Warga Pokak Gelar Bersih Desa Sendang Sinongko, Gelar Tasyakuran Massal Di Tepi Sumber Air

Tasyakuran Bersih Desa Sendang Sinongko Ceper Klaten

Bermula dari mendengar bisikan gaib saat beristirahat di pinggir sendang, seorang petani kemudian membuat nasi tumpeng dengan lauk daging kambing yang dimasak becek (gulai), serta minuman berupa es dawet persis seperti apa yang didengarnya. Masakan itu kemudian dijadikan sesaji di lokasi dia mendapatkan bisikan tadi yang juga menyebut tentang hasil panen melimpah dan hidup sejahtera.

Dari tradisi yang dilakukan petani itu, hingga kini warga Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah, masih menggelar tradisi yang sama. Tradisi yang dimiliki leluhur mereka sejak ratusan tahun silam yang dikenal sebagai tradisi Bersih Desa Sendang Sinongko.

Suasana keramaian sudah tampak dari lalu lalang kendaraan bermotor di satu-satunya jalan beraspal di tengah ladang kawasan Desa Pokak, Ceper. Keramaian semakin tampak setelah lewat jam 12 siang, selepas salat Jum’at. Keramaian seperti ini pula yang selalu dapat dijumpai setiap Jum’at Wage di antara bulan Juli – September di kawasan yang juga masuk dalam kawasan pertanian itu.

Hari Jum’at Wage memang hari yang istimewa bagi warga Desa Pokak. Keistimewaan itu dapat dilihat dari keramaian yang dapat dijumpai di sekitar Sendang Sinongko, salah satu objek wisata Kabupaten Klaten juga sekaligus sumber air untuk irigasi lahan pertanian warga lokal yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Tradisi Bersih Desa Sendang Sinongko Desa Pokak

Ribuan warga dari penjuru desa ramai berkumpul dalam kelompok-kelompok yang tersebar di beberapa sudut lokasi yang memiliki dua sumber air itu. Dengan berteduhkan tenda mereka saling bercengkerama, menikmati hidangan, dan juga suguhan acara yang disajikan. Rukun adalah kata yang paling tepat menggambarkan suasana selama berlangsungnya tradisi ini.

Warga juga menyebut tradisi Bersih Desa Sendang Sinongko ini dengan istilah tasyakuran. Bagi kita yang akrab dengan istilah ini, kita memahaminya sebagai rasa syukur dan terima kasih yang ditujukan kepada Tuhan karena diizinkan mendapatkan sebagian nikmat yang diberikan. Selain sebagai tanda terima kasih, tasyakuran juga bermakna untuk tetap sabar dan sadar serta bekerja, karena belum seutuhnya kenikmatan itu didapatkan.

Tradisi Bersih Desa Sendang Sinongko Pokak Ceper

Nikmat seperti apa yang dimaksud? Sebagai masyarakat pertanian, kenikmatan bagi warga Desa Pokak tentu saja adalah hasil panen yang bagus dan melimpah. Karena itu pula, tradisi ini rutin digelar pada bulan antara Juli – September. Karena di waktu-waktu itu jatuh musim kemarau, musim panen bagi sebagian besar warga petani.

Hampir seluruh kebutuhan yang digunakan untuk menggelar tradisi ini adalah swadaya dari seluruh masyarakat. Tokoh masyarakat setempat menyebutnya sebagai wujud syukur atas hasil panen. Karena itu, swadaya berupa sumbangan dalam bentuk apapun terutama kambing sebagai hewan kurban datang dari pribadi masing-masing, yang didasari atas rasa syukur. Tanpa diminta atau bahkan dikoordinasi.

Gulai Kambing Bersih Desa Sendang Sinongko Klaten

Kambing dipilih seperti apa yang mereka yakini dari kisah leluhur petani yang berteduh di tepi Sendang Sinongko. Dalam setiap penyelenggaraan, kambing yang terkumpul bisa mencapai puluhan bahkan hingga ratusan ekor. Seluruh hewan kurban itu nantinya akan disembelih dan dimasak sebagai hidangan utama dalam puncak acara bersih desa.

Seluruh kegiatan Bersih Desa Sendang Sinongko dimulai sejak pagi hari saat warga mulai mengumpulkan kambing yang seluruhnya berjenis kelamin jantan dan menyembelihnya. Untuk tahun ini, 2013, setidaknya 70 ekor kambing dijadikan hewan kurban.

Bersih Desa Sendang Sinongko Desa Pokak Ceper

Seluruh hewan kurban itu disembelih tepat di bawah pohon di salah satu sudut sendang. Kisah yang banyak diceritakan adalah darah dari puluhan kambing yang disembelih itu setelah mengucur kemudian menyentuh tanah dan akar pohon akan segera menghilang dan tidak berbekas. “Bisa diterima baik secara magic atau nalar,” begitu banyak warga menjelaskannya.

Tetapi memang dari sekian banyak kambing yang disembelih, di lokasi itu tidak tampak tanda-tanda “banjir darah” seperti selayaknya.

Selepas salat Jum’at barulah puncak acara tasyakuran Sendang Sinongko digelar dan ribuan warga dari berbagai usia mulai memadati tenda-tenda yang telah disiapkan. Suasana “kendurian massal” semakin ramai dengan hiburan musik organ tunggal dan dangdut yang dihadirkan. Namun tidak semua yang hadir hanya datang dengan tangan kosong.

Gulai Kambing Tradisi Bersih Desa Sendang Sinongko

Seperti dalam cerita asal usul tradisi yang juga dibacakan selama puncak acara digelar, ratusan warga tampak hadir dengan membawa tenong yang berisi nasi tumpeng lengkap dengan sajian pendampingnya seperti ingkung ayam, sambel goreng, dan buah-buahan. Tenong-tenong itu ditandai dan ditata dibeberapa titik lokasi di sekitar tenda.

Nantinya, tenong-tenong itu akan didoakan terlebih dahulu sebelum akhirnya diambil kembali oleh empunya dan dibawa pulang. Tetapi sebelum dibawa pulang, masing-masing tenong juga akan terlebih dahulu diberi tambahan lauk utama berupa masakan gulai daging kambing.

Gulai Kambing Bersih Desa Sendang Sinongko Ceper

Sajian Makanan Tenong Bersih Desa Sendang Sinongko

Setelah acara puncak Bersih Desa Sendang Sinongko selesai digelar, ratusan warga yang datang dengan membawa tenong tidak bergegas meninggalkan Sendang Sinongko. Mereka tampak sibuk menyisihkan sedikit sajian dari dalam tenong mereka untuk kemudian diletakan dibawah pohon lokasi penyembelihan hewan kurban.

Bersih Desa Sendang Sinongko Pokak Ceper Klaten

Warga Desa Pokak meyakini bahwa tepat di lokasi sendang yang menjadi sumber irigasi pertanian itu dulunya berdiri sebuah kadipaten. Di kadipaten itulah dulunya hidup dua tokoh sakti, Ki Singodrono dan Ki Eropoko, yang mengajarkan warganya untuk berkurban dengan hewan, tidak seperti tokoh sakti lain di kawasan itu yang dikenal sebagai pengikut Nyai Roro Kidul yang berkurban manusia.

Kapan prosesi tradisi Bersih Desa Sendang Sinongko di Desa Pokak Kecamatan Ceper, Klaten, kembali digelar?

Sponsored Links

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *