Panas adalah sahabat bagi sebagian besar warga Desa Gadingan, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Pertama, panas matahari dimanfaatkan untuk mengeringkan jemuran irisan kerupuk karak mentah. Kedua, selepas matahari merampungkan tugasnya, panas penggorengan digunakan untuk memasak ribuan kerupuk karak. Ujungnya, karak-karak dari kampung di bantaran Sungai Bengawan Solo ini tersaji di toples-toples di warung atau di rumah warga di wilayah Solo Raya. Menemani santap beribu-ribu warga dari beberapa lintas generasi.
Gemuruh suara kompor gas yang menyala adalah bunyi hidup usaha produksi kerupuk karak di dapur tempat usaha Supriyadi, 42. Keringat adalah tanda kerja keras Supriyadi yang duduk di depan penggorengan jumbo di pojok utara dapur. Sementara tiga pekerja lain yang membantu menghitung karak hasil gorengannya juga tak kalah berkeringat.
Kondisi di dalam dapur berukuran 8 x 5 meter dengan dinding kayu itu memang cukup sesak dan panas. Terutama setiap kali Supriyadi memasukan karak mentah ke dalam minyak panas. Asap putih mengepul menyelimuti sebagian sisi ruangan dapur. Menambah sesak hidung yang tidak terbiasa. Di tambah lagi di atas, atas kanan dan kiri penggorengan digunakan sebagai “rak” tempat menyimpan beberapa nampan bambu berisi karak yang akan digoreng. Jadinya, suasana temaram hidup di dalam dapur itu di tengah hari sekalipun.
Suasana yang sama akan selalu ditemui di dapur-dapur penggorengan karak Gadingan, di luar dapur pemandangan umum lain juga menjadi ciri khas desa ini. Pemandangan di luar ruangan tak kalah riuh. Begitu memasuki perkampungan Desa Gadingan jemuran irisan karak akan menjadi pemandangan umum di seluruh penjuru desa. “Kalo disini pemandangannya ya karak yang dijemur Mas. Seminggu penuh. Biasanya kalau Minggu libur goreng tapi ga libur jemur,” ujar Supriyadi.
Suasana di dalam dan di luar dapur produksi karak memang telah menjadi ciri khas Desa Gadingan sejak tahun 1960-an. “Sekarang memang sudah banyak produsen karak. Kata orang tua saya dulu disini awalnya hanya ada dua pengrajin yang memproduksi karak,” terang Supriyadi.
Makanan Khas Solo Raya
Di tengah hari pada awal bulan Januari lalu kami diarahkan ke tempat usaha Supriyadi saat bertanya kepada seorang warga. Saat memasuki tempat usahanya tidak banyak yang bisa dikatakan Supriyadi, “Monggo. Silahkan saja kalau mau berkeliling.” Memang, setelah istirahat siang hingga sore hari Supriyadi dan beberapa pekerja di dapurnya akan sangat sibuk mengurusi kerupuk karak sebelum para pelanggannya datang mengambil. Pelanggan Supriyadi adalah 14 pedagang karak keliling dari berbagai kawasan di eks-Karesidenan Surakarta.
Di tempat produksi karak seperti milik Supriyadi, salah satu yang terbesar, dalam sehari mampu memproduksi kurang lebih 70 ribu keping karak. Jumlah sebanyak itu akan selalu habis diambil pedagang keliling setiap sore hari. “Kalau karak itu tidak bisa ditando (disimpan). Harus habis atau ga enak nanti,” terangnya.
Supriyadi adalah generasi kedua pengrajin karak di keluarganya. Selain dirinya, kedua kakaknya juga menjadi produsen karak dengan kisaran jumlah produksi yang kurang lebih sama. Mereka adalah generasi penerus dari orang tua mereka yang menjadi salah satu perintis industri karak Gadingan pada tahun 1950-an. Dengan kapasitas produksi itu rumah usaha milik keluarga Supriyadi memproduksi kurang lebih 210 ribu keping karak. Dengan jumlah itu dari satu tempat produksi, bayangkan saja berapa juta keping yang dihasilkan puluhan pengrajin karak Desa Gadingan dalam satu hari.
