Pada masanya, begitu banyak wanita Jawa, baik muda hingga tua, mengenakan pakaian dengan tatanan berupa atasan kelambi (kebaya) dengan bawahan kain jarik. Sebelum mengenakan kebaya, kutang suroso, pakaian dalam, terlebih dahulu dikenakan untuk menutupi tubuh bagian atas. Stagen menjadi bagian penting berpakaian yang digunakan layaknya ikat pinggang untuk mengikat jarik tetapi juga menutup bagian bawah kutang. Lalu balutan stagen ditutup dengan angkin dan kebaya menjadi penyempurna. Saat ini tatanan berbusana sehari-hari seperti itu mungkin hanya dapat dengan mudah ditemui di dalam pedesaan, dikenakan oleh wanita yang sudah lanjut usia.
Siang itu (28/01/2014) gerimis mengguyur Dusun Blimbing di Desa Luwang, Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Gerimis yang turun membuat jalanan dusun tampak sepi. Dari jalan masuk dusun ini tidak tampak sesuatu yang berbeda dari tiap rumah warga. Namun jika diamati jauh lebih teliti ada hal yang membuat tiap rumah, meski tidak seluruhnya, tampak sama. Di depan tiap rumah itu terlihat beberapa alat tenun seperti sekir dan erek (pemintal benang), alat tenun, atau jemuran benang.
Tek.. tek…. Tek.. tek…. bunyi suara ujung teropong yang menghentak dan bersautan adalah suara denyut nadi kehidupan sebagian warga Dusun Blimbing. Bunyi yang menjadi khas suara alat tenun itu telah bergaung di dusun yang terletak di sebelah barat Stasiun Gawok, Sukoharjo, itu sejak tahun 1967. Bunyi yang biasa mulai bersautan dari pagi hingga sore hari itu hanya berhenti terdengar ketika menginjak waktu rolasan atau makan siang sekaligus waktu salat Dzuhur.
Meskipun bunyi denyut nadi warga yang berasal dari alat tenun itu masih terdengar, menurut para pengrajin bunyi itu pernah sangat ramai dan jauh lebih ramai terdengar dari saat ini. “Dulu banyak sekali Mas. Suara orang nenun juga pasti terdengar sepanjang hari di (dusun) sini,“ terang Sumiyem seorang perajin tenun.
47 Tahun Kain Stagen Tenun Blimbing
Dari bertanya ke satu rumah ke rumah lainnya, kami di arahkan menuju ke tempat usaha sekaligus rumah kediaman milik Partowiyono (80) yang berada di tengah-tengah dusun. Di teras rumah Partowiyono terlihat istri dan cucunya sedang sibuk memintal benang pakan dengan alat erek yang terbuat dari pelek roda sepeda. Sementara di dalam ruang produksi tampak tiga pekerja wanita Partowiyono sibuk menenun tiga jenis kain stagen yang berwarna merah, hijau, dan hitam.
Partowiyono adalah orang pertama yang mengenalkan tenun, terutama kain stagen, pada warga dusun itu setelah dirinya memutuskan untuk membangun usaha tenun selepas kerusuhan Gestok di tahun 1967. Segala pengetahuannya tentang tenun didapatkan saat bekerja sebagai “tukang servis” alat tenun pada seorang juragan tenun di Kota Solo. “Saya dulu belajar di tempat Pak Joyosurono di Gambiran, Baron. Di sana saya bekerja sebagai tukang memperbaiki mesin tenun yang jumlahnya 50,” ingat Partowiyono.
Setelah berhasil mendirikan usaha tenun hingga dapat mengupah 13 pekerja, tetangga Partowiyono pun akhirnya juga melirik usaha yang sama dan belajar darinya. Dari rumah perajin pertama tenun stagen Blimbing itu kemudian tenun menyebar ke seluruh dusun bahkan hingga kawasan di sekitar dusun. Bahkan kini kelima anaknya, juga beberapa keponakannya, mewarisi keterampilan serupa dan turut menjalankan usaha tenun di daerah lain. “Kelima anak saya nenun semua Mas. Kalo yang di dusun sebelah itu keponakan saya. Dia juga belajar dari saya dulu,” ujar Partowiyono.
