Penempa Alat Musik Dunia Dari Sentra Industri Gamelan Wirun

Sentra Industri Gamelan Desa Wirun Mojolaban Sukoharjo

Panji Pamungkas adalah satu dari beberapa tempat produksi gamelan yang tersebar di kawasan sentra industri gamelan Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Bengkel produksi gamelan yang berada di pojok tenggara Desa Wirun itu adalah usaha milik pribadi dari Muhammad Sahli (48). Dibantu 25 pekerjanya yang bekerja enam hari dalam seminggu, Panji Pamungkas tidak pernah berhenti berproduksi sejak palu pertama kali diayunkan 20 tahun silam.

Sahli dibantu tiga orang pekerjanya tampak sedang mengerjakan bonang yang menjadi bagian dari satu set gamelan yang dipesan seorang konsumen dari Bali. Dengan cekatan menggunakan catut dirinya memutar bonang yang masih merah menyala karena baru saja diangkat dari perapian untuk ditempa oleh seorang pemalu. Dari proses itu, mereka ingin merapikan tepi bonang yang belum tampak bulat sempurna sebelum nantinya akan dikikir dan kemudian diperhalus.

Proses penempaan bonang seperti itu hanyalah bagian kecil dari proses panjang dalam membuat satu set gamelan yang biasa memakan waktu normal empat bulan. Proses produksi itu bisa semakin lama jika banyak pekerja yang tidak masuk dan pastinya membuat jumlah perapian yang bisa digunakan berkurang.

Industri Gamelan Wirun Desa Wisata Wirun Mojolaban

Sahli belajar memproduksi gamelan dengan bekerja pada seorang maestro gamelan di desanya sebelum akhirnya mendirikan bengkel produksinya sendiri. Tepat pada 14 April 1994 dirinya mendirikan usaha kerajinan gamelan yang diberi nama Panji Pamungkas dan kini telah berkembang dengan memiliki tiga bengkel dengan tiga perapian juga alat-alat tradisional hingga alat bermesin yang digunakan untuk membuat gamelan.

Panji Pamungkas berada satu atap dengan rumah Sahli yang beralamat di Desa Wirun Mojolaban RT 01 RW 05, kawasan yang juga dikenal sebagai Desa Wisata Wirun salah satu desa wisata di Solo Raya. Tiga perapian dan tiga bengkel yang tampak usang oleh jelaga pembakaran menjadi tempat pembuatan gamelan, mengerjakan pesanan-pesanan gamelan yang datang dari berbagai pelosok negeri bahkan penjuru dunia.

Dari perapian dan bengkel itu juga Sahli mengaku pesanan tidak pernah sepi meskipun krisis menghantam ekonomi dan mempengaruhi harga bahan baku. “Pasti ada pemesan meskipun harga bahan melonjak, gamelan itu kan terkenal di dunia,” terang Sahli yang juga menjelaskan bahwa selain negara-negara Timur Tengah hampir pasti semua mengenal dan memesan gamelan.

Sentra Industri Gamelan Desa Wirun Kecamatan Mojolaban

Bahan baku utama dari pembuatan satu set gamelan adalah Gongso atau campuran tembogo dan rejoso atau tembaga dan timah. Tembaga mudah didapatkan dari Pasar Besi Semanggi yang tak seberapa jauh dari rumahnya, sedangkan timah harus didatangkan dari Bangka. Untuk bagian rancakan (bagian penopang gamelan yang terbuat dari kayu) Sahli menggunakan kayu Nangka atau Jati tergantung dari permintaan pemesan.

Satu set gamelan biasanya dihargai Rp 300 juta hingga Rp 400 juta. Harga itu bisa saja naik jika pemesan menginginkan bagian tertentu dibuat secara khusus seperti berat gamelan ditambah atau rancakan dibuat dengan kayu kualitas terbaik. Jika ada pesanan seperti itu maka harga satu set gamelan bisa naik hingga Rp 1 milyar.

Selain harga bahan baku yang tinggi, proses lama serta ketelitian yang dibutuhkan dalam membuat alat musik tradisional itu menjadi penentu mahalnya harga gamelan. Sahli yang mendapatkan pengetahuannya dari bimbingan Reso Dakir, maestro pembuat gamelan di sentra industri gamelan Wirun, masih menyimpan keinginan untuk mengembangkan usahanya setelah 20 tahun berjalan.

Panji Pamungkas Pembuat Gamelan Desa Wirun Sukoharjo

Meskipun dua anaknya tidak menuruni keterampilan yang dimilikinya, Sahli tetap memiliki keinginan besar untuk meningkatkan kapasitas produksi bengkelnya. Dirinya mengaku ingin mengembangkan usahanya termasuk dengan mengembangkan alat produksi yang berarti mengikuti perkembangan jaman.

Sahli mengatakan bahwa dirinya tidak takut jika dianggap merusak tradisi oleh perajin gamelan lainnya. Mengikuti perkembangan jaman diartikannya sebagai mengembangkan gamelan dengan tetap menjaga nilai-nilai tradisi yang telah dipelajarinya selama ini. Tentang perkembangan gamelan itu pula dirinya mencontohkan bagaimana gong berkembang dari alat musik menjadi alat terapi kesehatan di Eropa.

Apapun yang dipilihnya Sahli membuktikan bahwa Panji Pamungkas tidak pernah berhenti berproduksi, padahal usaha yang digelutinya hanya akan berjalan ketika pesanan datang. Menyangkut soal pemasaran Sahli bahkan tidak ambil pusing. Hanya dari pemberitaan dan cerita mulut ke mulut, pemesan selalu datang kepadanya.

pengrajin-gamelan-desa-wirun-kecamatan-mojolaban-sukoharjo 1600

Ketika ditanya soal tidak inginkah dia mendirikan toko atau semacam outlet untuk memasarkan karyanya Sahli menjawab, “Itu tidak perlu, gamelan itu tidak usah dipamerkan semua orang tahu,” dan kembali lagi dirinya menegaskan, “Gamelan itu kan terkenal di dunia.”

Sponsored Links

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>