Seluruh karak Gadingan biasa diambil setiap sore oleh ratusan pedagang karak keliling. Dari tangan-tangan mereka karak Gadingan akan disebar keseluruh penjuru kawasan Solo Raya. “Saya jualan di Pasar Gawok (Kabupaten Sukoharjo) Mas. Setiap sore saya ambil karak disini biasanya ya 5000 biji,” kata Sutarmi, 55, salah seorang pelanggan Supriyadi.
Selain Sutarmi beberapa pedagang lainnya menjual karak mereka di kawasan pasar Kota Solo, sekitaran embarkasi haji (Kabupaten Boyolali), bahkan Kabupaten Sragen. Dari mereka karak-karak itu akan dipasok ke warung-warung makan atau ke rumah-rumah penduduk. “Kalau saya jualan di Pasar Gemblegan (Solo). Di sana nanti saya jual dalam bungkus tas plastik. Rata-rata pembelinya ya buat makan di rumah,” ujar pelanggan lainnya di tempat Supriyadi.
Kawasan Desa Mandiri
Sejak pertama kali dirintis oleh dua pengrajin pada tahun 1950-an kini produksi karak Desa Gadingan telah berkembang ke seluruh penjuru desa. Banyaknya pengrajin juga berimbas pada ekonomi dan tingkat kemandirian warga. Seperti Supriyadi sendiri dalam satu hari mampu meraup laba kotor hingga Rp 2 juta. Dengan keuntungan sebesar itu tentunya besaran perputaran angka yang digunakan Supriyadi jauh lebih besar.
Sebagian laba dari omset penjualan itu digunakan juga untuk mengupah pekerja dengan besaran Rp 200 ribu – Rp 400 ribu per minggu. Dengan upah itu berarti beberapa pekerja berpenghasilan jauh di atas UMK. Di tempat usaha milik Supriyadi misalnya, di sana terdapat tujuh pekerja yang membantunya. Kebanyakan dari pekerja itu adalah ibu-ibu tetangga sekitar rumah produksi. “Upah pekerja biasa saya bayarkan per minggu. Di luar itu sudah dapat makan juga. Di tempat lain bahkan juga mendapatkan tempat menginap (pekerja dari luar daerah),” terang Supriyadi.
Kebutuhan produksi tempat-tempat usaha karak juga mendatangkan kesempatan lain bagi warga desa. Kebutuhan produksi seminggu di tempat usaha yang besar membutuhkan kurang lebih 700 kilogram beras yang dipasok oleh beberapa warga di kawasan ini yang menjadi pedagang beras.
Sementara kebutuhan lain seperti minyak goreng, gas, kayu, bahkan wajan penggorengan juga dipenuhi oleh beberapa warga yang memanfaatkan keberadaan para produsen dengan membuka toko. “Beras saya beli dari toko saudara saya sendiri di dekat sini. Minyak juga sudah ada yang nyuplai disini. Bahkan wajan juga ada yang buat disini,” tutur Supriyadi.
Dengan kebutuhan perhari yang begitu besar di kampung kerupuk karak Gadingan tentu saja uang yang berputar di kawasan itu juga sangat besar. Dengan banyaknya warga yang terlibat dalam perputaran itu, baik sebagai produsen, pekerja dan penyedia kebutuhan produksi, maka keuntungan keberadaan tempat usaha kerupuk karak benar-benar dirasakan oleh sebagian besar warga desa.
Seiring dengan berkembangnya industri kerajinan karak kampung kerupuk karak Gadingan warga desa turut berkembang untuk semakin mandiri. Dari desa di bantaran Sungai Bengawan Solo itu lauk khas warga Solo Raya bertahan selama puluhan tahun. Dari kawasan di bantaran sungai itu juga kehidupan warga turut sejahtera bersama kerenyahan kerupuk karak.









[…] sebelah timur kawasan industri gamelan kantong industri kerajinan genting tanah liat dapat ditemui di Dusun Mertan atau juga Dusun Godekan. Ratusan kepala keluarga di kawasan ini […]