Malam peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram, atau dalam budaya Jawa dikenal sebagai malam 1 Suro adalah salah satu hari yang paling ramai dan menjadi perhatian masyarakat di kawasan Jawa khususnya Solo Raya. Di kawasan Kota Solo sendiri, dalam memperingati pergantian tahun ini setidaknya terdapat tiga agenda rutin yang sudah dikenal publik. Kirab Malam Suro Keraton Surakarta, Kirab Pusaka Mangkunegaran, dan Kirab Pusaka Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) di Petilasan Keraton Pajang.
Kirab yang terakhir mungkin adalah kirab yang masih agak jarang dikenal oleh publik. Sementara dua kirab lainnya adalah ritual yang sangat terkenal di Kota Solo.
Petilasan Keraton Pajang terletak dipinggiran Kota Solo tepatnya di kawasan perkampungan Sonojiwan, Makamhaji, Kartosuro, Sukoharjo. Sejak tahun lalu, 2012, Keraton Kasultanan Pajang mulai mengenalkan kirab budaya berupa kirab pusaka Sultan Hadiwijaya yang sekaligus digelar untuk memperingati 1 Muharram atau 1 Suro.
Namun berbeda dengan kirab di Keraton Surakarta dan Mangkunegaran, kirab yang disebut sebagai Grebeg Suro Kasultanan Keraton Pajang atau Kirab Jaka Tingkir ini digelar pada 1 Suro malam. Sementara dalam rombongan kirab yang mengambil rute di kawasan yang masih berdekatan dengan petilasan, diusung 15 benda pusaka milik Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal sebagai Mas Karebet atau Jaka Tingkir.
Prosesi Grebeg Suro Kasultanan Keraton Pajang
Prosesi kirab pusaka dimulai pada jam 9 malam dengan garis awal adalah Petilasan Keraton Pajang. Peserta yang terdiri dari prajurit keraton dengan pakaian adat akan mengambil rute sejauh, kurang lebih, 4 km dengan rute petilasan – Tugu Lilin – Slamet Riyadi – Jalan Jaka Tingkir – kemudian kembali ke petilasan.
Rombongan peserta Grebeg Suro Kasultanan Keraton Pajang akan mengarak juga 15 buah pusaka milik Jaka Tingkir. Dari 15 pusaka tadi akan ada tombak dan juga keris. Seluruh pusaka yang dikirab terlebih dahulu sudah dibersihkan atau dijamasi oleh sesepuh.
Di sela-sela kirab yang sedang berjalan mengelilingi rute, di area petilasan keraton, tepatnya di Bale Agung Keraton Pajang, digelar prosesi tolak bala Dewi Sri. Prosesi unik tolak bala ini akan melibatkan seorang wanita yang menaiki tandu yang dihias sedemikian rupa. Dari atas tandu, sosok Dewi Sri akan menyebar udik-udik uang, kacang hijau, dan kedelai. Prosesi ini akan sangat meriah karena warga yang hadir akan berebut udik-udik uang yang disebar sosok Dewi Sri.
Tradisi yang juga dimanfaatkan untuk menjaga tradisi dan budaya Jawa ini diramaikan oleh berbagai institusi seni dan warga. Dalam Grebeg Suro Kasultanan Keraton Pajang tahun 2012 sejumlah padepokan ikut meramaikan kegiatan ini seperti Padepokan Gumelang, Tanjung Anom, Kyai Langsur, masyarakat Makamhaji dan juga Linggo Tasikmadu.
Waktu penyelenggaraan grebeg
Jika grebeg kembali digelar pada waktu yang sama dengan waktu penyelenggaraan terakhir maka tanggal 1 Suro pada tahun ini akan jatuh pada Jum’at, 24 Oktober 2014!
Info nomer penting Yayasan Kasultanan Keraton Pajang, Makamhaji, 0271 – 715318!
Selain upacara adat di Petilasan Keraton Pajang ini, masih terdapat dua ritual adat memperingati datangnya 1 Suro. Kirab 1 Suro di Keraton Surakarta dan Mangkunegaran. Selain ketiga ritual tadi, di kawasan Solo Raya juga masih terdapat beberapa ritual atau upacara peringatan menyambut 1 Suro. Temukan berbagai ritual dan upacara tersebut pada tautan berikut ini!

[...] 32. Kirab Malam Satu Suro, Keraton Surakarta, Mangkunegaran, dan Petilasan Kasultanan Keraton Pajang [...]