Susuk Wangan, Tradisi Bersih Saluran Air Di Setren Wonogiri

Kabupaten Wonogiri adalah satu-satunya wilayah di Eks-Karesidenan Surakarta yang memiliki kawasan tujuan wisata yang komplit. Kabupaten ini memiliki objek wisata di ketinggian dengan atmosfer sejuk hingga kawasan pantai yang hangat. Wonogiri juga memiliki kawasan bebatuan penuh gua hingga perbukitan yang cocok untuk olahraga udara seperti gantole.

Bentuk wilayah yang beraneka ragam ternyata juga berimbas pada tradisi yang berkembang dan tumbuh di dalam masyarakatnya. Di atas ketinggian 1.500 di atas permulakaan laut, di kawasan timur Wonogiri terdapat salah satu tradisi unik yang digelar oleh warga yang kebanyakan hidup bertani.

Tradisi yang telah diturunkan dari generasi ke generasi ini adalah wujud syukur atas hasil pertanian mereka yang selalu dilimpahi air dan tanah subur. Tradisi itu hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Desa Setren, Kecamatan Slogohimo. Kawasan ini juga menjadi satu-satunya objek agorwisata Kabupaten Wonogiri karena terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Lawu bagian selatan.

Tradisi Susuk Wangan atau upacara Susuk Wangan adalah bukti nyata bagaimana masyarakat pertanian di kawasan ini mensyukuri kekayaan alam yang menghidupi mereka. Tradisi unik yang berarti merawat air dan bumi ini diwujudkan dalam bentuk membersihkan saluran air yang mengaliri lahan pertanian mereka dan juga mempersembahkan berbagai sajian yang mereka buat sebagai wujud rasa syukur.

Prosesi upacara Susuk Wangan

Prosesi awal dari tradisi yang rutin digelar setiap Sabtu Kliwon di bulan Besar, kalender Jawa, ini adalah kerja bakti membersihkan saluran air. Terdapat tiga sumber air di dalam kawasan hutan Setren yaitu Selo Resi, Ngembel Girimanik dan Sendang Drajat.

Puncak acara dari tradisi ini adalah ritual kenduren yang kini dikemas dengan berbagai hiburan pertunjukan tradisional untuk dapat menarik minat wisatawan. Dalam kenduren itu akan ikut ratusan warga dari Desa Setren. Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu yang datang bersama dengan nasi kenduri dalam jodang dengan lauk ingkung ayam (ayam yang dimasak dan disajikan utuh).

Ratusan warga wanita dengan ratusan ayam ingkung tadi akan berkumpul di satu lokasi yang berada di bawah gerbang pertama menuju objek wisata Girimanik. Saat prosesi mulai berjalan ratusan ingkung tadi akan ikut dikirabkan dengan barisan pria berkostum prajurit berada di bagian paling depan mengusung gunungan yang terbuat dari berbagai hasil bumi.

Rombongan pembawa berbagai jenis sesajian itu akan berjalan menuju gerbang wisata yang berjarak kurang lebih 500 meter dari lokasi awal. Begitu sampai di lokasi yang dimaksud, gunungan dan ratusan ingkung serta uba rampe lainnya tadi akan dibagikan kepada seluruh warga yang hadir di lokasi wisata Girimanik.

Dan setelah kirab ini selesai, panitia mulai menyuguhkan berbagai pertunjukan tradisional seperti reog, musik lesung, bahkan juga pentas wayang kulit semalam suntuk.

Waktu penyelenggaraan dan lokasi

Lokasi yang digunakan untuk menggelar tradisi Susuk Wangan adalah kawasan objek wisata Girimanik, Desa Setren. Selain terdapat tiga sumber mata air di lokasi ini, warga juga percaya bahwa dahulu kala pendiri Keraton Mangkunegaran yaitu Pangeran Sambernyawa pernah bertapa di kawasan ini. Dengan adanya petilasan Sambernyawa ini juga lokasi ini semakin menarik untuk dijadikan lokasi acara.

Sementara untuk waktu penyelenggaraan adalah Sabtu Kliwon atau sekarang hari Minggu setelahnya pada bulan Besar. Perubahan ini dilakukan untuk menarik jumlah wisatawan yang lebih banyak saat tradisi Susuk Wangan ini digelar. Dan Sabtu Kliwon pada bulan Besar akan jatuh pada 18 Oktober 2014! Sementara hari Minggu setelah Sabtu Kliwon tentu saja jatuh pada tanggal 19 Oktober 2014!

Berikut adalah infomasi penting nomer telepon Kantor Kecamatan Slogohiwo, Wonogiri, 0273 - 411304!

Selain tradisi Susuk Wangan di bulan Besar, terdapat juga beberapa tradisi unik lainnya di kawasan Solo Raya atau Eks-Karesidenan Surakarta yang jatuh pada bulan yang sama. Temukan berbagai tradisi unik tersebut pada tautan berikut ini!

Sponsored Links

Comments

  1. Asih says

    wah menarik sekali, kegiatan ini patut diapresiasi krn merupakan upaya untuk melestarikan tradisi warisan leluhur dan upaya untuk merevitalisasi kebudayaan lokal sehingga mengangkat kearifan lokal budaya masyarakat setempat serta memperkaya kebudayaan Nasional.

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>