Perhelatan Solo Keroncong Festival 2012 memang telah berakhir sejak kemarin Sabtu, 15 September 2012. Penutupan acara yang berbarengan dengan Pasar Malam Ngarsopuro alias saat malam Minggu itu benar-benar sesak dipadati pengunjung. Dari anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua tampak memadati halaman Pasar Antik Windujenar yang diubah menjadi panggung pertunjukan musik keroncong.
Solo Keroncong Festival 2012 atau festival musik keroncong yang sudah digelar ke-empat kalinya di Kota Solo ini digelar selama dua hari penyelenggaraan, yaitu Jum’at dan Sabtu, 14 – 15 September 2012. Seperti yang diutarakan Wakil Walikota (Wawali) Solo yang juga membuka festival ini, “Festival ini terselenggara sebagai upaya untuk mensejajarkan musik keroncong dengan musik lain di dunia.” Dan layaknya seruan yang dilontarkan dalam pidato pembukaan Wawali itu, beberapa orkes keroncong dari luar Solo dan dari luar Indonesia ikut hadir, menghibur, memeriahkan, dan mensejajarkan musik keroncong dalam sebuah panggung bernama Solo Keroncong Festival.
Dari panggung ini tak hanya terlihat ribuan pasang mata menatap kearah yang sama dan mendengarkan lantunan musik yang seirama, tetapi juga menemukan bagaimana musik keroncong ternyata bukan hanya milik mereka yang tinggal di sepanjang aliran Bengawan Solo. Peradaban keroncong ternyata telah terbawa hingga Amerika oleh mereka yang belajar musik di Indonesia dan begitu pula dengan negara tetangga seperti Singapura yang sama halnya seperti telinga kita juga mendengarkan lantunan musik yang sama sejak bertahun-tahun lamanya.
Yang barang kali menjadi binar adalah mereka yang berkesenian dengan bentuk yang sama meski berada jauh di luar Indonesia, mereka masih memandang Indonesia sebagai kiblat musik keroncong dengan karya-karya wahidnya. Seperti yang ditunjukan oleh OK D’Temasik dari Singapura yang tak hanya membawakan koleksi lagu keroncong melayu tetapi juga musik keroncong pop evergreen-nya Indonesia dalam penampilan mereka malam Minggu kemarin.
Selain OK D’Temasik, pengunjung festival juga berkesempatan melihat penampilan dari OK Pantai Barat dari California, Amerika. Keragaman para penampil tak hanya datang dari luar negeri karena malam Minggu itu juga OK Pesona Dewata dari Bali juga ikut hadir menghibur. Dengan dandanan khas Negeri Dewata Bali, dua penyanyi dari OK Pesona Dewata tampil ciamik menghibur pengunjung lengkap serta dengan beberapa gaya tarian Bali yang mereka peragakan sambil menyanyi.
Tak hanya pengisi acara yang beragam asal, festival keroncong pun semakin lengkap dengan ribuan jumlah pengunjung. Jumlah pengunjung pada malam kedua pertunjukan tampak dua kali lipat lebih banyak daripada malam pembukaan. Dari mereka yang berpakaian rapi hingga yang santai dengan celana pendek tampak duduk berdampingan di antara kursi-kursi yang tersedia. Di belakang area duduk, ratusan lainnya berdiri berhimpitan. Begitu juga di kanan dan di kiri area duduk ratusan orang berdiri menikmati pertunjukan secara langsung atau melalui layar yang disediakan. Benar-benar tidak menyisakan ruang, bagian depan panggung juga turut dipadati pengunjung yang duduk bersila beralaskan koran.
Melengkapi meriahnya Solo Keroncong Festival, tak habisnya para penampil yang berasal dari luar Solo menguncap banyak terima kasih karena mereka dilibatkan dalam festival musik tahunan ini. HAMKRI Surakarta selaku panitia dan juga Pemkot Surakarta selaku tuan rumah tentu sangat gembira melihat banyaknya pengunjung yang hadir dalam dua malam pementasan. Karena respon dari masyarakat terhadap festival ini tergambar jelas dari jumlah kedatangan mereka ke lokasi pertunjukan.
Pertunjukan musik keroncong memang bukan hal yang asing bagi masyarakat Solo karena secara rutin sebenarnya banyak pertunjukan musik keroncong dapat dinikmati warga Kota Solo, seperti acara rutin di Balai Soedjatmoko atau Taman Budaya Jawa Tengah. Selain dalam pertunjukan di atas panggung, musik ini juga dapat dengan mudah ditemui di tempat-tempat umum seperti rumah makan atau stasiun kereta. Namun, setidaknya festival keroncong ini dengan nyata membuka mata kita bahwa warga di kota ini dan warga yang jauh dari kota ini mengakui dan melestarikan kesenian yang membesarkan nama sang maestro keroncong Gesang yang juga seorang warga Kota Solo.

Leave a Reply