“Muka buruk cermin dibelah”, peribahasa ini sudah biasa meskipun masih sangat berlaku di saat seperti ini. Namun ada yang lebih pas lagi untuk saat seperti ini, “Muka buruk cermin dijual”. Dan naskah parodi karya Pak Bina atau Heru Kesawa Murti lah yang dirasa pas dan dipilih Teater CiMan untuk dipentaskan di hadapan ratusan penonton yang membanjiri Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, malam Minggu (23/02/13) tadi.
Teater CiMan atau Teater Citra Mandiri SMA Negeri 2 Surakarta menggelar pentas produksi tunggal dengan mengangkat lakon karya Heru Kesawa Murti yang mengangkat kisah carut marutnya kondisi sebuah keluarga kaya.
Disaksikan oleh ratusan rekan sesama pelajar dan beberapa guru, lima orang pemeran dalam lakon Muka Buruk Cermin Dijual berhasil mendapatkan respon positif. Tampak dari awal hingga akhir pementasan, para pemeran yang kebanyakan anggota baru Teater CiMan dengan rapi menampilkan naskah yang terkenal karena Teater Gandrik itu.
“Lucu sekali tokoh bapak dan ibu tadi,” komentar Intan yang datang bersama rekan-rekannya tentang pentas yang disutradarai Yogi itu. Kedua tokoh yang dimaksud tadi adalah juragan-juragan dalam parodi Muka Buruk Cermin Dijual.
Lakon Muka Buruk Cermin Dijual adalah parodi yang mengisahkan tentang berbagai kisah pelik dalam sebuah keluarga juragan. Namanya parodi tentu saja berujung plesetan, persis seperti judul naskah yang memlesetkan periabahasa “Muka buruk cermin dibelah” yang berarti menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri.
Tokoh pembantu dalam keluarga juragan menjadi si cermin dalam lakon ini. Dialah kambing hitam atas kelakuan orang-orang disekitarnya, terutama kelakuan dua ndoro-nya yang genit. Diceritakan pembantu ini bekerja pada pasangan juragan yang sudah tua usia. Meskipun tua, nafsu birahi kedua tokoh ini tetap sama bahkan melebihi mereka yang masih muda.
Juragan wanita yang sudah begitu tua selingkuh dengan mahasiswa yang indekost ditempatnya. Sementara juragan pria yang tampak lebih tua begitu genit kepada si pembantu yang masih muda. Si pembantu ini adalah penghubung dari kedua sifat buruk juragannya karena dialah yang tahu tentang keburukan kedua juragannya.
Berada di posisi itu ternyata tidak menguntungkan baginya. Saat kondisi rumah makin memanas dia dipaksa untuk menceritakan kejujuran tentang juragan pria oleh juragan wanita, dibawah ancaman jika tidak jujur dia akan diusir oleh juragannya. Di saat bersamaan juragan pria ikut-ikutan mengancam si pembantu jika dia berani berkata jujur kepada istrinya.
Masalah yang dihadapi si pembantu semakin rumit ketika dia membuka kisah tentang perjodohan yang harus dia jalani jika dia kembali kerumahnya. Padahal dari situasi yang ada, sangat memungkinkan dia diusir oleh kedua juragannya dan harus kembali kerumah. Tidak berhenti di situ saja ternyata dia kembali membuka rahasia saat dia mengungkapkan isi hatinya tentang lelaki yang dia cintai namun telah beranak istri.
Situasi itu kemudian mendorongnya untuk berbuat nekat dan ingin mengakhiri hidup. Tentu saja sekejap kemudian semua orang di rumah itu melarangnya. Di momen itu pula dia membuka semua keburukan dan rahasia yang dipendamnya. Namun celaka, sesaat kemudia niat mengakhiri hidup harus dibayar mahal karena gunting yang digunakannya justru menancap di perut lelaki idamannya.
Judul parodi Muka Buruk Cermin Dijual adalah sebuah plesetan dari peribahasa lama yang telah dulu ada. Peribahasa yang diplesetkan ini bisa dimaknai sebagai sebuah sindiran atas peradaban modern yang cenderung menggunakan logika keduniawian.
Begitu pula yang terungkap dalam pementasan semalam. Bagaimana seorang mahasiswa berpura-pura memuja nenek-nenek hanya agar dapat makan dan tinggal gratis. Atau bagaimana seorang perempuan akan dijodohkan untuk kepentingan ekonomi keluarga yang jauh di atas segalanya. Dan yang paling tampak adalah saat pembantu menjadi sasaran kemarahan atas kesalahan yang jelas-jelas dilakukan juragan-juragannya. Dia yang harus terusir dari rumah, dia yang harus ditekan, bukan juragan wanita yang berselingkuh atau juragan pria yang jelas genit.







Leave a Reply