Tradisi Gunungan Ketupat Di Puncak Pekan Syawalan Jurug

Bakda Kupat atau Bakda Ketupat sering disebut untuk menggantikan Bakda Syawal yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri. Perayaannya pun sangat khas dalam masyarakat Jawa yaitu dengan menggunakan ketupat.

Menandai datangnya hari ini sangatlah mudah, terutama di Kota Solo yang kental dengan tradisi Jawa. Beberapa hari menjelang hari H pastilah akan banyak orang menawarkan selongsong ketupat di pinggiran jalan di beberapa titik kota terutama yang berdekatan dengan pasar.

Lebih dari merayakan Bakda Syawal dengan menyantap ketupat di rumah dengan opor, warga Kota Solo juga memiliki tradisi khas di saat puncak Bakda Syawal yaitu Pekan Syawalan Jurug. Tradisi perayaan puncak tradisi Syawalan di satu-satunya kebun binatang Kota Solo ini rutin ditandai dengan Grebeg Syawalan yang mengarak gunungan ketupat dan juga tontonan kolosal dalam Grebeg Jaka Tingkir.

Pekan Syawalan Jurug di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) rutin digelar selama beberapa hari. Saat liburan Idul Fitri seperti ini pula adalah saat teramai warga dari berbagai daerah mengunjungi TSTJ. Karena itu tak jarang saat menggelar Pekan Syawalan Jurug, TSTJ akan dibajiri puluhan ribu pengunjung.

Untuk perayaan tradisi Syawalan di TSTJ pada tahun ini, kemungkinan Pemerintah Kota Surakarta akan mengagendakan Pekan Syawalan digelar pada 29 Juli – 8 Agustus 2014! (mengacu pada tanggal penyelenggaraan terakhir).

Info penting nomer telepon kantor Taman Satwa Taru Jurug, Solo, 0271 - 636279!

Prosesi Syawalan Jurug

Seluruh rangkaian kegiatan dalam Pekan Syawalan di Jurug biasa dimulai dari jam 10 pagi. Sebelum menyentuh acara puncak berupa berebut gunungan ketupat, panitia biasanya akan menggelar Grebeg Syawalan terlebih dahulu.

Grebeg Syawalan Jurug juga sangat khas karena tidak hanya mengusung gunungan ketupat saja. Tradisi grebeg di puncak perayaan Syawalan ini selalu dikemas dalam Grebeg Jaka Tingkir. Grebeg ini adalah sajian kolosal yang menceritakan kisah kepahlawanan Jaka Tingkir dalam berbagai epos.

Pada tahun 2012 Jaka Tingkir yang diperankan oleh GPH Mangkubumi, putra dari Raja Paku Buwana XIII Hangabehi, dikisahkan memimpin rombongan menuju Kerajaan Pajang dengan menunggang gajah untuk menjalani penobatannya. Sedangkan pada tahun 2011, Grebeg Jaka Tingkir dirangkai dalam sebuah sajian kolosal Larung Ageng Jaka Tingkir dimana Jaka Tingkir menaiki perahu gethek bertarung dengan 40 buaya.

Berbagai pentas kesenian juga akan disuguhkan kepada pengunjung TSTJ di saat seperti ini. Dari pertunjukan tradisional seperti Reog atau panggung musik dangdut di tempatkan pada beberapa titik keramaian di dalam kompleks TSTJ.

Sementara untuk komposisi peserta kirab biasanya akan juga diramaikan oleh berbagai komunitas dan juga kelompok seni. Seperti komunitas pecinta reptil, peraga kostum Solo Batik Carnival hingga siswa sekolah.

Rute Grebeg Jaka Tingkir hanya akan mengitari kompleks dalam kebun binatang saja. Rombongan baru akan berhenti saat mencapai panggung utama di pinggir danau TSTJ dimana di sana sajian kolosal akan digelar.

Setelah menyajikan adegan pertarungan antara Jaka Tingkir dan musuh-musuhnya barulah puncak Syawalan akan digelar yaitu membagikan ketupat kepada ribuan pengunjung yang memadati panggung utama. Berebut gunungan ketupat inilah yang pada akhirnya menjadi puncak acara sekaligus penutup puncak Syawalan Jurug.

Selain tradisi Syawalan yang digelar di Jurug terdapat juga beberapa tradisi Syawalan di kawasan lain masih di sekitar Solo Raya yang juga merayakan puncak Syawalan dengan berebut gunungan ketupat. Temukan perayaan-perayaan itu dan juga tradisi menarik lainnya pada tautan berikut ini!

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *