Beberapa waktu yang lalu (01-04/03/2013) sebuah pameran seni rupa bertajuk Rivers of the World persembahan British Council digelar di Balai Soedjatmoko Solo. Dalam pameran yang mengangkat sungai sebagai sebuah inspirasi seni ini terdapat enam karya siswa-siswi dari enam sekolah menengah (SMP) di Kota Solo turut dipamerkan.
Pameran yang secara resmi dibuka oleh Sekda Surakarta, Budi Suharto, itu diakui oleh banyak pengunjung menampilkan karya seni yang jauh dari apa yang mereka harapkan sebelum hadir. Mereka cukup dan bahkan terkejut melihat karya yang ternyata begitu bagus dihasilkan oleh tangan dan pikiran siswa-siswi terpilih dari SMP Negeri 1, SMP Negeri 4, SMP Negeri 9, SMP Muhammadiyah 7, SMP Kristen Kalam Kudus dan SMP Kasatriyan 1 Surakarta.
Saya sendiri yang hadir pada pembukaan pameran cukup terkejut melihat hasil karya rekan-rekan pelajar ini. Tidak hanya terlihat bagus dari sisi artistik tetapi karya mereka juga dapat dibaca sebagai sebuah pesan dan harapan yang tercetak dalam sebuah karya seni rupa.
Belajar dan meneliti aliran Sungai Bengawan, itu yang mereka lakukan untuk menemukan pematik sumber inspirasi mereka untuk kemudian menggambarkan sungai terpanjang di Pulau Jawa ini sesuai dengan tema yang telah ditentukan. River of Live, Polluted River, Resourceful River, Working River, River City, dan River Culture adalah enam tema yang diangkat dalam karya pelajar-pelajar itu.
Solo dipilih karena kota ini mewakili peradaban dan kebudayaan maju yang pernah dan masih berlangsung di lembah sungai sepanjang 548 km tersebut. Sebut saja era kerajaan sebelum kerajaan yang saat ini masih berkuasa ada, Sungai Bengawan sudah menjadi sebuah pusat dari kegiatan manusia kala itu, jalur transportasi dan jalur perdagangan. Bahkan hingga saat ini, Sungai Bengawan masih menjadi sebuah pusat kegiatan manusia yang meliputi berbagai segi kehidupan baik dari sisi ekonomi, sosial, hingga budaya.
Yang jadi masalah saat ini adalah kondisi sungai dari era kerajaan saat itu dengan kondisi saat ini telah jauh berubah dan berbeda. Sungai yang juga begitu dikenal lewat lagu Gesang dan juga menjadi ikon Kota Solo (dan masih menjadi ikon hingga saat ini) kini layaknya “halaman belakang” kota pertunjukan ini, terembunyi, kotor, dangkal, bau, dan tercemar.
Bayangkan saja, dari 16.100 km² luas wilayah lembah sungai, Kota Solo adalah wilayah yang paling diuntungkan dengan keberadaannya. Selama bertahun-tahun lamanya, bahkan berabad-abad, setiap nama sungai ini disebut, dalam benak orang yang mendengar pasti akan muncul bayangan Kota Solo. Padahal dari begitu luasnya lembah sungai, tidak hanya Solo yang dilalui Bengawan Solo. Namun apa mau dikata, Gesang pun sudah terlanjur menyebut mata airnya pun dari Solo sebelum akhirnya ke laut.
Kota Solo sebagai kota yang begitu terangkat namanya baik secara sejarah, ekonomi, atau budaya oleh sungai ini hingga menggunakannya sebagai ikon justru keluar sebagai wilayah yang paling parah dalam menyumbangkan kerusakan. Sebuah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 para peneliti menemukan bagaimana sungai ini menjadi tempat sampah raksasa.
Mereka mencatat bagaimana pencemaran terutama disumbang oleh Kota Solo dan sekitarnya. Dalam perjalanan mereka mengarungi sungai ini mereka menemui bahwa kualitas air yang dilihat secara visual terlihat jelas dan semakin parah ketika memasuki Kota Solo. Berbagai jenis limbah, seperti dari rumah tangga, limbah tekstil, atau limbah pabrik dibuang ke Bengawan Solo. Khusus untuk limbah tekstil, kita bisa dengan jelas melihatnya dengan mata telanjang bagaimana limbah ini membuat beberapa titik aliran sungai terlihat berwarna-warni.
Semua itu belum termasuk limbah biologis yang juga masuk ke sungai, seperti kotoran babi, kotoran ayam, bangkai hewan, hingga ari-ari bayi. Selain limbah biologis tentu saja limbah plastik adalah produk unggulan dalam tiap kasus pencemaran. Limbah jenis ini tampak jelas terlihat di sepanjang aliran sungai, meninggalkan jejak pada tiap pohon yang tumbuh di pinggiran sungai.
Bagaimana kita menyikapi temuin ini sekarang? Temuan yang sudah tercatat sejak 2007 namun kondisi belum juga berubah hingga saat ini. Ibarat kata, sungai adalah sebuah jalur satu arah. Sadar atau tidak, ketika di suatu tempat (hulu) kita mencemari sungai, maka limbah itu akan mengalir dan mencemari bagian lain yang akan dialirinya (hilir). Di bagian lain itulah orang lain akan menerima perilaku buruk kita sebagai sebuah ketidak beruntungan.
Jangan sampai kita hanya gelem jamure emoh watange tentunya. Kota ini sudah memakan jamurnya tetapi jangan sampai kota ini tidak mau memakan batang jamurnya dan justru orang di kota lain yang memakan bagian tidak enak itu.
Kembali ke Balai Soedjatmoko saat menikmati warna-warni karya seni rupa pelajar SMP yang dipamerkan, kemudian saya mengetahui bahwa warna-warni karya mereka juga sudah sampai ke London, Inggris, pada pameran Festival Sungai Thames. Dengan kata lain masyarakat dunia sudah menyaksikan bagaimana “berwarna-warninya” Bengawan Solo.
Adalah karya pelajar dari SMP Negeri 4 Surakarta dan SMP Muhammadiyah 7 Surakarta yang mengangkat sungai ini karena polusinya. Dalam karyanya, pelajar SMP Negeri 4 Surakarta mengangkat Gesang sebagai sebuah role model dan mereka ingin mencontohnya. Karya mereka menyampaikan harapan masa depan yang lebih baik untuk sungai dan masyarakat yang hidup disekitarnya seperti apa yang ditunjukan Gesang dalam lirik lagu Bengawan Solo.

