berprofesi di bidang farmasi ini diduga kuat menderita skizofrenia atau gangguan kejiwaan dimana seseorang tidak dapat membedakan halusinasi dari kenyataan.
Mengkonsumsi narkoba sudah dilakukannya sejak usia remaja yang kemudian diperparah dengan hubungan buruknya dengan sang ibu serta kenyataan bahwa dia menjalin hubungan asmara dengan adik kandungnya sendiri (inses). Lebih buruk lagi hubungan inses itu disetujui sendiri oleh sang adik dan telah mereka lakukan saat usia mereka begitu muda.
Hubungan inses bersama sang adik ini semakin mengubah hidup Trakl yang sebelumnya telah jauh dari sosialisasi dengan manusia lain. Trakl yang begitu mengistimewakan adiknya menganggap jijik terhadap dirinya sendiri karena telah mencintai adiknya. Dan dengan segala latar belakang hidupnya itu puisi-puisi karya Trakl sangat menonjolkan rasa putus asa, keterasingan manusia, dan kebencian terhadap peradaban modern.
Maut dan Kelelapan, Rajawali Muram itu.
Semalaman mendengungi Kepala:
Agar Citra Kencana Manusia
Ditelan gigil Banjir
Sang Keabadian. Poranda lah
Tubuh Ungu ini di seram Karang.
Dan gelap Suara
Meratap di atas Lautan
Wahai, Dinda kemurungan membadai
Lihatlah, Sampan Cemas tengah tenggelam
Di bawah Gemintang, Wajah Bisu Sang Malam.“Ratapan” karya Georg Trakl
Suasana gulita dalam puisi-puisi Georg Trakl inilah yang malam tadi menyelimuti Teater Arena yang juga dingin diguyur hujan. Puisi Trakl begitu kental dengan suasana hitam. Bahkan karakter-karakter di dalam karyanya ditafsirkan sebagai cerminan dirinya sendiri, sehingga saat membaca atau mendengarkan syair karyanya pembaca atau pendengar seolah sedang membaca Trakl atau otobografi Trakl yang begitu tragis.
“Butuh lebih dari nalar kata,” terang Sosiawan Leak kepada pengunjung seusai pembacaan. Bahkan dia juga menghimbau pembaca untuk meletakan struktur atau teori puisi untuk dapat menikmati puisi-puisi Trakl yang dianggap lebih susah dipahami secara diksi namun menawarkan sebuah “ketidak-bosanan” saat berulang-ulang kali membacanya.
Tidak hanya Sosiawan Leak yang didaulat sebagai pembaca saja yang menanggapi karya puisi Trakl sebagai sebuah “ketidak-sadaran” yang selalu memiliki sisi gelap dalam syairnya. Beberapa pengunjung yang memberikan tanggapan juga merasakan hal yang sama. “Memberikan siksa tanpa air mata,” terang salah seorang pengunjung bahkan hingga ada yang mempertanyakan kenapa Trakl dipilih sebagai salah satu maestro puisi karena dipandang terlalu kuat “ke-aku-annya” (sosok Trakl) dalam tiap puisi-puisinya.
Berthold Damshauser selaku penterjemah dan hadir sekaligus menjadi nara sumber mengakui bahwasanya dirinya sendiri belum pernah menemukan puisi Jerman dengan suasana begitu muram dan kelam hingga dia serius meneliti tafsir puisi karya Trakl. Dirinya menilai bahwa kata-kata yang digunakan Trakl dalam puisinya cenderung biasa namun rasa yang diberikannya begitu dalam meskipun cukup sulit bagi pembaca untuk menafsirkan makna dari syair-syair itu.
Karena itu Berthold Damshauser menghimbau pembaca untuk menggunakan rasa ketika membaca puisi Trakl. Seperti ketika sedang mendengarkan musik, terang dirinya, kita tanpa harus mengerti maknanya namun dapat menikmati iramanya. “Musik kata!” cetus Berthold Damshauser saat memilih frase yang pas untuk menggambarkan sastrawan yang pernah berencana untuk mengasingkan diri ke Borneo itu.
Puisi-puisi Sastrawa Tragis Austria yang berhasil didokumentasikan lebih kurang berjumlah 100 karya. Jumlah yang begitu sedikit mengingat saat remaja Trakl pernah membakar karya-karyanya sendiri. Georg Trakl sendiri juga tidak pernah merasakan ketenaran selama 27 tahun hidupnya. Selang waktu lama setelah kematiannya barulah karya-karya Trakl dipublikasikan dan dikenal publik hingga menjadi pujaan banyak pujangga dan penikmat sastra.




Leave a Reply