47 tahun setelah memulai dan mengenalkan kain stagen tenun, asam manis pengalaman dirasakan Partowiyono. Dirinya membagi cerita tentang tiga pengalaman merangkum perjalanan usaha tenunnya. Dari pengalaman tentang keuntungan, hutang yang nyaris menenggelamkan usahanya, hingga nasib stagen tenun saat ini.
Kisah keuntungan yang berlimpah datang dari awal dirinya membuka usaha tenun kain stagen. Tak lama setelah membuka usaha, pada kisaran tahun 1967 - 1968 usaha tenunnya dibanjiri pesanan. “Waktu itu dalam satu hari bisa dapat 30 kodi (600 lembar kain stagen),” terangnya. Selain dibanjiri pesanan Partowiyono juga mengaku tidak kesulitan memasarkan stagen tenunnya. “Dulu saya tidak pernah di rumah. Saya keliling hingga Semarang, Demak, Kudus, Sragen, Madiun, bahkan Surabaya,” ujarnya.
Setelah masa keemasan tenun stagen dicicipinya, masa suram usahanya datang setelah lewat satu dekade. “Tahun 1979 jatuh tenun saya Mas. Utang saya banyak. Rumah saya nyaris dijual untuk cari pinjaman usaha dari bank di Sukoharjo.” Pada saat itu pula dirinya mengaku mulai ditinggalkan pekerjanya yang memilih bekerja di pabrik tekstil yang memang banyak berdiri di sekitar kawasan Gatak.
Kondisi usaha tenun stagen menurut Partowiyono seakan tidak pernah menemui masa emas setelah lewat tahun 1968. Lewat masa itu pangsa pasar stagen tenun seakan terus turun bahkan dirinya sempat bingung menjual hasil produksi tenunnya. “Sekarang yang ngambil stagen saya ya pemasok benang saya. Saya yang ngajari untuk menjual stagen karena saya juga sempat bingung,” ujarnya yang juga mengaku usia menjadi batasan baginya.
Partowiyono sadar betul dengan kondisi kain stagen tenun saat ini. Jumlah pemakai stagen yang tidak lagi sebanyak dulu menjadikan pasar tenun menjadi terbatas. Hanya di pasar tekstil besar seperti Pasar Klewer (Solo) banyak penjual menampung hasil produksi pengrajin. Oleh para penjual kain stagen itu dihargai Rp 250 ribu – Rp 300 ribu perkodi. Stagen dengan warna polos merah dan hijau (panjang 5 meter) dihargai Rp 300 ribu sedang warna polos hitam seharga Rp 250 ribu. Untuk jenis stagen kertip (dengan campuran benang emas) dengan panjang 3,5 meter dipatok dengan harga Rp 250 ribu.
Pekerja tenun di tempat Partowitono seakan senasib dengan kain stagen hasil tenunan mereka. Upah bekerja mereka dipatok dari banyak sedikitnya stagen yang dikumpulkan. Untuk satu lembar kain (4 – 5 meter) mereka dibayar Rp 2 ribu. Tiga pekerja Partowiyono telah berusia di atas 50 tahun dan rata-rata telah bekerja puluhan tahun bersamanya. Kemampuan produksi para pekerja ini hanya empat sampai lima kain stagen sehari.
Di penghujung masa?
Ada yang menarik ketika melihat proses produksi stagen tenun dan mendengarkan cerita perajin di Dusun Blimbing. Kisah yang mengingatkan pada cerita para perajin blangkon di kawasan Serengan, Solo. Apalagi blangkon dan stagen adalah dua produk kerajinan yang sama-sama digunakan orang Jawa dalam berpakaian, baik dalam keseharian (duhulu saat blangkon masih berupa udeng atau ikat kepala) dan untuk upacara tertentu.
