Malam tadi, 13 Juni 2012, adalah puncak acara Pekan Wayang Jawa Tengah 2012 yang ditutup dengan penampilan dari kelompok wayang pimpinan Ki Jlitheng Suparman. Pada hari terakhir pergelaran kemarin yang dimulai dari pukul 15.00, setidaknya ada lima pertunjukan wayang yang digelar seperti pergelaran Wayang Beber Tradisi, pergelaran Wayang Beber Kota, pergelaran panggung Wayang Jemblung, pergelaran panggung Wayang Kulit Purwa Padat, dan pergelaran panggung Wayang Kampung Sebelah.
Datang di lokasi kurang lebih pukul 22.00 pertunjukan Wayang Kulit Purwa di panggung sisi utara Pendopo Agung Taman Budaya Jawa Tengah tampak masih menyisakan bagian terakhir. Terlihat penonton memadati pendopo menyaksikan pergelaran wayang dengan dalang Ki Anom Setiaji. Tampak gelap di sisi barat dari pendopo, sebuah panggung berukuran jauh lebih kecil dari panggung wayang kulit biasanya sudah dikerumuni para penonton. Meskipun harus bergelap-gelapan juga berdesak-desakan dalam duduk sila, mereka yang kebanyakan penonton berusia remaja itu tampak menunggu kemunculan penampil terakhir dalam Pekan Wayang tahun ini.
Adalah Wayang Kampung Sebelah dan Ki Jlitheng Suparman yang mereka tunggu malam tadi. Tak lama berselang sesudah pergelaran wayang di sisi utara tuntas, MC mengalihkan seluruh perhatian penonton pada panggung pertunjukan wayang modern ini. Memang harus diakui, setelah kemunculan kelompok wayang ini dalam beberapa acara televisi belum lama ini, banyak orang penasaran untuk menyaksikan pentas mereka secara langsung.
Kelompok wayang yang berdiri sejak 2001 ini adalah genre wayang baru yang menampilkan boneka wayang dalam bentuk berbeda. Boneka wayang mereka lebih menyerupai sosok manusia seperti Hansip, lurah, pelacur, penyanyi dangdut, dan masih banyak lagi. Begitu pula cerita yang dibawakan juga mengangkat cerita sehari-hari layaknya cerita dari dalam kampung dengan tokoh-tokoh tadi.
Dalam penampilannya semalam, Wayang Kampung Sebelah membawakan cerita berjudul “Raja Linglung Masuk Kampung”. Kisah cerita ini mengangkat gelaran pesta demokrasi yang sedang berlangsung di Desa Bangunjiwo. Somad adalah calon lurah pemenang pemungutan suara setelah dirinya dibantu oleh ketua panitia pemungutan suara, Mbah Sidik. Mbah Sidik melakukan penggelembungan suara untuk dapat memenangkan Somad sebagai lurah baru. Pesta Syukuran berupa panggung dangdut digelar Somad merayakan kemenangannya. Tetapi, calon lurah lain yang merasa dicurangi bersama para pendukungnya merusak panggung pertunjukan itu.
Entah makan apa dalang nyentrik satu ini. Ki Jlitheng Suparman benar-benar mampu membawakan pergelaran wayang yang berdurasi kurang lebih dua jam itu dengan kocak. Seluruh pentonton tampak terbayar setelah menunggu lama penampilannya. Mereka semua tertawa dan tak jarang ikut mbayol di sela-sela pertunjukan dengan berteriak. Dengan bahasa sehari-hari yang dipakai, Bahasa Indonesia dan Jawa, serta guyonan dan sindiran khas angkringan atau pos kampling dirinya mampu menyuguhkan pertunjukan wayang lucu. Tak hanya dari percakapan saja yang membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Beberapa wayang yang dibuat khusus untuk dapat berjoget menjadi penampilan yang sangat ditunggu-tunggu. Di antaranya ada tokoh Khoma Ra Mari-Mari juga Inul Darah Tinggi yang mampu menggoyangkan pinggul mereka seperti pedangdut asli. Kedua boneka wayang yang mahir dibawakan sang dalang ini benar-benar jadi bahan manjur membuat penonton terbahak-bahak tertawa.
Namun bukan wayang namanya kalau tidak ada pelajaran atau nilai-nilai yang dapat diambil di dalamnya. Di dalam cerita wayangnya, Ki Jlitheng memasukan nilai-nilai politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan. Sindiran juga kritikan tampak jelas menghiasi pertunjukan yang diiringi musik secara live yang juga menjadi penghantar sindiran. Selain itu Ki Jlitheng juga memasukan istilah-istilah yang tak banyak orang mungkin memahami seperti demokrasi oligarki yang digunakannya untuk menyampaikan sindiran tentang penguasa yang mulai kehilangan kepercayaan dari rakyatnya.
Sekarang, pernahkah anda mendengar sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa orang yang mandi sambil bernyanyi itu akan jauh lebih bersih tubuhnya ketimbang mereka yang tidak bernyanyi? Hal tersebut bisa terjadi “katanya” karena saat mereka membuat diri mereka bahagia (dengan bernyanyi) maka mereka akan membuat diri mereka lebih bersih saat mandi. Dan hal yang sama mungkin juga bisa terjadi setelah menyaksikan pertunjukan wayang Ki Jlitheng semalam. Mungkin para penonton juga penikmat wayang dapat belajar lebih dari apa yang dibawakan kelompok wayang semalam karena mereka sudah dibuat tertawa bahagia oleh aksi sang dalang kocak.




Leave a Reply