“Carut marutnya persoalan sosial, ekonomi, dan politik bangsa. Pergolakan dan ketidakadilan yang membuat rakyat seakan tidak percaya lagi pada Pemerintahannya, merupakan ide yang tiada habis-habisnya untuk digali dan disikapi. Maka Udin kembali bergerak.”
Drs. Bonyong Munny Ardhie dalam “Saiffudin Yang Provokatif”
Tak salah jika Drs. Bonyong Munny Ardhie dalam artikelnya yang berjudul “Saiffudin Yang Provokatif” menulis demikian provokatifnya, seperti yang tercantum di atas. Menilik latar belakang Saiffudin Hafiz yang memang lekat dengan pergerakan kerakyatan sejak tahun 1990-an dan pergerakannya bersama forum atau kelompok pro-rakyat dalam wujud kesenian, tak kaget jika saat ini kita masih dapat menikmati karya-karyanya dalam sebuah pameran tunggal Trilogy of Nation yang dibuka untuk umum di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah.
Saiffudin Hafiz yang juga pernah bekerja bersama aktivis Wiji Thukul pada era 1990-an ini dalam pamerannya mengangkat tiga masalah utama negeri dalam karya-karyanya yang berjudul “Mikul Dhuwur, Dijarah Tikus”, “Segelas Kopi Bangsa”, dan “Lapindonesia”. Ketiga karya ini adalah refleksi dari apa yang ditangkap oleh Saiffudin Hafiz yang menurutnya adalah tiga masalah utama yang dihadapkan pada Indonesia saat ini, yaitu masalah korupsi, kekerasan atau konflik, dan sosial ekonomi kerakyatan.
Pameran tunggal Trilogy of Nation adalah sebuah cetusan yang diawali sejak tahun 2010 saat Saiffudin bersantai di angkringan dan terinspirasi oleh Trilogi Celeng karya Joko Pekik. “Pemerintah yang sekarang dan pemerintah dulu tidak ada bedanya,” tutur Saiffudin saat kami tanya soal permasalahan yang memang muncul di era sekarang ini. Di era yang menurut Saiffudin adalah era terkelompokan, saat ini dirinya ingin kembali mencoba menyentil perasaan para penikmat lukisannya melalui karya-karyanya yang dipamerkan. Selain itu dirinya juga ingin berbicara secara umum melalui lukisan bukan melalui diskusi hukum atau politik yang cenderung susah dipahami oleh beberapa kalangan masyarakat.
Dalam ketiga karyanya ini, terlihat jelas gambaran akan persoalan yang dimunculkan oleh Saiffudin melalui rekaman hitam putih yang ia padukan dengan warna merah darah. Tiga karya yang juga menggambarkan tiga persoalan utama ini memang saling berkait dan terhubung dan itu pula yang coba disuguhkan oleh Saiffudin. Dari karya “Mikul Dhuwur, Dijarah Tikus” misalnya, di mana terlihat bagaimana Saiffudin menggambarkan tikus-tikus sebagai representasi koruptor menyerbu negeri ini dan berujung pada kesengsaraan rakyat. Dalam karya ini pula dirinya juga menggambarkan bagaimana sia-sianya rakyat yang ingin mengangkat harkat dan martabat bangsa dengan harus berdarah-darah dan harus berakhir di tangan tikus.
Tak berbeda jauh dengan karya “Mikul Dhuwur, Dijarah Tikus”, Saiffudin juga terlihat provokatif dalam kedua karya lainnya di mana dirinya menggambarkan rakyat yang tertindas oleh konflik dengan otoritas bersenjata seperti militer dengan banyak memunculkan gambar senjata api dalam lukisannya. Atau di mana dirinya menggambarkan kesengsaraan warga yang tercabut dari akar budayanya saat mereka harus terusir karena luapan lumpur Lapindo.
Namun, di luar gambaran hitam putih yang memang dominan dan warna merah darah yang juga muncul kuat di antara bentuk-bentuk monochrome lukisan. Saiffudin Hafiz tak lupa menguatkan aroma merah putih lewat instalasi yang terpasang tepat di tengah galeri pameran. Instalasi ini terlihat menyatu dengan karya lukisan-lukisan Saiffudin “Lapindonesia”, di mana dirinya memuat genting-genting yang terjajar rapi namun tak nampak rumah karena tenggelam dalam lautan lumpur. Di atas instalasi genting-genting rumah terdapat puluhan papan kayu yang tergantung dengan warna dasar merah putih pada satu sisi dan terdapat seruan-seruan yang tertulis di sisi lainnya. Dan rangkaian instalasi itu kemudian berakhir di sisi selatan yang berupa kursi-kursi yang tergantung di atas awan, lengkap dengan paku-paku berkarat yang tertanam di bawah alas duduk kursi kayangan tersebut. Pameran tunggal seni rupa pembebasan ini pun semakin lengkap dengan lantunan lagu-lagu yang disajikan dalam ruang pameran. Seolah menjadi soundtrack pameran, lagu-lagu dari Jaker (Jaringan Kerja Kesenian Rakyat) mengiringi digelarnya pameran Saiffudin Hafiz yang juga direncanakan akan digelar di Jogja dan juga Jakarta.
Pameran Tunggal Trilogy of Nation oleh Saiffudin Hafiz digelar di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah sejak kemarin tanggal 22 September 2012 dan dapat dikunjungi hingga nanti 28 September 2012. Selain menikmati “provokasi” Saiffudin Hafiz, pengunjung juga dapat mengikuti diskusi budaya yang digelar pada Rabu, 26 September 2012, pada jam 7 malam dengan topik bahasan diskusi “Seni Rupa dan Pembebesan”. Hadir sebagai pembicara adalah Drs. Bonyong Munny Ardhie dan Drs. Zaelani Tammaka.


[…] Baca liputan lengkap di sini […]