Memasuki wuku Dukut, minggu ke-29 dalam siklus waktu penanggalan Jawa, warga Dusun Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, kembali menggelar tradisi rutin yang digelar sekali dalam tujuh bulan yaitu tradisi Dukutan. Tradisi bersih desa dengan puncak acara tawur sesaji boga ini berlangsung meriah pagi tadi (30/07/2013) di situs Candi Menggung yang juga dipercaya sebagai pepunden desa setempat.
Ratusan warga terlihat antusias mengikuti jalannya prosesi tawur agung yang dimulai sejak pagi hari sebelum jam 8. Tradisi permohonan keselamatan bagi warga dan dusun di lereng Gunung Lawu ini berlangsung cukup unik karena memiliki puncak prosesi berupa tawur agung Dukutan dimana dua kelompok pemuda desa terlibat dalam prosesi tawuran dengan saling melempar boga atau jagung olahan.
Puncak acara berupa prosesi tawur boga berlangsung di situs Candi Menggung dan satu pepunden lain di sisi desa. Sesaji yang digunakan untuk bertarung hampir seluruhnya terbuat dari boga. Meskipun begitu didalamnya juga terdapat buah-buahan dan juga umbi-umbian yang lumayan keras saat dilempar dan mengenai tubuh.
Meskipun demikian, prosesi puncak tradisi bersih desa yang berwujud tawuran ini tidak pernah merembet hingga ke luar arena. Yanto, salah satu pemuda yang dipilih untuk mengikuti prosesi tawuran, mengungkapkan bahwa hal seperti itu pernah dan sering terjadi namun tidak sampai berlanjut di luar prosesi. “Sering kalau hanya ribut saat tawuran. Tetapi nanti juga langsung selesai saat prosesi tawuran rampung,” jelasnya.
Selain sesaji dari olahan jagung digunakan untuk tawuran, sesaji-sesaji ini juga digunakan untuk sesaji bagi leluhur desa yang dipercaya bersemayam di pepunden desa yaitu Eyang Menggung. Dari Eyang Menggung juga konon tradisi ini bermula dan hingga saat ini tradisi ini masih lestari dan sangat dijunjung oleh warga setempat.
Dusun Nglurah yang masuk dalam Kelurahan Tawangmangu sudah sejak lama dikenal sebagai kawasan penghasil tanaman hias dan tanaman obat. Namun semenjak beberapa tahun ini, Dusun Nglurah juga mulai terkenal dengan keberadaannya karena ritual bersih desa yang rutin digelar setiap Selasa Kliwon di wuku Dukut ini.
Ridin Padmosutoyo selaku sesepuh desa menjelaskan bahwa sudah sejak beberapa tahun yang lalu beberapa media mulai meliput tentang keberadaan ritual ini. “Seluruh sesaji yang digunakan itu sepele. Namun hal itu dapat mendatangkan kemeriahan. Sejak 8 - 9 tahun lalu Dukutan telah dikenal luas dan banyak media datang untuk meliput,” pungkas Ridin yang juga menjabat sebagai ketua rukun warga di Dusun Nglurah.


Leave a Reply