Dusun Kendal adalah bagian dari Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, yang terletak di bagian paling selatan dari Kabupaten Karanganyar. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Wonogiri yang berada di bagian selatan dan Kabupaten Sukoharjo di bagian barat. Sementara di bagian timur, wilayah ini berbatasan dengan Kecamatan Jatiyoso dan Kecamatan Jumapolo di bagian utara.
Wilayah yang berada di bagian barat daya kaki Gunung Lawu ini adalah wilayah seperti biasa pada umumnya di kaki gunung. Daerah yang berpotensi sebagai daerah pertanian. Karena itu, sebagian besar warga di desa ini bermata pencaharian sebagai petani.
Menyangkut soal pertanian, wilayah ini memiliki satu upacara adat yang telah berlangsung secara turun temurun yang konon telah berlangsung sejak 400 tahun. Wahyu Kliyu begitu nama dari upacara adat yang rutin dilaksanakan tiap bulan Suro oleh warga Dukuh Kendal.
Upacara adat Wahyu Kliyu adalah sebuah upacara yang diselenggarakan warga setempat sebagai wujud doa dan permohonan kepada Tuhan agar diberikan perlindungan dari berbagai kesusahan. Dan kesusahan para petani tentu saja berupa pagebluk atau paceklik.
Warga setempat tidak berani untuk tidak menggelar upacara adat ini karena mereka takut jika tidak menggelar upacara maka pagebluk atau paceklik akan menimpa mereka. Karena itu, setiap bulan Suro di hari ke 15 mereka menggelar upacara adat ini.
Salah satu upacara adat Karanganyar yang terkenal ini mirip dengan beberapa upacara adat lain di wilayah Surakarta. Kemiripan itu muncul dalam keu apem yang digunakan sebagai media dalam upacara. Berbeda dengan kegiatan lain di bulan Suro yang sering digelar saat malam 1 Suro, di wilayah ini mereka warga menggelar upacara adat pada tengah malam tanggal 15 Suro.
Upacara adat di bulan Suro ini sejatinya sudah dimulai sejak sore hari. Prosesi dimulai dengan membersihkan dengan mencuci atau jamasan pusaka berupa keris Kyai Jokosuro dan Kyai Singkir Angin. Pusaka-pusaka ini kemudian akan dibawa berkeliling desa atau dikirab.
Acara puncak Wahyu Kliyu Desa Jatipuro Karanganyar sendiri dimulai menjelang tengah malam. Biasa bertempat di Balai Desa atau rumah warga yang ditokohkan, warga akan berbondong-bondong berkumpul sembari membawa apem yang telah mereka persiapkan. Apem-apem itu dibawa dalam tumbu, wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
Hanya para lelaki atau kepala keluarga yang diperbolehkan membawa kue apem yang nantinya akan dikumpulkan dalam satu tempat itu. Masing-masing dari mereka wajib membawa 344 buah apem atau 344 potongan apem dalam satu tumbu. Tumbu-tumbu itu tidak boleh dibawa dengan satu tangan dan harus ditinggikan posisi membawanya.
Begitu ritual puncak dimulai, ratusan apem dalam ratusan tumbu itu akan dilempar ke tempat yang tadi dimaksud, tempat kotak di tengah ruangan yang dialasi daun pisang. Sembari melempar apem ke tengah para pria itu juga meneriakan, “Wahyu Kliyu, Wahyu Kliyu!”
Apa sebenarnya arti Wahyu Kliyu? Frase itu berasal dari Bahasa Arab yang biasa ditemukan dalam Ayat Kursi, Hayyul Qayyamu, yang berarti Wahai Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri.
Seperti juga yang berlangsung pada upacara-upacara adat lainnya, ribuan apem yang terkumpul dalam wadah kembali dibagikan kepada warga pada akhir acara. Tetapi sebelum itu, salah satu tokoh desa terlebih dahulu akan memanjatkan doa.
Upacara adat ini merupakan salah satu upacara tradisional Kabupaten Karanganyar. Masih banyak lagi upacara-upacara tradisional di wilayah kaki Gunung Lawu itu yang dapat disaksikan. Temukan upacara tradisional lainnya ditautan berikut ini atau juga lokasi wisata menarik Kabupaten Karanganyar ditautan ini.
Tanggal 15 Suro pada tahun 2013 akan jatuh pada Minggu, 9 November 2014!
Info nomer telepon Kantor Kecamatan Jatipuro, Karanganyar, 0271 - 495039!
Selain upacara di bulan Suro ini, Kabupaten Karangayar masih menyimpan banyak ritual dan juga tradisi lainnya yang wajib untuk disaksikan. Temukan berbagai jenis ritual tersebut pada tautan berikut ini!

[...] 34. Upacara Wahyu Kliyu, Jatipuro, Karanganyar [...]