Salah satu upacara adat Kabupaten Sragen yang sangat terkenal adalah upacara Larap Slambu di lokasi Objek Wisata Ziarah Makam Pangeran Samudro, Gunung Kemukus. Upacara yang rutin digelar setiap sekali dalam setahun ini tidak hanya menarik dari segi wisata saja tetapi juga segi kesakralan ritual upacara yang dipercaya mampu mendatangkan tuah.
Makam Pangeran Samudro atau yang lebih dikenal dengan nama Gunung Kemukus adalah lokasi sakral yang, bisa dikatakan, berada di tepi bagian selatan Waduk Kedung Ombo, Sragen. Lokasi yang berada di kawasan Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, ini berada kurang lebih 30 km di sebelah utara Kota Solo dan dapat ditempuh melalui jalur Solo - Gemolong - Gunung Kemukus.
Di lokasi ini secara rutin setiap tanggal 1 Suro (penanggalan Jawa) atau 1 Muharram (Penanggalan Islam) digelar tradisi penyucian kain penutup makam Pangeran Samudro. Tradisi inilah yang kemudian sering disebut sebagai upacara Larap Slambu Pangeran Samudro.
Tradisi Larap Slambu pada perkembangannya tetap dilestarikan oleh Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpor) Kabupaten Sragen. Oleh Disparbudpor kegiatan di Gunung Kemukus dikemas dalam sebuah acara Grebeg Suro. Kegiatan itu meliputi penyucian kain penutup, kirab gunungan, hingga tontonan wayang kulit.
Prosesi upacara penyucian
Prosesi penyucian kain penutup makam Pangeran Samudro biasa digelar dari pagi hari jam 07.00. Pada saat itu banyak warga yang sudah berdatangan dari berbagai daerah dan memadati lokasi kegiatan.
Kegiatan penyucian diawali dengan membawa air kembang, slambu, dan kain mori serta sejumlah ubo rampe berupa sesaji menuju aliran sungai yang bermuara di Waduk Kedung Ombo yang terletak di sebelah timur makam. Jarak lolasi itu kurang lebih 500 meter dan dengan menyusuri anak tangga, rombongan pembawa perlengkapan dikawal sejumlah prajurit.
Di lokasi aliran sungai itu sejumlah warga sudah bersiap untuk memperebutkan berbagai ubo rampe yang nantinya akan dihanyutkan.
Begitu tiba di aliran sungai, berbagai jenis sesaji seperti jajan pasar, buah-buahan, rokok, dan kembang akan dihanyutkan oleh pembawa sesaji. Sesaji yang dilarung ini menjadi sasaran pertama para pengunjung dan peziarah sebelum nantinya mereka memperebutkan air bekas cucian slambu atau kelambu atau jamasan kelambu makam Pangeran Samudro.
Setelah melarung berbagai jenis sesaji tadi, rombongan kemudian akan mencelupkan kelambu yang ditempatkan dalam keranjang ke dalam aliran sungai. Begitu diangkat, kucuran air bekas celupan tadi akan menjadi rebutan mereka yang telah menunggu.
Hal yang sama juga akan terjadi saat rombongan kembali ke pelataran makam Pangeran Samudro. Di pelataran itu kelambu kembali akan dibilas menggunakan air kembang yang bersumber dari tujuh mata air yang sudah disiapkan dalam tujuh gentong. Ratusan liter air kembang tersebut akan menjadi sasaran berikutnya oleh peziarah yang memadati makam saat upacara ini digelar.
Pengunjung dan peziarah yang memperebutkan air jamasan atau sisa cucian, sesaji, dan kain mori percaya bahwa benda-benda tadi dapat mendatangkan tuah. Karena itu, meskipun telah dikemas dalam sebuah kegiatan wisata, puncak acara Larap Slambu Gunung Kemukus selalu terletak pada perebutan sisa air cucian kelambu.
Waktu penyelenggaraan
Upacara penyucian kelambu penutup makam Pangeran Samudro yang dipercaya sebagai putra raja terakhir Majapahit rutin digelar tiap 1 Suro atau 1 Muharram. Pada tahun 2008 kegiatan ini digelar pada 1 Suro 1941 atau 10 Januari 2008. Kemudian upacara ini kembali digelar pada 1 Suro di 18 Desember 2009 dan 15 November 2012.
Pada tahun ini 1 Suro 1947 atau 1 Muharram 1435 akan jatuh pada Sabtu, 25 Oktober 2014!
Info penting nomer telepon Kantor Kecamatan Sumberlawang, Sragen, 0271 - 7004063!
Selain upacara tradisional ini, Kabupaten Sragen masih memiliki beberapa jenis upacara lainnya yang menarik untuk disaksikan. Temukan berbagai jenis upacara itu pada tautan berikut ini!

[...] 28. Upacara Larap Slambu, Gunung Kemukus, Sragen [...]