Kirab Apem Sewu Di Kampung Sewu Solo

Apem yang terbuat dari tepung beras adalah jenis makanan kecil yang sangat terkenal dalam budaya masyarakat Jawa. Dalam setiap tradisi atau ritual, sering kali masyarakat Jawa menyertakan apem sebagai sesaji atau pelengkap upacara. Bahkan dalam kegiatan yang lebih besar kita dapat melihat apem digunakan dalam beberapa tradisi seperti Yaa Qowiyyu di Klaten, Saparan Keong Mas di Boyolali, atau Wahyu Kliyu di Karanganyar.

Hal sama juga dapat ditemukan di Kota Solo yang juga merupakan pusat kebudayaan Jawa. Dalam setiap ritual atau adat tradisi kita masih akan sering menjumpai kue apem sebagai pelengkap upacara. Di kota dengan dua kerajaan yang masih hidup ini juga dikenal satu kawasan sebagai sentra penghasil apem yaitu kawasan Kampung Sewu.

Kampung Sewu adalah sebuah kawasan di Kota Solo yang berbatasan langsung dengan Sungai Bengawan Solo. Kawasan ini juga dikenal sebagai sentra industri penghasil makanan apem di Kota Solo. Dari dalam kawasan ini setiap tahun digelar sebuah festival rakyat yang sekaligus dimanfaatkan sebagai pengukuhan diri bahwa kawasan ini adalah kawasan penghasil makanan yang terbuat dari tepung beras itu.

Festival rakyat berupa kirab budaya ini sering disebut sebagai Kirab Apem Sewu. Di dalam festival itu masyarakat lokal tidak hanya mengirab seribu kue apem yang disusun menjadi gunungan saja tetapi juga menyajikan berbagai potensi seni dan budaya yang terdapat di kawasan Kampung Sewu, Kecamatan Jebres.

Kirab Apem Sewu yang sudah masuk dalam Kalender Kegiatan Budaya Pemerintah Kota Surakarta rutin digelar bersamaan dengan Festival Gethek Bengawan Solo. Kegiatan budaya ini sering jatuh pada bulan Dzulhijjah, kalender Islam, atau bulan Haji atau Besar, kalender Jawa.

Tradisi yang sudah lama berjalan di kawasan ini konon adalah amanah dari seorang ulama besar yang pernah menyebarkan agama Islam di sana. Ki Ageng Gribig adalah ulama yang dimaksud yang dikisahkan pernah berpesan untuk membuat 1000 apem dan dibagikan kepada warga masyarakat sebagai bentuk rasa syukur.

Acara kirab gunungan seribu apem sendiri hanya berlangsung selama satu hari. Gunungan seribu apem yang telah dipersiapkan akan dikirab dari titik nol di Lapangan Kampung Sewu mengitari area sekitar kampung yang kurang lebih berjarak 2 kilometer hingga berakhir di tempuran, pertemuan arus dua sungai, Sungai Bengawan Solo dan Kali Pepe di Kampung Beton.

Setelah mengelilingi jalur yang sudah ditentukan acara kirab gunungan apem akan diakhiri dengan doa bersama dan tentunya berebut apem. Prosesi perebutan gunungan apem inilah yang juga menjadi puncak kegiatan Kirab Apem Sewu Kampung Sewu.

Selain untuk mengangkat potensi seni dan budaya Kampung Sewu, kegiatan ini diharapkan mampu mengenalkan kawasan ini sebagai pusat industri kue apem sehingga dapat meningkatkan produksi dan pendapatan warga setempat.

Waktu penyelenggaraan kirab kue apem

Terakhir kali kirab apem digelar pada 11 November 2012 (25 Besar/Dzulhijjah). Memang secara rutin kegiatan ini digelar pada bulan Dzulhijjah namun juga secara rutin juga jatuh pada pertengahan bulan November.

Pada tahun ini bulan November masuk dalam bulan Suro atau Muharram bukan bulan Dzulhijjah. Namun dalam kalender kegiatan budaya, Kirab Apem Sewu 2013 direncanakan tetap akan digelar pada pertengahan bulan November yaitu pada Minggu, 10 November 2013 (6 Suro/Muharram)!

Berikut adalah informasi penting yang dapat digunakan, nomer telepon Kantor Kelurahan Sewu, Jebres, Solo, 0271 - 635445!

Selain tradisi kirab seribu kue apem di bulan November, Kota Solo masih menawarkan berbagai upacara adat dan tradisi yang tidak boleh dilewatkan. Temukan berbagai upacara adat tradisi itu pada tautan berikut ini!

Sponsored Links

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>