Pentas Kapai-Kapai Juara Festival Teater Jakarta 2013

Pentas Kapai-Kapai Teater Ghanta Universitas Nasional

Jauh datang ke Solo, Teater Ghanta dari Jakarta Selatan Jum’at malam tadi (07/02/2014) kembali mementaskan lakon karya Arifin C Noer, Kapai-Kapai, naskah yang juga mengantarkan mereka menjadi juara Festival Teater Jakarta 2013 lalu. Tampil di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, rombongan yang juga menjadi bagian dari unit kegiatan mahasiswa Universitas Nasional itu kembali tampil dengan format peraih penghargaan seperti sutradara dan pemeran utama pria terbaik Yustiansyah Lesmana, pemeran utama wanita terbaik Diah Lestari, pemeran pembantu wanita terbaik Kartika Christiani, penata musik terbaik Didit Alamsyah, dan penata artistik terbaik.

Pentas Kapai-Kapai dimulai dengan kemunculan Abu (Yustiansyah Lesmana) yang tengah dibuai dengan dongeng dari Emak (Diah Lestari). Mimik muka Abu tampak begitu senang dengan segala harapan dan kebaikan dari dongeng Emak. Tetapi untuk mewujudkan semua itu Abu harus memiliki Cermin Tipu Daya yang berada di ujung dunia, di toko antik milik Nabi Sulaiman.

Emak tidak sendiri dalam menidurkan dan menjaga Abu dalam mimpinya. Ada Bulan (Kartika) dan juga Yang Kelam (Faris Asjaka) yang membantu Emak. Setiap kali Abu hampir terbangun dari mimpinya, semakin giat juga mereka membuai Abu dengan kesenangan. Saat bangun dari tidurnya Abu seperti menemui kehidupan yang jauh berbeda. Dirinya bukan lagi Pangeran yang tengah menanti Putri. Abu hanyalah seorang buruh dengan istrinya, Iyem (Ipeh), yang sedang hamil.

Mimpi tentang kehidupan “surgawi” Abu semakin hari semakin menjadi hingga dirinya lupa dengan kehidupan nyata yang justru hadir seperti mimpi buruk baginya. Hingga kemalasannya berujung pada pemecatan oleh Majikan. Dari sini kehidupan Abu semakin saja abu-abu, sementara Emak semakin menguasainya. Bahkan saat Kakek (Maulana Pahlevi) datang berkutbah tentang agama, keinginan Abu akan cermin tipu daya justru semakin menjadi.

Pentas Kapai-Kapai Teater Ghanta Surakarta Solo

Lakon yang banyak diartikan sebagai cerminan hidup manusia masa kini tersebut oleh sutradara sekaligus pemeran Abu diartikan sebagai sebuah kontemplasi akan hidup. Apa yang disajikan lakon ini dilihatnya mampu membawa seseorang untuk merenungi keberadaannya sebagai manusia yang hidup dan memiliki harapan. Karena di dalam pentas Kapai-Kapai yang dibawakan Teater Ghanta sendiri juga banyak sifat dasar manusia yang ditampilkan secara vulgar.

Selain penyajian yang padat dan bersih. Selama dua jam penonton juga disuguhi garapan musik akustik serta unsur visual yang apik dan rapi. Penggunaan atribut artistik berbeda muncul hampir di sepanjang pentas Kapai-Kapai. Atribut-atribut yang muncul dan dipadu dengan komposisi gerak menjadi suguhan visual yang lengkap dan mampu menahan penonton hingga dua jam pementasan berlangsung.

Sponsored Links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>