Sutradara teater Retno Sayekti Lawu kembali berpentas malam tadi (01/11/2012) di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT). Dalam kesempatan semalam, sutradara yang juga pentolan komunitas teater Lantai Dua ini tidak berpentas produksi bersama komunitas teaternya melainkan bersama kelompok kerja Teater Thoekoel. Untuk kesekian kalinya juga, Retno Sayekti Lawu kembali mementaskan naskah karya Hanindawan setelah sebelumnya dia juga pernah mementaskan naskah karya sutradara dan juga penulis naskah Teater Gidag Gidig itu.
Ratusan pengunjung pertunjukan memenuhi Teater Arena TBJT meskipun sebelumnya hujan sempat mengguyur kawasan Solo dan sekitarnya. Pentas teater semalam merupakan pentas produksi dari Teater Thoekoel yang ke-XIV. Wadah seni pertunjukan teater mahasiswa Fakultas Pertanian UNS ini tampil dengan membawakan naskah karya Hanindawan yang berjudul Dinding Batu. Naskah yang bercerita tentang relief-relief dalam rumah tua kosong ini sebelumnya juga pernah dibawakan dalam dramatic reading di Balai Soedjatmoko oleh Kelompok Kesan Keluarga Sandiwara.
Naskah oleh Hanindawan Sutikno ini dikatakan sebagai naskah baru, karena itu juga pementasan semalam merupakan pementasan produksi pertama naskah ini. Cerita dari naskah ini adalah soal rumah tua yang kosong dengan relief-relief yang terdapat di tembok-tembok dalam rumah itu. Bangunan luas yang ditinggalkan pemiliknya ini dibangun oleh seorang insinyur yang memiliki nama persis dengan Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia. Tokoh dalam kisah ini adalah batu relief-relief yang terwakilkan oleh empat batu yaitu Batu Malin, Batu Panjang, Batu Angelia, dan Batu Bunga.
Dikononkan dengan rumah yang dibangun oleh seorang insinyur yang bernama mirip dengan Ir. Soekarno, rumah ini pun muncul sebagai refleksi dari negeri yang dibangun oleh Ir. Soekarno. Rumah tua beserta para penghuninya ini seakan tak berdaya dihadapkan dengan kondisi zaman. Dalam tiap gelap malam batu relief ini hidup dan berinteraksi satu sama lain. Mereka membicarakan kejayaan kisah-kisah masa lalu mereka hingga obsesi masa depan mereka. Mereka bahkan tampil lebih mirip dengan manusia saat mereka berkonflik dengan batu relief lainnya. Konflik yang timbul saat salah satu dari mereka muncul menjadi batu relief yang berhati batu dan menyakiti batu lainnya.
Pementasan naskah Dinding Batu semalam juga menampilkan sajian visual yang memanjakan mata penonton, sajian yang mungkin menjadi ciri khas sutradara Retno Sayekti Lawu. Seperti dalam pementasan sebelum-sebelumnya dengan naskah De Lipa, panggung tetap ditata dengan sederhana. Ciri visual dalam petunjukan Retno muncul dalam bahan dan warna yang mirip dalam properti yang dikenakan para penampil. Materi dalam properti berupa kain tipis terawang kembali muncul dalam pentas ini. Properti ini dimainkan bersama warna dominan kusam batu sewarna dengan tembok raksasa dengan warna batu muncul menjadi latar. Warna-warna mencolok namun minimalis juga selalu disuntikan di antara warna dominan, seperti properti warna merah sepatu hak Batu Angelia dan juga warna biru peluru Batu Malin.
Selain sajian visual dalam bentuk properti, eksplorasi gerakan yang ditunjukan oleh para penampil juga selalu melengkapi pementasan yang digarap oleh Retno Sayekti Lawu. Di antara tokoh-tokoh utama dalam Dinding Batu muncul tokoh-tokoh batu lain yang dimunculkan sebagai “figuran” dan bahkan menyatu dengan artistik saat ditempatkan menjadi satu bersama latar tembok raksasa. Tokoh-tokoh “figuran” ini muncul di bagian paling belakang menempel pada tembok, bergerak, mengayun sendiri atau bersama, bergeser, jatuh dan bangkit di sepanjang pementasan. Sementara itu di depan mereka, tokoh-tokoh utama tetap ditampilkan berdialog dan membiarkan naskah terus mengalir apa adanya.





kaLo ada pementasan teater, infoin saya dongg ..
makasi .
ikutin agenda acara kota solo punya kita aja, kita up date jadwal acara tiap bulan kok 🙂
Wawa, boleh minta copy-an tidak? hehehehe. Yang mentahan saja :v
makasiiiiih
eh Wawan :v kurang “n” ya haha
boleh mbak lawu, minta emailnya ya buat kirim 🙂