Sophiline Cheam Shapiro adalah salah satu koreografer yang tergabung dalam pertunjukan tari kolaborasi Fire Fire Fire yang dipersembahkan oleh Goethe Institut. Sophiline Cheam Shapiro sendiri adalah koreografer kebangsaan Kamboja yang memiliki pengetahuan mendalam soal tari klasik Kamboja serta penuh dengan gagasan baru. Dalam pertunjukan tari Fire Fire Fire yang digelar di Teater Besar ISI Surakarta (02/02/13), dia mempersembahkan ide baru tentang Sinta dan Rama dalam sebuah karya tari.
Sophiline yang juga dikenal dengan eksplorasinya yang sering mempertanyakan isu-isu budaya dalam menciptakan karya dalam pertunjukan kali ini ditantang untuk menciptakan karya tari dengan inspirasi berdasar pada epik Ramayana. Dan untuk menyuguhkan karya tarinya itu dia menggunakan enam penari wanita untuk memerankan Sinta, Rama, dan Raksasa.
Dilansir dari blog tanzconnexions, Sophiline Cheam Shapiro mengungkapkan bahwa karya yang dibuatnya adalah tarian klasik Kamboja dengan tambahan cita rasa kontemporer.
Sentuhan tradisional tari Kamboja dalam tarian Sinta Obong versi Sophiline dapat terlihat dari teknik menari yang diperagakan para penari dengan membuat lengkungan dengan jari jemari mereka sementara jempol tangan dibuat berdiri tegak.
Sementara unsur kontemporer dalam karya tari Sophiline Cheam Shapiro dapat terlihat dalam berbagai sisi termasuk kostum, posisi kepala Rama dan Sinta, serta gerak tubuh para Raksasa. Dalam kostum penari, Sophiline memilih menggunakan kostum tradisional namun menambahkan unsur kontemporer dalam warnanya.
Untuk posisi kepala Rama dan Sinta, Sophiline juga membuat teknik berayun yang tidak digunakan dalam jenis tarian Kamboja. Untuk para Raksasa, Sophiline mengecat wajah para penari dengan tinta merah menyala termasuk juga punggung tangan keempat penari. Gerak tubuh keempat penari ini juga dibuat merapat agar tercipta kesan Raksasa dan juga pose tubuh yang baru.
Selain melihat pose-pose tubuh yang unik penonton juga dipandu dengan narasi cerita Sinta Obong melalui pendekatan yang cenderung feminis dalam Bahasa Khmer yang diartikan dalam Bahasa Indonesia pada viewer di samping panggung.
Karya tari Sinta Obong dari Sophiline dalam pertunjukan itu menjadi karya pembuka sebelum dua koreografer lainnya dari Thailand dan Indonesia yaitu Pichet Klunchun dan Eko Supriyanto menampilkan karya mereka yang juga terilhami dari epic Ramayana.
Sophiline Cheam Shapiro is a Cambodian notable choreographer who likes to explore moral question through her dances. She was one of the choreographers from South East Asia that involved in the dance project entitled “Fire Fire Fire” by Goethe Institut.
Through ideas on her choreography she has infused the classical dance of Cambodia with new energy to reach global acknowledgement and experience. Lately, one of her choreographies was performed in the dance performance tour entitled “Fire Fire Fire”. Her piece became the opener of the show that was held in Phnom Penh, Bangkok, Jakarta, and Solo.
It was at February 2nd, 2013, when her piece performed for the last time in Solo at Teater Besar building, ISI Surakarta. Like the other pieces, by choreographer Eko Supriyanto and Pichet Klunchun, her piece adapted the story of Sita’s trial by fire from the epic of Ramayana.
In her new version of Sita’s trial by fire she used six women dancers. All of them wore the classical Cambodian dance’s costume. Four of them acted as the giants with their faces and hands were painted in red. Two of them acted as Rama and Sita.
As it was reported by tanzconnecxions, Sophiline’s choreography is a classical Cambodian dance with a contemporary sensibility.
The senses of classical Cambodian in her choreography could be seen from the dancing techniques. One of them was the stretched fingers and the straighten toes which was used almost in the entire performance. Beside the fingers techniques, the sculpture-like-pose was also a technique of traditional Cambodian dance.
While for the contemporary elements, audiences could notice it from the color of the costumes, the tilt of heads and hands of Rama and Sita, and also the tied-body-pose of giants that arranged by four dancers.
Beside the choreography, Sophiline also used translated-Khmer narration on her piece. That way the audiences were not only hypnotized with the dance but also with the story of Sita’s trial by fire and her rejection on Rama’s demands.








[…] seperti dua koreografer lainnya, Sophiline Cheam Shapiro dan Eko Supriyanto, Pichet Klunchun juga membuat karyanya dari epik yang sama namun dengan […]