“Blangkon inikan ikat kepala yang bentuknya disederhanakan Mas. Dulunya orang ya cuma pakai udeng untuk ikat kepala. Maksudnya mungkin untuk memudahkan,” ujar Rachmad, seorang perajin Blangkon di rumah usaha blangkon Ibu Keksi, Serengan. Selain menceritakan sejarah blangkon mereka juga menjelaskan bahwa saat ini mayoritas pembeli produk kerajinan mereka adalah para penjual suvenir, salon atau tempat persewaan pakaian adat. Dari cerita para perajin blangkon itu sebuah pandangan terlihat tentang bagaimana salah satu bagian dari budaya berpakaian telah lebih dahulu hilang ditelan waktu.
Tidak ada orang yang menggunakan blangkon dalam berkeseharian. Budaya menggunakan ikat kepala pun telah jauh hilang ketika blangkon mulai digemari. Nasib yang sama mungkin juga bisa ditemui pada jarik yang dipakai sebagai penutup bagian bawah tubuh atau kutang suroso dan angkin bahkan kelambi (baju) yang kini lebih banyak dikenal dengan nama kebaya.
Catatan menarik lainnya datang dari “Cakmin” Mustamin, seorang pelukis realis asal Klaten, yang lebih dari dua dekade dikenal sebagai pelukis simbok-simbok atau ibu-ibu yang khas dengan pakaian adat keseharian Jawa. Dalam lukisannya stagen juga muncul dalam tiap goresan. Saat menjelaskan kisaran tahun yang ditangkap kuasnya dirinya menjelaskan, “Kalau berbicara tahun mungkin berhubungan dengan masa kanak-kanak saya. Ya 70 – 80-an lah.”
Sementara dari pengamatannya, Cakmin melihat bahwa saat ini rata-rata pengguna pakaian dengan stagen adalah wanita usia 60 tahun ke atas. “Hanya yang berusia 60 (tahun) ke atas yang masih memakai stagen. Dan tentu setelah generasi ini tidak ada otomatis kita hanya melihat stagen pada acara-acara tertentu saja seperti jagong dan hari besar. Sementara di kehidupan keseharian, sangat langka.”
Dari cerita para perajin blangkon dan pelukis wanita Jawa, cerita tentang stagen dari perajin di Desa Luwang membawa pada pertanyaan, “Kapan ujung masa stagen tiba?”. Dalam kehidupan sehari-hari pengguna stagen kebanyakan adalah wanita lanjut usia, dari apa yang dituturkan Cakmin bisa jadi mereka inilah pemegang sisa dari budaya berpakaian Jawa dalam keseharian. Sementara sebagai pelengkap pakaian adat stagen masih dipakai baik oleh pria dan wanita Jawa, baik dalam upacara atau pertunjukan.
Ujung masa stagen dalam keseharian dipegang oleh para pemakainya. Jika mereka yang mengenal stagen sebagai pelengkap pakaian sehari-hari telah sepuh, maka stagen pun juga telah sepuh. Jika stagen menunggu ujung masanya, para perajin stagen kini menunggu pelanggan stagen yang berbeda. Selain toko suvenir mungkin saja salon atau tempat persewaan pakaian adat Jawa. Pelanggan yang sama yang juga dilayani oleh para perajin blangkon saat ini dan bukan lagi perseorangan yang telah menerima budaya berpakaian keseharian berbeda.
Suara hentakan teropong tenun mungkin akan terus terdengar di sentra kerajinan stagen tenun Blimbing untuk waktu yang lama. Namun disadari atau tidak para perajin stagen tenun itu kini tengah menenun sisa budaya berbusana atau berpakaian keseharian wanita Jawa.






Leave a Reply