Sedangkan karya pelajar SMP Muhammadiyah 7 Surakarta mengangkat tentang penyesalan dan harapan. Bagaimana menyesalnya mereka dalam memperlakukan sungai selama ini hingga air mata mereka gambarkan dalam karyanya. Tidak kemudian kehilangan semangat mereka juga membubuhkan harapan mereka untuk sungai ini didalamnya.
Apa yang harus kita lakukan sesudah pameran ini? Akankah nilai-nilai dan harapan yang begitu indah tadi hanya terkurung di dalam ruang pamer Balai Soedjatmoko saja? Ataukah cukup kita hargai sebagai sebuah karya seni rupa yang apik namun tidak kita sikapi bentuk harapan yang mereka sampaikan?
Usaha siswa-siswi SMP ini tentunya tidak harus terputus di tengah jalan. Kita harus lebih nyata dan berani menyikapi kenyataan ini. Tindakan lebih harus kita wujudkan meskipun usaha-usaha bersama telah kita gerakkan. Gunungan Charity Boat Race atau Festival Gethek misalnya.
Bentuk-bentuk usaha untuk mengangkat perhatian warga terhadap sungai melalui sebuah festival seperti itu tentu tidak diharapkan hanya berhenti ketika perahu mereka mencapai garis finish saja. Di luar festival itu kita harus bertindak nyata, di awali dari hal paling kecil hingga nantinya terwujud peraturan dan kebijaksanaan yang menyentuh. Peraturan dan kebijaksanaan yang menguntungkan bagi semua pihak tentunya. Dan bukan hanya dari kita yang tinggal di wilayah Kota Solo pastinya.

