Berada di kawasan jalan raya yang dilewati kendaraan-kendaraan berat dan bus jurusan Wonogiri – Solo, Kecamatan Serengan lebih banyak dikenal sebagai kawasan kuliner dengan warung-warung soto dan juga selat solo yang terkenal. Di era kepemimpinan Jokowi, potensi lain dari kawasan ini pun menyeruak. Di kecamatan ini, terutama Kelurahan Serengan, kini terkenal sebagai sentra kerajinan Blangkon.
Kerajinan blangkon atau penutup kepala dengan motif batik sebenarnya telah berkembang di kawasan ini sejak 1950-an. Mbah Joyo dan ayahnya Koeswanto disebut sebagai dua sosok yang mengawali berdirinya kerajinan blangkon hingga akhirnya dicetuskan sebagai sentra blangkon Serengan oleh Jokowi.
Di tengah hari yang panas dan menyengat Senin (29/10/2013) siang itu tampak dua karyawan tengah sibuk di rumah Ibu Keksi yang berada di tepi Jalan Sadewo, di dalam perkampungan Kelurahan Serengan. Berpuluh-puluh blangkon tampak rapi dijemur di luar pintu tempat kerja dua karyawan tadi yang hanya berukuran 3 x 3 meter. Sementara di dalam ruangan, di salah satu sudut ruang, tampak bertumpuk-tumpuk karung plastik blangkon yang sudah jadi dan menunggu pengepul mengambilnnya.
Dalam masing-masing kantung plastik itu terdapat berbagai macam blangkon yang berbeda motif dan jenis. Kebetulan hanya ada dua jenis blangkon yang ada di dalam kantung plastik itu yaitu jenis yang menggunakan Wiron dan tidak. Dua puluh blangkon atau satu kodi adalah jumlah di tiap karung. Disusun rapi dalam dua susun, melingkar setiap sepuluh buah dalam tiap susun. Dalam satuan ini pula usaha kerajinan ini biasa melayani pemesan.
Di sudut lain dalam ruangan dua karyawan Ibu Keksi, Rudi dan Rachmad, dengan trampil dan cekatan membuat berpuluh-puluh blangkon setiap harinya. Usaha kerajinan blangkon Ibu Keksi sendiri adalah usaha turun temurun yang sudah berlangsung sejak beberapa dekade. “Bu Keksi adalah generasi ketiga keluarganya yang menjalankan usaha ini,” terang Rudi.
Rudi sedang mengerjakan blangkon dengan jenis yang menggunakan Wiron di depannya, ujung kain berbentuk segitiga yang muncul pada bagian depan blangkon. Sementara Rachmad mengerjakan blangkon tanpa Wiron. Di ruangan lain Bu Keksi tampak sibuk memotong kain batik cap sebagai bahan utama pembuatan blangkon sambil berbincang dengan pembeli produk buatannya.
Tangan-tangan Rudi dan Rachamad tampak sangat terampil menyatukan bagian-bagian blangkon yang berupa Wiron, Tongkeng, Waton, Tutupan, dan Kudung di atas Klebut, cetakan dari kayu berbentuk bulat seperti kepala, dengan lem yang terbuat dari tepung kanji.
Dalam satu hari Rudi dan Rachmad mampu merampungkan 30 buah blangkon. Mereka berdua memulai pekerjaanya sejak pagi hingga jam 4 sore atau lebih. Bayaran yang mereka terima dapat diambil setiap hari atau mingguan tergantung kebutuhan “mendesak” mereka. Selain Rudi dan Rachmad, beberapa tetangganya juga mengerjakan blangkon milik Bu Keksi, hanya saja mereka mengerjakannya di rumah masing-masing.
Karena itu tidak mengagetkan jika di sepanjang gang sempit di wilayah Potrojayan RT 02 RW 06 Serengan itu sejauh mata memandang banyak blangkon dijemur di tepi jalan di sepanjang gang. “Dalam satu hari warga sini mampu membuat sekitar 1.000 blangkon loh mas,” terang Rudi.
Untuk satu kodi pesanan blangkon harga yang dipasang berbeda-beda, bisa saja berharga Rp 200 ribu – 25 ribu atau lebih. Bisa juga harga dipatok tergantung dari material yang dipilih pemesan. Dari sekian banyak pesanan, mengerjakan pesanan salon atau persewaan baju pernikahan adalah yang paling rumit. “Ribet mas, banyak mintanya,” kata Rudi, “Yang ini yang itu, ditungguin dan banyak maunya,” tambah Rachmad.
Tidak berbeda dengan tempat usaha lainnya, musim ramai memesan blangkon di kawasan sentra kerajinan blangkon Serengan adalah saat musim nikah, di luar bulan Sura, karena blangkon masih banyak digunakan oleh orang Jawa sebagai pelengkap pakaian tradisional atau beskap. Karena itu pesanan paling banyak datang dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang banyak menggunakan blangkon gaya Surakarta dengan bentuk “mondholan”, bagian yang menonjol di belakang blangkon, trepes atau tipis sebagai pelangkap pakaian tradisional.
Rachmad juga menambahkan bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini pesanan blangkon tidak hanya ramai saat memasuki musim nikah saja. “Tiap musim kampanye itu banyak juga yang pesan dengan batik motif logo partai seperti pada pemilu terakhir,” tuturnya.
Soal pemesan dari luar Jawa, dirinya dan Rudi kembali menambahkan bahwa warga keturunan Jawa tetap menjadi pemesan utama blangkon Ibu Keksi. “Dari Sumatra, Kalimantan, banyak yang pesan bahkan dari Papua. Kebanyakan ya orang Jawa yang tinggal di sana,” terang Rachmad.
Blangkon secara ringkas adalah bentuk ikat kepala yang dipatenkan dalam sebuah bentuk sederhana. Karena kesederhanaan dan kemudahan penggunaannya, seperti dasi siap pakai, banyak pemakai lupa atau juga tidak tahu bagaimana para perajin membuat blankon-blangkon itu hingga sampai ke tangan pemesan. Selain dorongan ekonomi atas rupiah yang dihasilkan, para perajin blangkon di sentra blangkon Solo ini mengaku bangga dapat menjaga dan melestarikan produk budaya khas daerah mereka.



[…] orang ya cuma pakai udeng untuk ikat kepala. Maksudnya mungkin untuk memudahkan,” ujar Rachmad, seorang perajin Blangkon di rumah usaha blangkon Ibu Keksi, Serengan. Selain menceritakan sejarah blangkon mereka juga menjelaskan bahwa saat ini mayoritas pembeli […]