Tradisi Buka Luwur Makam Ki Ageng Pantaran Boyolali

Buka Luwur atau adalah istilah dalam bahasa Jawa yang digunakan masyarakat lokal di kawasan Pantaran, Boyolali, untuk menamai tradisi mengganti kelambu penutup makam di Makam Ki Ageng Pantaran. Tradisi yang menjadi salah satu agenda wisata budaya Kabupaten Boyolali ini rutin digelar pada hari Jum’at minggu keempat di bulan Suro.

Tradisi Buka Luwur berupa upacara mengganti kain penutup makam digelar oleh warga sejak ratusan tahun. Tradisi ini dimaksudkan untuk memperingati jasa Syeh Maulana Malik Maghribi yang pernah menyebarkan agama Islam di kawasan ini juga mendirikan Masjid Pantaran dan juga memberi nama pada sumber air Si Pendok.

Ritual Buka Luwur sendiri selalu ramai dikunjungi ribuan warga dari berbagai daerah. Ritual yang digelar di petilasan Syeh Maulana Malik Maghribi yang terletak tidak jauh dari Bumi Perkemahan Indra Prasta Pantaran ini akan diawali dengan kirab 20 orang yang mengenakan pakaian kejawen. Mereka akan membawa kain mori putih baru serta payung mutho.

Kain mori dan payung tadi akan diserahkan kepada juru kunci untuk menggantikan kain dan payung yang sudah digunakan di makam. Selain kain dan payung, 20 orang tadi juga membawa tumpeng, gunungan, serta berbagai sesaji lainnya.

Dalam ritual itu akan digelar juga acara tabur bunga dan juga tahlilan sebelum akhirnya mereka yang hadir akan berebut sesaji yang tadi dikirab. Selain sesaji yang diperebutkan, peziarah yang hadir juga datang untuk mendapatkan potongan kain mori penutup lama yang dianggap memiliki berkah.

Dalam ritual yang juga dikenal sebagai Sadranan Buka Luwur ini tidak hanya panitia yang menyediakan berbagai makanan dan sesaji untuk dibagi pada peziarah. Warga sekitar juga akan berbondong-bondong membawa makanan dalam tenong, tempat makanan berbentuk bulat yang terbuat dari anyaman bambu. Makanan itu nantinya juga akan dibagikan kepada mereka yang hadir dalam prosesi penggantian kain penutup makam.

Sejarah Syeh Maulana Malik Maghribi

Cara masyarakat di Desa Candisari, Ampel, Boyolali, dalam memperingati jasa Syeh Maulana Malik Maghribi tidak terlepas dari kisah penyebaran agama Islam yang dilakukannya di lereng Gunung Merbabu. Cerita dimulai pada zaman berjayanya Kerajaan Demak Bintoro (Demak). Dimana diceritakan bahwa di sebelah timur lereng Gunung Merbabu dikenal sebuah padepokan yang dipimpin seorang pertapa sakti dan baik hati.

Berita baik itu menyebar cepat hingga ke Kerajaan Pengging di bawah kuasa Prabu Kusumowicitra. Dia memerintahkan anaknya yang bernama Citrasoma untuk melihat kebenaran itu. Jika hal itu benar adanya, dia ingin agar anaknya dapat berguru pada pertapa yang suka menolong itu.

Kedatangan Pangeran Citrasoma ternyata berbarengan dengan datangnya seorang penyebar agama Islam yang tak lain adalah Syeh Maulana Malik Maghribi. Kedatangan kedua sosok itu diterima dengan baik oleh pertapa yang juga memiliki padepokan.

Di sana Citrasoma tidak hanya bertemu dengan pertapa sakti. Dia juga bertemu dengan putri pertapa yaitu Dewi Nawangsih. Pangeran Citrasoma dan Dewi Nawangsih ternyata saling mencintai. Hubungan mereka direstui oleh pertapa sakti namun oleh Syeh Maulana Malik Maghribi dirinya disarankan untuk terlebih dahulu membuat sumber air untuk melengkapi lamarannya kepada Dewi Nawangsih.

Mendapati syarat itu, Pangeran pulang menceritakan perjalanannya kepada sang ayah. Prabu Kusumowicitra ternyata juga merestui hubungan anaknya dan membimbingnya untuk melakukan pertapaan di lereng Gunung Merbabu. Pertapaannya itu dimaksudkan agar dia bertemu dengan Prabu Kurawu, penguasa jin di lereng Gunung Merbabu, yang bisa membantunya.

Pangeran Citrasoma segera melakukan apa yang diperintahkan ayahnya. Dia pun berangkat menjalankan pertapaan selama 40 hari 40 malam. Setelah melewati segala godaan akhirnya dia dipertemukan dengan Prabu Kurawu yang mau menyanggupi permintaannya membuat sumber air.

Tak lama berselang, masih dekat dengan lokasi bertapa sang pangeran munculah sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh warga seperti yang diminta pertapa sakti. Pangeran segera memberitahu pertapa dan Syeh Maulana Malik Maghribi bahwa dia telah menjalankan syarat yang diminta. Mata air yang dimaksud kemudian dinamai Tuk Si Pendok oleh Syeh Maulana Malik Maghribi karena pancarannya serupa pendok (lengkung) keris.

Melihat apa yang telah dilakukannya, pangeran akhirnya dapat meminang Dewi Nawangsih dan memboyongnya ke Kerajaan Pengging.

Sepeninggal kepindahan Pangeran Citrasoma dan Dewi Nawangsih, Syeh Maulana Malik Maghribi kemudian berencana membangun masjid di lingkungan padepokan. Karena minimnya bahan, dia memerintah utusan untuk meminta bantuan berupa saka atau tiang kayu jati kepada Kerajaan Demak. Namun karena di Demak juga sedang membangun masjid, Masjid Agung Demak, maka mereka tidak dapat menyanggupi permintaan itu.

Dengan keterbatasan yang ada akhirnya masjid itu tetap dibangun dan diberi nama Masjid Pantaran yang berarti sebaya karena dibangun bersamaan dengan Masjid Agung Demak. Nama Pantaran kemudian juga menjadi sebutan bagi pertapa sakti dan juga wilayah di lereng Gunung Merbabu itu.

Karena itu hingga saat ini nama makam itu disebut Makam Ki Ageng Pantaran. Di sana juga terdapat pusara Syeh Maulana Malik Maghribi. Tetapi sejatinya dia tidak dimakamkan di pemakaman itu melainkan hanya benda-benda pusaka miliknya.

Menurut pada hitungan hari Jum’at di minggu terakhir bulan Suro, maka prosesi penggantian kain penutup makam kembali akan digelar pada Jum’at, 21 November 2014, sementara Jum’at Kliwon akan jatuh seminggu sebelumnya yaitu pada 7 November 2014!

Info nomer telepon Kantor Kecamatan Ampel, Boyolali, 0276 - 331345!

Selain tradisi di Makam Ki Ageng Pantaran, Kabupaten Boyolali masih memiliki berbagai wisata budaya menyangkut ziarah dan pemakaman sosok yang dibesarkan. Temukan berbagai tradisi itu pada tautan berikut ini!

Sponsored Links

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>