Eko Supriyanto, siapa yang tidak mengenal penari dan koreografer satu ini. Dia pernah bekerja bersama Madonna dan karya-karyanya menjadi suguhan secara global. Dari Indonesia sekarang karya tari Eko juga menjadi milik Asia, Eropa, serta Amerika. Tak heran jika kemudian Eko terpilih menjadi satu dari tiga “most notable” koreografer Asia Tenggara untuk ikut dalam proyek pertunjukan tari Fire Fire Fire bersama Goethe Institut.
Dalam pertunjukan Fire Fire Fire yang digelar di Teater Besar ISI Surakarta (02/02/13), karya tari Eko turut dipertontonkan ke hadapan pengunjung. Karya tari yang diinspirasi dari kisah Sinta Obong yang menjadi bagian dari epik Ramayana ini menjadi suguhan penutup dengan menghadirkan tiga pasang penari wanita dan pria.
Dari pasangan-pasangan penari pria dan wanita ini akhirnya muncul inspirasi yang coba diangkat Eko Supriyanto tentang kesetaraan dan komitmen. Kesetaraan dan komitmen itu muncul tidak lain dari kisah Rama yang menuntut kesetiaan dan keperawanan Sinta hingga ia harus dibakar dengan api.
Seperti dilansir blog tanzconnexions, dimana Eko mempertanyakan tentang kisah klasik tersebut yang tidak mungkin terjadi di masa sekarang atau terjadi pada wanita yang hidup di masa ini. Dari situ kemudian muncul ide tentang kesetaraan dan kesetiaan yang kemudian ditambahkan dengan gerak spiral dalam karya tari Sinta Obong versi Eko Supriyanto.
Semua gagasan Eko tersebut memang sangat kental saat dibawakan di atas panggung. Penari-penari yang menggunakan kostum lurik itu tampak bertenaga dalam tiap gerak tubuhnya. Sebuah cirri khas dari karya tari Eko Supriyanto. Dan dari awal hingga akhir gerak tubuh mereka lebih menyerupai spiral atau gerak pegas atau kobaran api. Seolah saling memantul meskipun bergerak bersama pasangan masing-masing.
Karya tari Spiral dari Eko ini menjadi penutup pertunjukan yang sebelumnya juga digelar di Kamboja, Thailand, dan Jakarta. Eko yang membawa penari-penarinya yang tergabung dalam Solo Dance Studio melakoni tur ini bersama dua koreografer handal lainnya yaitu Sophiline Cheam Shapiro asal Kamboja dan Pichet Klunchun asal Thailand.
The local choreographer, Eko Supriyanto, was selected to be one of three most notable South East Asian choreographers in 2012. His persistence to contemporary dance work and his successful story brought him to be the selected artist to create a piece of work on “Fire Fire Fire” dance project by Goethe Institut.
And finally at February 2nd, 2013, he performed his piece that was adapted from the epic story of Ramayana in front of the audiences in his hometown, Solo. It was at Teater Besar building, ISI Surakarta, Eko and two other choreographers performed their pieces on a dance performance entitled “Fire Fire Fire”.
His piece became the last performance that night. Three women and three men appeared to be his dancers. They danced in couple and brought Eko’s piece which was inspired by the movement of spiral and flame.
Three couples, spiral, and flame were used by Eko to raise the issues of equality and commitment of man and woman as in the epic story of Ramayana. In the story, it was described that Rama asked Sita for her virginity and loyalty by set her up on a trial by fire.
As it was reported in tanzconnexions blog, Eko questioned the traditional story where women were treated so badly only to show their loyalty. Eko presented a different view offer his piece, he has a certain thought that the same kind of condition would not ever happen to women nowadays.
His thought could be seen clearly in his work. Each couple moved like spiral and flame and at the same time they were committed to each partner.
Before the appearance of Eko and his dancers from Solo Dance Studio, Sophiline Cheam Shapiro from Cambodia and Pichet Klunchun from Thailand appeared in the first and second session of the show. And like Eko’s piece, their pieces were also adapted from the same story of Sita’s trial by fire.






[…] koreografi baru dari Asia Tenggara ini melibatkan tiga koreografer kenamaan seperti Eko Supriyanto dari Indonesia, Pichet Klunchun dari Thailand, dan Sophiline Cheam Shapiro dari Kamboja. Dan dalam pementasan […]