Jangan hanya memperlakukan sungai ini sebagai tempat sampah raksasa hingga menjadi cermin dari ketidak-pedulian. Memang Solo bukanlah satu-satunya kota yang menyumbangkan kerusakan. Ada banyak daerah lain yang turut ambil bagian dalam kerusakan Bengawan Solo. Namun, sebagai bagian dari daerah-daerah yang dialiri dan mengambil manfaat darinya, apa salahnya juga kita mulai bersikap dan turut menjaga kelestarian sungai ini.
Sekarang pilihan kita sendiri untuk menjadikan Sungai Bengawan Solo kembali sebagai halaman depan Kota Solo atau menenggelamkan nama kita sendiri dalam alirannya. Mari berbuat untuk sesuatu yang lebih baik, mari kita perlihatkan pada Londoners (sebutan bagi warga London) bahwa Soloers juga mampu hidup bersanding dengan sungai layaknya Londoners bersanding dengan Sungai Thames, yang mereka klaim sebagai sungai dengan kondisi terbaik selama 150 tahun terakhir serta memenangkan Thiess International Riverprize (salah satu penghargaan lingkungan paling bergengsi di dunia) pada tahun 2010.
Mari kita tunjukan pada mereka, entah kapan suatu saat nanti, pelajar-pelajar kita memamerkan warna-warni indahnya karya seni rupa mereka yang terinspirasi dari Sungai Bengawan yang lestari dan sehat bukan Sungai Bengawan yang berwarna-warni karena polusinya ke hadapan mereka dalam festival budaya mereka. Jangan sampai kita diam dan menunggu hingga sungai iconic di Pulau Jawa ini menjadi seterkenal Sungai Citarum di Jawa Barat.
View days ago (01-04/03/2013), British Council represented an art exhibition entitled Rivers of the World that took place at Balai Soedjatmoko. There were six pieces from six local junior high schools in the exhibition. The main theme from the six selected works was “river.”
“Surprising!” that was the exact word said by every visitor at Balai that night. Almost all the visitors were surprised when they found that the junior high school students’ works were far above everyone’s expectation.
It was a pro. Not just looked artistically good but also looked so meaningful. It was a message carved on artistic works.
The analysis and observation of Bengawan Solo (river) were vivid. They know what they have seen before they draw it on a frame. There were six themes for the art works. River of Live, Polluted River, Resourceful River, Working River, River City, and River Culture.
Solo was one of the selected cities in the world. The city represented living civilization and culture that lay on a 548 km long basin. Hundred years ago, the ruling empire used the river as an integral part of their domination. It was used as a trade lane, and even more, it still does.
But there was a huge different condition at that time and todays. The iconic river has changed into a giant gutter. It was hidden, dirty, shallow, smells, and contaminated, inversely to the greatest song’s lyric about the river which was written by Gesang.
It was not a poor logical when Gesang wrote on his song that the source of Bengawan is from Solo. When people read about the city of Solo and its history, they will find how the city and the river are strongly bound. And as the song was sung across the globe, Bengawan and Solo has become an inseparable name.
But in 2007 an ironic came to the citizens’ ears as Kompas ran an expedition in longest river in Java. The researchers found that the river has changed into a giant landfill site. The most surprising fact revealed that Solo, as the city which gained its fame from the river, showed up as the biggest contributor to the damage.
They wrote that Solo and its surrounding area gave real contribution to the damages of the river. In their expedition across the river, researchers found that the water quality were decrease as they enter the areas. Moreover, it was said that the degression was seen visually in the area.
They saw different kind of wastes was thrown out to the river. Easily they could see household wastes, industrial wastes, containers and product packaging, or animal wastes from pig farm or slaughterhouse.

Now, what should we do? The recorded findings, since 2007, have revealed the river condition but there was no such act to change it. River is an unstoppable one way stream, it’s like vein. When the upstream is being polluted, the entire living thing in downstream should take its price. One mistake in upstream, thousand miseries in downstream.
There’s a saying in Javanese, gelem jamure emoh watange, take the good part and thrown away the rest. Solo has taken the good part of the river, but other cities get its bad part, contamination.
Get back to the exhibition; visitors knew that the students’ pieces have been displayed in London at Thames Festival. In other words, people in different world have seen “the colorful” Bengawan Solo River.
There were two pieces of students from SMP Negeri 4 Surakarta and SMP Muhammadiyah 7 Surakarta (junior high school) who talked about the contamination. In their piece, students from SMP Negeri 4 Surakarta picked Gesang as a role model. They wanted to follow him, talk about the river and its beauty. Their work of art conveyed hopes and prays for the river and people who life from it. To get a better life, a beautiful life. Just like Gesang’s lyrics.
Different theme could be seen in the students of SMP Muhammadiyah 7 Surakarta piece. Their work of art conveyed hopes and regrets. They regretted their act of damaging which was symbolized in tears drop. But in the stream of river and tears they painted their hopes to the river.

What should we do with the students thought now? Will we just let it go like we always did? Or will we just praise it as a work of art?
It should not just stop here. In the exhibition room. Action should be realized. We should act more and more.
Present day, Soloers (people of Solo) participated in Gunungan Charity Boat Race atau Festival Gethek (Traditional Boat Festival). Both festivals were held to raise people awareness. To love and life with the river. Restore its beauty from the tourism aspect.
But the efforts seem worthless as the boat reach its finish. The River of Bengawan needs more than these. It needs a deep and real act. Perhaps a firm regulation toward environmental pollution could help. Kind of thoughtful favorable regulation for everyone who’s life depends on the river.
Before we go to that level, first thing to do is that people should know the very first step of the restoration. Do not treat river like it was a dump!



Leave a Reply