• Home
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Twitter
  • Facebook
  • RSS

CHIC:ID

Nikmati Siklus Hidupmu

  • Wisata
  • Tradisi dan Budaya
  • Agenda Acara Kota Solo
  • Seni dan Pertunjukan
  • Fotografi
  • Musik
Beranda - Wisata - Wisata Boyolali - Rumah Arca Sonokridanggo, Gerbang Waktu Masa Hindu - Budha Boyolali

Rumah Arca Sonokridanggo, Gerbang Waktu Masa Hindu - Budha Boyolali

February 11, 2014 by Wawan Surajah Leave a Comment

Rumah Arca Sonokridanggo Boyolali Peninggalan Hindu - Budha

Dalam catatan sejarah selama ratusan tahun kawasan Boyolali secara bergantian masuk dalam daerah kekuasaan beberapa kerajaan Hindu - Budha. Kerajaan Mataram Kuno (abad 8 - 10) tercatat menjadi salah satu yang terlama sebelum akhirnya pindah ke Jawa Timur dan sering disebut dengan Medang. Ada juga Kerajaan Kadiri (abad 11 - 13) hingga akhirnya masa Hindu – Buddha berakhir saat Majapahit jatuh dari kerajaan Islam Demak. Dari kurun waktu itu banyak peninggalan bersejarah Hindu - Budha tersebar di wilayah Boyolali. Sebagian dari peninggalan itu ditemukan dalam kondisi baik. Namun sebagaian besar ditemukan dan disimpan dalam kondisi rusak.

Pagi pada Jum’at pertengahan bulan Januari lalu (24/01/2014) suasana taman kota Sonokridanggo tidak berbeda seperti biasanya. Tenang dan hanya tampak beberapa pasangan remaja duduk bersantai di kursi taman serta beberapa siswa-siswi taman kanak-kanak berolahraga di area taman. Di sisi lain taman tampak beberapa orang tengah asyik bermain tenis di bawah langit yang agak mendung pagi itu.

Masuk dari arah pintu area parkir (selatan) taman kota Boyolali, Rumah Arca Sonokridanggo yang dikelola Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah itu tidak tampak terlihat wujudnya. Dari kejauhan hanya tampak arca Ganesha setinggi pria dewasa dan yoni berukuran besar. “Trus dimana rumah arcanya?,” tanya Stevanus, rekan perjalanan dari Solo yang juga tertarik mengunjungi rumah arca. Setelah beberapa langkah dari tengah taman jawaban pertanyaan Stevanus pun terjawab. Lokasi rumah arca itu menjorok ke dalam di pojok utara taman di belakang gapura dan tertutup pagar taman.

Rupanya arca Ganesha dan yoni tadi adalah petunjuk lokasi rumah arca. Arca dewa dalam agama Hindu itu terlihat seperti penjaga bagi bangunan Rumah Arca Sonokridanggo yang berdiri di belakangnya. Meski kondisi belalai serta cawan yang melambangkan sumber ilmu pengetahuan telah hilang, hal itu tidak mengurangi dipilihnya Ganesha sebagai petunjuk keberadaan rumah arca di dalam taman yang berlokasi di tepi Jalan Pandanaran tersebut.

Rumah Arca Sono Kridanggo Boyolali Cagar Budaya

Tiga petugas juru pelihara menyambut kami pagi itu dengan ramah mereka adalah Iskandar, koordinator juru pelihara, dan Karninto serta Giyanto selaku juru pelihara. Ketiga juru pelihara yang berstatus Pegawai Negeri Sipil itu tengah beristirahat setelah selesai membersihkan lingkungan rumah arca. “Jum’at itu hari bersih meskipun setiap hari ya sudah dibersihkan,” ujar Karninto, salah satu juru pelihara rumah arca.

Rumah Arca Sonokridanggo adalah rumah yang “didiami” oleh 425 benda cagar budaya (BCB) yang dikumpulkan dari berbagai wilayah di Kota Susu, Kabupaten Boyolali. Rumah arca itu berdiri sejak tahun 1990 setelah sebelumnya seluruh koleksi ditampung di Gedung Pemuda. Tidak hanya arca yang disimpan di dalam bangunan berukuran 12 x 12 meter itu, yoni, lingga, relief, juga tembikar dapat ditemui di sana. “Ratusan arca ini adalah peninggalan masa Hindu - Budha pada abad 8 - 10,” jelas Giyanto soal koleksi rumah arca.

Meskipun bukan museum, rumah arca ini tetap dibuka untuk pengunjung yang ingin melihat ratusan koleksi BCB. Akses masuk rumah arca ini digratiskan untuk umum dan dibuka dari Senin hingga Jum’at. Tetapi selama berada di sana hingga siang hari tidak tampak pengunjung lain yang datang saat itu. “Tidak banyak yang berkunjung ke sini. Paling anak-anak SD atau TK yang kebetulan sedang beraktifitas di taman (kota) Mas,” ujar Giyanto.

Rumah Arca Boyolali Rumah Arca Sonokridanggo Boyolali

Giyanto menjadi pemandu kami hari itu. Dirinya mengajak kami memasuki bangunan joglo yang ditutup dengan terali besi mengililingi bangunan dan hanya memiliki satu pintu masuk. Di atas pintu masuk rumah arca baru kami menemui papan nama bangunan bertulis “Benda Cagar Budaya, Rumah Arca Boyolali, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.”

Ratusan BCB yang ditata dengan rapi tampak sangat menyesaki ruangan rumah arca. Bahkan untuk berjalan di antara benda-benda itu pengunjung harus memperhatikan langkah mereka karena letak koleksi yang saling berdempetan. Koleksi BCB di dalam rumah arca dijajarkan berdasarkan jenisnya. Tampak arca lembu Nandi berjajar rapi berdampingan dengan puluhan yoni yang berjajar di baris sebelahnya.

Di sisi tengah, terdapat sebuah rak dimana puluhan antefiks dan fragmen arca berjajar dengan rapi. Kebanyakan dari arca-arca itu telah rusak dengan bagian kepala terpotong. Hal itu juga banyak ditemui pada arca lembu Nandi.

Meskipun hanya bertugas sebagai juru pelihara Giyanto juga dibekali dengan pengetahuan cukup untuk menjelaskan beberapa hal mengenai koleksi rumah arca secara umum. “Sebagian besar koleksi kondisinya rusak dengan kepala hilang. Ya antara lain juga karena perpindahan (masa) dari Hindu - Budha ke Islam. Trus juga faktor manusia yang tidak bertanggung jawab. Trus juga faktor alam,” terangnya.

Rumah Arca Sono Kridanggo Rumah Arca Boyolali

Giyanto kemudian juga menunjukan koleksi berupa arca Durga. Dari apa yang pernah dibacanya di surat kabar konon di tangan kolektor benda peninggalan jenis ini dihargai hingga Rp 250 juta. Nilai lebih inilah yang menuntut Giyanto dan ketiga rekannya untuk selalu berhati-hati dan melakukan pengawasan meskipun di luar jam kerja. “Kita rawan hilang mungkin penjagaannya lebih diperketat. Kalau tempatnya begini dulu kan yah.. Krawang-krawang (berlubang-lubang) begini, iya kan?,” ujar Giyanto yang juga bergantian setiap malam hari untuk melihat kondisi rumah arca dengan rekan kerjanya.

Selain kondisi lokasi yang kurang maksimal dari segi keamanan dan kenyamanan, Giyanto juga mengungkapkan bahwa dukungan lebih sangat dibutuhkan untuk menjaga keberadaan rumah arca itu. Apalagi selama ini dirinya merasa rumah arca sangat jauh dari perhatian beberapa pihak sehingga sangat lemah dalam hal promosi. Karena itu Giyanto berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali atau pihak swasta dapat bekerja sama untuk mempromosikan rumah arca ini sehingga dapat lebih bermanfaat karena menyimpan benda-benda dengan nilai sejarah. Bahkan saat ditanya adakah pelajar atau mahasiswa yang melakukan penelitian di rumah arca itu dirinya hanya menggelengkan kepala saja.

Melengkapi kunjungan ke rumah arca hari itu Giyanto menunjukan beberapa tembikar berukuran cukup besar yang telah pecah kemudian juga arca Siwa Guru, Siwa Mahadewa, Ganesha, serta Wisnu dengan wahana berupa Garuda. Menurut Giyanto masih ada banyak BCB yang masih tersebar di wilayah Boyolali dan masih ditampung atau dititipkan pada warga atau bahkan dibiarkan di lokasinya. Tidak terbayangkan jika seluruh temuan itu nantinya disimpan di Rumah Arca Sonokridanggo yang telah sesak tanpa adanya perbaikan.

Tak terasa pagi telah berlalu hingga mendekati tengah hari. Kunjungan ke rumah arca Boyolali hari itu kami tutup dengan percakapan mengenai wacana memindahkan lokasi rumah arca ke tempat yang lebih nyaman. “Kalau tempatnya nyaman kan pengunjung yang datang juga nyaman Mas,” harap Giyanto kemudian menyambung, “Kalau berita soal Pengging itu (pindah lokasi) masih sebatas wacana saja.”

Rumah Arca Sonokridanggo
Hari buka: Senin - Jum’at
Jam buka: 8:00 pagi - 4:00 sore (khusus Jum’at tutup jam 4:30 sore)
Tiket masuk: GRATIS
Koleksi: Benda cagar budaya berusia ratusan tahun dari masa kebudayaan Hindu - Budha pada abad 8 - 10 di wilayah Kabupaten Boyolali.

Filed Under: Wisata Boyolali Tagged With: benda kuno, hindu budha, wisata boyolali, wisata kota solo

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Produk Terbaik

New Arrival

Kategori

  • Agenda Kota Solo
  • Fashion
  • Film
  • Fotografi
  • Komunikasi
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Model Rumah
  • Musik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Seni dan Pertunjukan
  • Teknologi
  • Tradisi dan Budaya
  • Uncategorized
  • Wisata
  • Wisata Boyolali
  • Wisata Karanganyar
  • Wisata Klaten
  • Wisata Solo
  • Wisata Sragen
  • Wisata Sukoharjo
  • Wisata Wonogiri

Komunitas Chic:ID

Copyright © 2016 · Magazine Pro Theme on Genesis Framework · WordPress · Log in

My location
Print  Close