Pertunjukan Tari Rara Mendut: Cerita Cinta Yang Tak Selalu Dikisahkan Suci

Pertunjukan Tari Rara Mendut Karya Dwi Windarti

Kisah cinta Rara Mendut (Roro Mendut) dari Jawa pada abad 17 dengan Pranacitra ternyata tidak selalu muncul sebagai kisah cinta suci. Meskipun tanpa sosok Tumenggung Wiraguna, kisah cinta klasik Tanah Jawa ini masih mampu memunculkan cerita perjuangan melawan kekuasaan dan nafsu yang justru datang dari sosok Pranacitra.

Kisah berbeda Rara Mendut dan Pranacitra muncul dalam pertunjukan tari Rara Mendut karya koreografer Dwi Windarti yang digelar pada, 21 – 22 Oktober 2013, di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Versi berbeda dari kisah cinta semi-sejarah ini adalah bagian dari kampanye tentang perempuan yang diangkat oleh koreografer lulusan ISI Surakarta peraih hibah seni Empowering Women Artists Yayasan Kelola tahun 2012-2013.

Setelah terakhir muncul mempersembahkan karya berjudul Women On, kini dirinya mengusung cerita berbeda tentang perempuan dari pesisir pantai Pati yang telah banyak dikisahkan ulang, termasuk novel trilogi terkenal karya Romo Mangun. Hanya saja kali ini dirinya tidak lagi menampilkan Rara Mendut dan Pranacitra sebagai sosok pasangan kasih suci Jawa.

Dalam pertunjukan tari Rara Mendut koreografer justru memunculkan Rara Mendut sebagai perempuan cantik yang lugu dan bodoh yang pada akhirnya melawan Pranacitra yang memanfaatkannya sebagai alat politik.

Pertunjukan Tari Kontemporer Rara Mendut Dwi Windarti

Memulai keseluruhan adegan pertunjukan dari tata panggung yang menggambarkan kawasan pesisir pantai berpasir sosok Rara Mendut, diperankan oleh Dwi Windarti sendiri, diceritakan beradegan mesra dengan Pranacitra, Danang Ramadhan. Tetapi juga di atas pasir pantai itu dikisahkan Pranacitra memulai memperalat kekasihnya melalui cara yang paling dikenal dari sosok Rara Mendut, menjual rokok yang telah dihisapnya.

Adegan demi adegan lalu dimunculkan tidak hanya dengan konsep tarian saja. Elemen wayang, dalang, dan juga teater muncul membangun kuatnya sosok Rara Mendut dengan batang rokoknya. Tiga lelaki dimunculkan tergila-gila dengan sosok wanita penjual rokok setelah sebelumnya dimunculkan tiga wanita dengan menghisap rokok menari dengan gerak gemulai menggoda.

Adegan penutup muncul setelah itu dimana sepasang kekasih itu justru bertemu dalam pertarungan dimana mereka bergumul dengan bersenjatakan keris. Dalam adegan itu juga screaming vocal dari penyanyi Stephanus Adjie Down For Life dimunculkan mengiringi pertarungan. “Geger goro kagiri-giri gogrok atiku” atau “bencana dasyat menghancur hatiku” mengiringi adegan dua sosok yang akhrinya saling menghunuskan keris.

Pertunjukan Tari Rara Mendut Teater Arena TBS

Baru namun tetap tentang isu perempuan

Koreografer sekaligus sutradara pertunjukan tari kontemporer Rara Mendut Dwi Windarti dikenal sebagai koreografer yang aktif mencari bentuk baru dari pertunjukan. Dan dalam pertunjukan kali ini penonton disuguhi berbagai elemen di luar tari dan juga perpaduan elemen tradisional dan modern seperti music electronic dan iringan screaming vocal cadas yang dipadu dengan elemen pedalangan, wayang dan karawitan.

Pertunjukan tari yang sarat tentang isu perempuan juga masih menjadi tema besar dalam karyanya. Setelah dalam karya tari sebelumnya dirinya mengangkat tema kemandirian perempuan kini pilihan jalan hidup yang harus dengan cerdas ditentukan seorang perempuan menjadi tema yang diusungnya.

Sponsored Links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>