• Home
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Twitter
  • Facebook
  • RSS

CHIC:ID

Nikmati Siklus Hidupmu

  • Wisata
  • Tradisi dan Budaya
  • Agenda Acara Kota Solo
  • Seni dan Pertunjukan
  • Fotografi
  • Musik
Beranda - Seni dan Pertunjukan - Tentang Kebenaran Yang Kejam Dari Pentas Teater Rashomon

Tentang Kebenaran Yang Kejam Dari Pentas Teater Rashomon

March 29, 2013 by Wawan Surajah Leave a Comment

Pentas Teater Rashomon Sanggar Seni SAKA Jogjakarta

Di tengah hutan bambu sebuah Torii reot berdiri. Tampak suram tempat itu dengan kutukan kotor sebuah era kehidupan manusia. Mayat-mayat tak bernama itu adalah korban pembantaian dan pemerkosaan. Mayat-mayat itu disembunyikan di dekat Torii, gapura yang menjadi batas kehidupan duniawi dan lokasi suci, di dekat kota Kyoto, di daerah yang dikenal sebagai gerbang terkutuk bernama Rashomon.

Rashomon adalah karya cerita pendek (cerpen) penulis terkenal Jepang, Ryunosuke Akutagawa, yang tenar lewat film berjudul sama dan release pada tahun 1950-an. Film ini sendiri dibuat dengan menggunakan setting dari karya cerpen Akutagawa yang berjudul “Rashomon”. Sedang untuk cerita dan plot film ini mengadaptasi cerpen Akutagawa yang berjudul “Yabu No Naka” (In a Grove).

Naskah drama Rashomon kurang lebih mengadaptasi kedua cerpen karya penulis Jepang itu. Dan beberapa waktu yang lalu, naskah drama Rashomon dipentaskan oleh Sanggar Seni SAKA Jogja di Teater Arena Surakarta.

Pentas teater Rashomon oleh sanggar seni asal Jogja itu memberikan gambaran tentang sebuah kebenaran yang kejam yang dikisahkan oleh Akutagawa. Kebenaran itu adalah sifat manusia yang secara sadar dapat melakukan apapun yang dikehendakinya saat mereka memiliki kuasa atau kekuatan di atas yang lain.

Adegan Pentas Teater Rashomon Sanggar Seni SAKA

Tajomaru adalah seorang penjahat dapat dengan mudah melampiaskan nasfsu birahinya. Dia dibekali kekuatan berupa kemampuan menggunakan pedang samurai dan bela diri yang digunakan untuk memaksakan keinginannya di atas orang lain.

Takehiko, seorang samurai, lebih memilih meninggalkan istrinya di tengah hutan hanya untuk memburu pedang dan cermin mahal yang dijanjikan Tajomaru. Ketamakan yang dilatari oleh kemampuan ekonomi justru menggiringnya pada kematian.

Pementasan Naskah Drama Rashomon Sanggar Seni SAKA

Masage, istri Takehiko dan korban pemerkosaan, secara sadar lebih memilih pemenang (bisa saja pelaku pemerkosaan) dalam pertarungan antara suaminya dengan penjahat yang memperkosanya. Pilihan “rasional” yang muncul dalam kepalanya karena merasa telah diperkosa di hadapan suaminya dan muncul karena dia memiliki kuasa atas hidupnya sendiri.

Adegan Pertunjukan Teater Rashomon Sanggar Seni SAKA

Seorang nenek “memperkosa” mayat-mayat yang dibuang di Rashomon untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kuasanya atas mayat yang sudah tak bernyawa itu, dia menggunduli rambut mayat-mayat wanita di Rashomon untuk dijual di kota dan dijadikan rambut palsu yang berharga.

Adegan Pementasan Naskah "Rashomon" Sanggar Seni SAKA

Seorang pemungut kayu yang juga saksi dari kebrutalan sampai ingin membunuh nenek “pemerkosa” mayat karena jijik melihat kelakuan kejinya. Kebencian dan ketakutannya memberikan kekuatan bagi seorang rakyat jelata sepertinya untuk berubah menjadi seorang hakim bagi rakyat jelata lainnya.

Dan seorang pendeta menjadi satu-satunya orang yang tidak memiliki kuasa atas semua yang telah terjadi. Semua kejadian yang berdasar dari krisis moral masyarakat. Moral yang harusnya menjadi kuncian hidup masyarakat dan tanggung jawab bagi mereka yang mengajarkannya. Dan dalam pentas teater Rashomon pendeta dimunculkan sebagai seorang saksi dari kejamnya era dekadensi moral masyarakat sekaligus sebagai simbol ketidak berdayaan agama dalam membatasi perilaku buruk manusia.

Pementasan Naskah Drama "Rashomon" Karya Ryunosuke Akutagawa

Kekerasan menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Entah itu datang secara bersamaan seperti dalam pentas teater Rashomon atau secara terpisah dan bergantian. Entah itu terjadi di tempat terkutuk atau tempat sakral. Mereka tidak memilih hal-hal seperti itu.

Yang mereka jadikan pilihan justru dua hal yang sama buruknya jika diukur dengan nilai-nilai moral seperti yang dilakukan Tajomaru. Membunuh suami agar dapat memperkosa istrinya atau memperkosa tanpa harus membunuh suaminya tetapi tanpa disadari justru itulah sebenarnya yang membunuh sang suami karena meyaksikan istrinya diperkosa.

Karena mungkin “kebenaran” di suatu titik waktu bisa muncul karena pembenaran manusia saat harus memilih kejahatan mana yang terbaik bagi yang lainnya.

Filed Under: Seni dan Pertunjukan Tagged With: kelompok teater, Pentas Teater, Pertunjukan Teater

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Produk Terbaik

New Arrival

Kategori

  • Agenda Kota Solo
  • Fashion
  • Film
  • Fotografi
  • Komunikasi
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Model Rumah
  • Musik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Seni dan Pertunjukan
  • Teknologi
  • Tradisi dan Budaya
  • Uncategorized
  • Wisata
  • Wisata Boyolali
  • Wisata Karanganyar
  • Wisata Klaten
  • Wisata Solo
  • Wisata Sragen
  • Wisata Sukoharjo
  • Wisata Wonogiri

Komunitas Chic:ID

Copyright © 2016 · Magazine Pro Theme on Genesis Framework · WordPress · Log in